| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

Medanbisnisdaily.com-Tebing Tinggi. Dari lantai lima Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) di Jalan Syech Beringin, Kota Tebing Tinggi, Mariana memandang kehidupan dengan cara yang sederhana. Tidak ada kemewahan di unit berukuran sekitar 4x5 meter yang telah ditempatinya selama 13 tahun terakhir. Namun bagi perempuan keturunan Tionghoa itu, tempat tersebut telah menjadi rumah yang memberinya rasa aman dan ketenangan.
Sebagai janda yang hidup seorang diri dengan pekerjaan serabutan dan penghasilan yang tidak menentu, Mariana mengaku keberadaan Rusunawa sangat membantunya bertahan menjalani kehidupan sehari-hari.
Biaya sewa yang hanya Rp 2.000 per hari menjadi alasan utama dirinya memilih tetap tinggal di sana hingga lebih dari satu dekade.
“Terbantu sekali karena harga sewa cuma Rp 2.000 per hari, sehingga saya betah tinggal sampai 13 tahun,” ujar Mariana saat ditemui, Kamis (18/6/2026).
Rusunawa bersubsidi milik pemerintah itu memang diperuntukkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Dengan tarif yang sangat terjangkau, para penghuni mendapatkan unit hunian yang dilengkapi ruang tidur, ruang tamu, kamar mandi, serta fasilitas air bersih, listrik, layanan kebersihan, dan pengamanan lingkungan.
Bagi Mariana, biaya hidup yang ringan menjadi nilai utama. Setiap bulan, ia hanya mengeluarkan sekitar Rp 110 ribu untuk sewa yang sudah termasuk air dan listrik.
“Di sini sebulan paling sekitar Rp 110 ribu sudah termasuk air dan listrik. Kalau tinggal di kos-kosan bisa sampai Rp 500 ribu per bulan,” katanya.
Namun bukan hanya soal biaya murah yang membuat Mariana bertahan. Selama tinggal di Rusunawa, ia merasakan lingkungan yang aman dan hubungan sosial yang hangat antarpenghuni.
Statusnya sebagai warga keturunan Tionghoa tidak pernah menjadi penghalang untuk berbaur dengan warga lainnya. Ia mengaku diterima dengan baik dan hidup berdampingan secara harmonis dengan para tetangga.
“Yang penting kita bisa beradaptasi dengan tetangga. Meski saya warga keturunan, saya merasa diterima dengan baik,” ungkapnya.
Menurut Mariana, dari ratusan penghuni Rusunawa Tebing Tinggi, hanya ada dua warga keturunan Tionghoa yang tinggal di kawasan tersebut. Kendati demikian, ia tidak pernah merasakan perlakuan berbeda maupun pengucilan.
“Cuma ada dua warga keturunan Tionghoa yang tinggal di sini. Tidak ada perbedaan, hubungan kami dengan penghuni lainnya tetap baik dan saling menghargai,” tuturnya.
Bangunan Rusunawa berlantai lima itu kini menjadi saksi perjalanan hidup Mariana. Di tengah keterbatasan ekonomi, ia menemukan sesuatu yang tak kalah penting dari sekadar tempat berteduh, yakni rasa nyaman dan kebersamaan.
Kisah Mariana menjadi potret bagaimana program hunian bersubsidi mampu menghadirkan harapan bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Dengan biaya yang sangat terjangkau, Rusunawa Tebing Tinggi tidak hanya menyediakan tempat tinggal layak, tetapi juga ruang bagi para penghuninya untuk menjalani hidup dengan lebih tenang dan bermartabat.

