| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

ADA hal yang menggelitik setiap kali saya pulang dari kerjaan. Kala bertemu dengan kerumunan anak-anak sebelum sampai ke rumah, biasanya saya akan berkata, "MBG!" Anak-anak itu spontan membalas, "Mas Bahlil Ganteng!" Lalu mereka akan bernyanyi dengan melanjutkan lirik itu: “Buah apa yang paling manis? BUAAAHLILLLL, tambah ganteng aja, my little bolu ketan.” Kami kemudian tertawa bersama-sama setelahnya.
Tampaknya anak-anak Indonesia sangat menikmati lagu ini. Banyak video di medsos yang saya saksikan menampilkan tayangan di mana anak-anak menyanyikan lagu, “MBG, Mas Bahlil Ganteng.” Biasanya orang tua, atau bahkan orang dewasa yang menyaksikannya akan tertawa geli mendengarkan nyanyian itu.
Adapun sejarah awal kemunculan lagu ini bermula dari TikTok @vokalist_netizen yang sering membuat lagu bergenre parodi menggunakan kecerdasan buatan (AI). Liriknya dibuat dari kumpulan komentar-komentar lucu dan nyeleneh warganet, lalu dipadukan menjadi satu lagu unik. Hasilnya, muncullah lagu MBG dengan lirik dan melodi yang sangat engage dengan daya ingat anak.
Sejauh ini, Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM RI tidak berkeberatan dengan munculnya lagu ini. Dia menanggapinya dengan gembira sebagai kreativitas netizen. Malahan, Bahlil sangat ingin bertemu dengan pencipta karya tersebut.
Sesuai dengan realias politik yang kita hadapi saat ini, munculnya lagu ini diartikan sebagian kalangan sebagai bentuk kritik halus terhadap pemerintah. Kala program Makan Bergizi Gratis (MBG) dianggap menguras begitu banyak uang negara, namun ternyata hanya memiliki sedikit multiplier effect (efek berganda) bagi pengusaha lokal. Itu sebabnya, alih-alih dilakukan kritik yang masif, maka cara halus dengan kritik menggunakan lagu dianggap potensial untuk menarik atensi pemerintah.
Apalagi setelah mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana dan dua mantan Wakil Kepala Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung ditangkap atas dugaan manipulasi SPPG untuk distribusi makanan, pengadaan barang fiktif/mark-up dan pelanggaran SOP tata kelola lembaga dan penjagaan kualitas makanan. Bisa dibayangkan bahwa praktik KKN ini terindikasi hanya akan menguntungkan segelintir pihak khususnya elite.
Sejalan dengan argumentasi di atas, ekonom Indonesia Ferry Latuhihin, di dalam berbagai komentarnya juga menyoroti program MBG sebagai wujud kegagalan negara di dalam memahami tugas utamanya.
Menurut pemikiran beliau, negara seharusnya tidak bertugas untuk memberikan makan masyarakat melainkan, bertugas untuk memberikan perlindungan kepada warga negara sehingga mereka dapat bertumbuh untuk mengembangkan dirinya sendiri.
Beliau juga banyak menyoroti kesalahpahaman pemerintah di dalam meningkatkan ekonomi nasional, yang notabene ditopang oleh pihak swasta dan masyarakat ekonomi menengah.
Kebijakan pemerintah yang memaksakan berdirinya Koperasi Merah Putih serta narasi penutupan sejumlah minimarket untuk mempercepat akselerasi Koperasi Merah Putih, serta adanya wacana pemotongan pendapatan mitra pengemudi (aplikator) Grab dari 20% menjadi 8% dan kebijakan ekspor satu pintu, membuat semakin kentalnya niat para investor untuk menarik diri dari Indonesia.
Padahal, pesatnya pertumbuhan ekonomi nasional sangat ditentukan oleh tingginya perlindungan terhadap masyarakat pada jenjang ekonomi menengah, termasuk di antaranya sektor swasta.
Selain akibat pengabaian di bidang ekonomi, kebutuhan masyarakat untuk didengarkan kian terasa, dan terus bertambah seiring waktu lantaran adanya dugaan dibungkamnya suara-suara kritis seperti yang dialami oleh sejumlah aktivis belakangan ini. Sebut saja seperti penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus dan intimidasi terhadap Direktur CELIOS, Bhima Yudhistira.
