| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

Medanbisnisdaily.com-Medan. Hari kedua Re-Posisi Zikir Sungai Deli di Sanggar Anak Sungai Deli (SASUDE), Jalan Brigjen Katamso, Gang Kesatria, Medan, Sabtu (20/6/2026), berlangsung meriah dengan beragam agenda seni, budaya, dan edukasi yang melibatkan masyarakat.
Kegiatan diawali dengan peluncuran buku Gado-Gado Hafiz Taadi: Jejak Kesenian 43 Tahun. Buku tersebut merekam perjalanan berkesenian Hafiz Taadi selama lebih dari empat dekade, mulai dari kumpulan tulisan, dokumentasi pertunjukan, hingga berbagai aktivitas kebudayaan yang pernah dijalaninya.
Hafiz Taadi mengatakan, buku tersebut diterbitkan tidak hanya sebagai dokumentasi perjalanan pribadi, tetapi juga sebagai sarana berbagi pengalaman kepada generasi muda yang ingin menekuni dunia seni.
"Pengalaman yang tertulis di dalam buku ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi generasi muda untuk berkesenian. Menjadi seniman bukan hanya soal karya, tetapi juga tentang membangun karakter, cara berpikir, dan jati diri," ujarnya.
Selain peluncuran buku, kegiatan juga diisi dengan diskusi budaya yang menghadirkan Sultan Deli XIV, Tuanku Sultan Mahmud Lamanjiji Perkasa Alam, dan Founder Sanggar Anak Sungai Deli (SASUDE), Lukman Hakim Siagian.
Dalam diskusi tersebut, Sultan Deli menegaskan pentingnya Sungai Deli sebagai bagian dari sejarah dan peradaban masyarakat Medan. Ia mengajak masyarakat untuk menjaga lingkungan sekaligus melestarikan nilai-nilai budaya yang tumbuh bersama sungai.
"Sungai Deli tidak bisa dipisahkan dari sejarah. Dulu sungai ini dijaga dengan baik oleh para leluhur sehingga lingkungan tetap terpelihara. Semangat itu perlu kita hidupkan kembali," katanya.
Sementara itu, Lukman Hakim Siagian menjelaskan bahwa selama sembilan tahun terakhir SASUDE terus mengembangkan berbagai kegiatan seni dan edukasi di kawasan Sungai Deli sebagai upaya membangun kesadaran lingkungan masyarakat.
Menurutnya, sungai seharusnya tidak dipandang sebagai ruang belakang yang terabaikan, melainkan ruang bersama yang dapat dimanfaatkan untuk aktivitas positif.
"Kami ingin menunjukkan bahwa sungai masih bisa menjadi ruang kreatif dan edukatif. Karena itu, kami mengajak masyarakat untuk semakin peduli terhadap keberlangsungan Sungai Deli," ujarnya.
Puncak acara berlangsung pada malam hari melalui pertunjukan teater kontemporer berjudul Ibu Air Mata Sungai yang dipentaskan di atas panggung terapung di Sungai Deli. Pertunjukan yang melibatkan belasan pemain tersebut mengangkat tema hubungan manusia dengan alam dan berbagai persoalan lingkungan yang dihadapi sungai saat ini.
Ratusan warga tampak memadati kawasan pertunjukan sejak sore hingga malam hari. Masyarakat dari berbagai kalangan menikmati rangkaian acara yang memadukan seni, budaya, dan pesan pelestarian lingkungan.
Salah seorang warga, Yusuf, mengaku antusias dengan kegiatan tersebut karena jarang ada pertunjukan seni yang digelar di kawasan bantaran Sungai Deli.
"Kegiatan seperti ini membuat warga bisa berkumpul dan menikmati pertunjukan seni sekaligus mengingat pentingnya menjaga Sungai Deli," katanya.
Kegiatan Re-Posisi Zikir Sungai Deli yang didukung Dana Indonesiana itu tidak hanya menjadi ruang ekspresi seni, tetapi juga wadah refleksi budaya dan ajakan bersama untuk menjaga Sungai Deli sebagai bagian penting dari sejarah, lingkungan, dan kehidupan masyarakat Kota Medan.

