| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

Medanbisnisdaily.com – Tebing Tinggi. Di tengah sulitnya masyarakat berpenghasilan rendah mendapatkan hunian layak dengan biaya terjangkau, Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) di Kota Tebing Tinggi masih menjadi pilihan utama bagi warga kurang mampu. Namun, bangunan yang telah berusia sekitar 15 tahun itu kini mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan akibat termakan usia.
Rusunawa yang berada di Kelurahan Tebing Tinggi, Kecamatan Padang Hilir, Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara, menawarkan hunian dengan biaya sewa yang sangat murah. Setiap blok terdiri atas 100 unit tempat tinggal yang dilengkapi ruang tamu, kamar tidur, dan kamar mandi.
Penghuni di lantai lima hanya dikenakan biaya sewa Rp2.000 per hari, sedangkan penghuni lantai satu membayar Rp4.000 per hari. Dengan fasilitas yang tersedia, hunian tersebut bahkan kerap dianggap memiliki konsep menyerupai apartemen sederhana bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Namun, kondisi bangunan yang telah berdiri selama satu setengah dekade mulai mengalami kerusakan, terutama pada lantai empat dan lima. Sejumlah unit tidak lagi dapat dihuni akibat kerusakan pada fisik bangunan, pintu, hingga jaringan listrik yang terputus.
Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Perkimtan) Kota Tebing Tinggi, Viktor Agus Timbul Nainggolan, didampingi Kepala UPT Rusunawa, Andi Sinaga, membenarkan banyaknya unit yang kosong akibat kerusakan tersebut.
“Sekarang banyak yang kosong terutama lantai 4 dan 5 karena banyak yang rusak, terutama aliran listrik yang putus dan fisik bangunan mulai mengalami kerusakan,” ujarnya, Rabu (17/6/2026).
Menurut Viktor, Rusunawa yang berada di Jalan Syech Beringin membutuhkan rehabilitasi berat agar kembali layak dan nyaman dihuni. Kerusakan yang terjadi dinilai cukup signifikan sehingga memerlukan dukungan anggaran yang lebih besar.
“Kondisi bangunan sudah mulai tua hingga mengalami kerusakan. Karena itu perlu dilakukan rehab berat. Kami berharap ada bantuan dari kementerian untuk mendukung perbaikannya,” katanya.
Ia menjelaskan, perbaikan untuk kerusakan ringan masih dapat dilakukan menggunakan anggaran yang tersedia. Namun, untuk kerusakan berat, pemerintah daerah belum memiliki kemampuan pendanaan yang memadai.
“Kalau rusak ringan masih bisa kami perbaiki demi kenyamanan penghuni. Tapi untuk kerusakan berat belum dapat dilakukan karena keterbatasan biaya,” tambahnya.
Salah seorang penghuni, Heni, yang telah tinggal di Rusunawa selama 12 tahun, mengakui kondisi bangunan memang mengalami penurunan, terutama pada lantai tiga, empat, dan lima.
“Banyak yang sudah rusak, jadi orang malas tinggal di sana. Terutama lantai 4 dan 5, banyak unit yang kosong,” ujarnya.
Meski demikian, Heni mengaku tetap betah tinggal di Rusunawa karena biaya sewanya sangat terjangkau dan fasilitas yang tersedia cukup memadai. Selain itu, hubungan sosial antar penghuni maupun dengan pengelola terjalin dengan baik.
“Betah karena nyaman. Selain itu harga sewanya sangat murah. Kalau sewa rumah di luar, biayanya jauh lebih mahal,” tuturnya.