Sejumlah kreator konten dan aktivis, seperti Iqbal Damanik (Greenpeace), Sherly Anavita, DJ Donny, dan Virdian Aurellio juga mengaku merasakan pengalaman serupa usai mengkritik penanganan bencana di Sumatra.
Alih-alih berharap kepada DPR sebagai cerobong utama digaungkannya suara publik, nyatanya ekspektasi sebelumnya mulai luntur pasca diketahuinya sejumlah data dari BPS bahwa lebih 40% anggota DPR memilih untuk merahasiakan latar belakang pendidikannya, dan 63 orang di antaranya hanya lulusan SMA (Detik.com, 18 September 2025).
Bisa dibayangkan, bagaimana narasi penyeimbang yang akan keluar dari gedung parlemen ketika DPR memilih abai untuk menjalankan transparansi data terhadap publik.
Di tengah terpuruknya ekonomi nasional, terjadinya kelesuan demokrasi Indonesia saat publik tak berdaya untuk bersuara kritis dan anggota dewan tidak merepresentasikan keinginan masyarakat, maka dengan kreatifnya seruan kritis itu muncul.Lewat lagu MBG, Mas Bahlil Ganteng.
MBG diingat oleh banyak anak-anak Indonesia sebagai Mas Bahlil Ganteng, bukan dengan makanan atau minuman yang mereka santap. Boleh dikatakan bahwa kritik ini jauh lebih dalam, bukan muncul sebagai kritik sosial pada umumnya namun tumbuh subur sebagai kritik ideologis yang membumi sampai ke “akar rumput”.
Kita tertawa sambil merasa geli, membayangkan Zayn Malik, Bahlil dan bolu ketan. Program MBG perlahan menjadi imaji yang dijadikan sebagai lagu candaan untuk menghibur banyak masyarakat. Menurut hemat saya, seruan ini hendaknya dipandang oleh para pejabat publik sebagai sapaan halus dari masyarakat terhadap pemerintah.
Publik seakan sedang berkata, kami tahu keadaannya sulit saat ini, banyak program-program yang tampaknya belum menjawab kebutuhan kami, namun kami masih menganggap kalian (pemerintah) sebagai sahabat kami.
Melalui lagu ini, kami (publik) sedang bercanda, tidak mengambil semua problematika yang terjadi secara serius, namun (wahai pemerintah) belajarlah untuk melihat kami, berupayalah untuk mendengarkan seruan kami.
Begitulah saya menerjemahkan Lagu MBG, Mas Bahlil Ganteng ini. Publik seakan tersenyum, meski wajahnya kelihatan lelah sebagai sebuah bangsa.
Dia hanya meminta agar pemerintah melihat dan memperhatikan seruannya yang dipoles dengan tawa dan candaan menggelitik. Namun, jauh di dasar hatinya sebenarnya ia sedang terluka dan menangis.
Waktu menyelami pengertian ini, saya teringat dengan Dale Carnegie. Menurut pemikirannya di dalam konsep interpersonal, memang sangat sulit bagi seseorang untuk menerima kritikan. Cara terbaik adalah dengan membangun relasi yang tulus, menunjukkan empati dan menyampaikan gagasan mulia dan ideal untuk dicapai bersama-sama.
Menurut saya, Lagu MBG, Mas Bahlil Ganteng bukan hanya mengenai program MBG atau bahkan soal Bahlil saja. Melainkan sebagai wujud empati publik terhadap pemerintah saat ini, agar mulai mengubah arah kebijakannya. Besar harapan pemerintah dapat meresponsnya dengan benar.
BACA JUGA: Seruan dari Rakyat untuk Para Penguasa
Terakhir, mari kita nyanyikan lagu ini sebagai wujud perayaan, untuk tidak terlalu serius menghayati setiap kesulitan yang ada. Melainkan, bersama-sama menghadapi kesulitan ini dengan empati sebagai sebuah bangsa. Berjalan bersama dengan segenap pejabat publik, melangkah membenahi Indonesia.
Untuk memulai perayaan ini, biarkan saya putar musiknya, sambil kita nyanyikan: "MBG! Mas Bahlil Ganteng! Buah apa yang paling manis? BUAAAHLILLLL, tambah ganteng aja, my little bolu ketan”.
====
Penulis pemerhati masalah sosial/politik.
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com

