| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

Medanbisnisdaily.com-Medan. Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, dr. Sofyan Tan, mengajak di Kota Medan untuk dapat memanfaatkan limbah plastik menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Menurutnya, dengan kreativitas dan ketekunan, limbah plastik dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan warga.
Hal itu dikatakan Sofyan Tan saat membuka Peningkatan Kapasitas Pengguna Riset dan Inovasi untuk Masyarakat melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Pemanfaatan Limbah Plastik di Kota Medan, Senin (22/6/2026) di Medan. Kegiatan tersebut menghadirkan Perekayasa Ahli Muda BRIN, Riana Yenni Hartana Sinaga ST MAgr.
Sofyan Tan mengatakan limbah atau yang sering dikatakan sampah, apabila diolah dapat menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi tinggi. Limbah tersebut terbagi ke dalam dua jenis, yakni sampah organik yang berasal dari sisa makhluk hidup. Limbah jenis ini bersifat mudah membusuk dan dapat terurai secara alami oleh mikroorganisme atau bakteri pengurai. Sampah jenis ini bisa diolah, misalnya menjadi pupuk.
Kedua, limbah anorganik. Sampah jenis ini sangat sulit atau bahkan tidak bisa terurai. "Contohnya, plastik. Butuh waktu lebih dari 100 tahun untuk terurai. Bahkan sampah plastik dapat menimbulkan penyakit kanker atau kemandulan," ujarnya.
Namun meskipun demikian, jika diolah dengan baik, sampah plastik dapat menjadi produk bernilai ekonomi tinggi, yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan warga.
Sofyan Tan mengatakan, banyak cara yang dapat digunakan untuk merubah plastik dari sekadar sampah menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis. Kuncinya adalah mau belajar, berkreasi serta berinovasi.
Hal ini telah dibuktikan oleh salah seorang tim relawan Sofyan Tan yang sukses mengolah limbah plastik dan mampu menyekolahkan anaknya.
Bahkan saat dia menonton di kanal YouTube, Sofyan menemukan fakta jika limbah plastik dapat diolah menjadi banyak hal. Seperti batako yang berwarna-warni, tas dan sebagainya. "Produk itu dijual dengan harga mahal. Ada yang merancang sedemikian rupa menjadi patung. Ya. Jadi ini tergantung kreasi daripada orang tersebut. Dan itu punya nilai jual yang jauh lebih tinggi" tuturnya.
Sofyan mengatakan, dirinya termasuk orang yang mau membeli souvernir dari bahan daur ulang. "Kalau dia bilang daur ulang, saya beli. Walaupun lebih mahal, enggak apa-apa. Tapi bagi saya itu adalah menghargai karena memberikan manfaat peningkatan ekonomi, sekaligus penyelamatan lingkungan. Ini yang yang yang menurut saya sangat menarik. Bukan itu saja, kalau di Jogja itu banyak sekali menggunakan limbah-limbah plastik itu untuk bikin tas. Jadi, memiliki harga jual yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan yang lain. Apalagi ada sertifikatnya atau apa pengakuan secara internasional. Cara kerjanya tidak menggunakan pekerja anak-anak, menggunakan pekerja ibu-ibu yang meningkatkan ketahanan rumah tangganya dan sebagainya. Dan itu sangat menarik untuk menjadi menambah nilai tambah tersebut," tegasnya.
Menurutnya, pendekatan tersebut dapat menjadi contoh bagaimana pengelolaan sampah tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga menciptakan peluang usaha dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Sementara Perekayasa Ahli Muda BRIN, Riana Yenni Hartana Sinaga ST MAgr, mengatakan bahwa volume sampah di Indonesia, termasuk di Kota Medan, terus bertambah setiap tahunnya.
Data yang diperoleh dari Kementerian Lingkungan Hidup menyebutkan bahwa timbulan sampah nasional meningkat dari sekitar 67 juta ton per tahun pada periode 2019–2021 menjadi rata-rata 70,6 hingga 71 juta ton per tahun pada periode 2024–2026.
Begitu juga dengan komposisi sampah plastik yang meningkat dari 14% pada periode 2019–2021 menjadi 20% pada periode 2024-2026. Hal ini menunjukkan jika persoalan sampah plastik berada pada level yang masih mengkhawatirkan.
"Di Kota Medan sendiri, timbulan sampah yang dihasilkan mencapai 1.500-2.000 ton per hari dan sekitar 20 persen di antaranya adalah sampah plastik. Angka ini telah mendekati kapasitas pengelolaan yang tersedia sehingga memerlukan keterlibatan aktif masyarakat dalam upaya pengurangan dan pengolahan sampah. Jangan sampai kapasitas pengelolaan yang ada tidak mampu menampung timbulan sampah sehingga menimbulkan pencemaran lingkungan yang lebih besar,” ujar Riana.
Riana mengatakan bahwa kegiatan bimbingan teknis yang dilaksanakan BRIN tidak hanya mengajarkan cara mengolah limbah plastik menjadi produk bernilai ekonomi, tetapi juga bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap dampak sampah terhadap lingkungan dan kesehatan.
“Kita perlu memahami latar belakang persoalan sampah, mulai dari jumlah timbulannya hingga dampak yang ditimbulkan. Dengan begitu, masyarakat akan lebih peduli dan terdorong untuk mulai mengelola sampah dari lingkungan tempat tinggal masing-masing,” ujarnya.

