| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

DI TENGAH pertumbuhan gedung komersial, pusat perbelanjaan, dan jaringan jalan yang semakin padat, Kota Medan masih memiliki sebuah ruang yang menyimpan lapisan ingatan panjang: Kesawan. Kawasan di sekitar Jalan Ahmad Yani ini bukan sekadar deretan bangunan tua yang menarik dijadikan latar fotografi. Kesawan merupakan arsip terbuka yang memperlihatkan proses lahirnya Medan sebagai kota perdagangan, kota perkebunan, sekaligus kota perjumpaan berbagai kebudayaan.
Masalahnya, kota modern kerap memperlakukan warisan sejarah sebagai benda mati. Bangunan lama dipertahankan fasadnya, diterangi lampu, lalu dipromosikan sebagai destinasi wisata.
Namun, kehidupan sosial, memori masyarakat, pola perdagangan, dan identitas budaya yang membentuk kawasan itu justru perlahan menghilang.
Karena itu, masa depan Kesawan tidak cukup dibicarakan melalui proyek pengecatan trotoar atau penataan lampu jalan. Kesawan harus ditempatkan sebagai pusat pembentukan Medan sebagai kota pusaka yang hidup, produktif, dan inklusif.
Ruang Lahirnya Kota Modern
Sejarah Kesawan berkaitan erat dengan pertumbuhan Medan sejak akhir abad ke-19. Perkembangan perkebunan tembakau Deli mendorong kedatangan perusahaan-perusahaan asing, pedagang, buruh, pejabat kolonial, serta para perantau dari berbagai wilayah.
Kawasan yang semula berada di sekitar permukiman Melayu kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan, perbankan, pemerintahan, dan hiburan.
Sejumlah bangunan yang masih berdiri di kawasan Kesawan menjadi penanda perubahan tersebut. Rumah Tjong A Fie, Gedung London Sumatra, Restoran Tip Top, gedung perbankan lama, kantor pos, dan berbagai rumah toko memperlihatkan hubungan antara aktivitas ekonomi dan pembentukan ruang perkotaan.
Pemerintah Kota Medan sendiri menyebut Kesawan pada masa kolonial sebagai salah satu pusat perdagangan, pemerintahan, dan hiburan kota. Namun, sejarah Kesawan tidak boleh hanya dibaca sebagai sejarah kolonial.
Kota Medan lahir dari perjumpaan yang kompleks antara kekuasaan Kesultanan Deli, kapital perkebunan Eropa, jaringan pedagang Tionghoa, pekerja dari Jawa dan India, serta berbagai komunitas dari pedalaman Sumatera Utara.
Sejarawan Anthony Reid melihat kota-kota perdagangan di Asia Tenggara sebagai ruang kosmopolitan yang dibentuk oleh mobilitas manusia dan pertukaran komoditas (Reid, 1988).
Dalam konteks itu, Kesawan dapat dipahami sebagai simpul tempat modal global bertemu dengan tenaga kerja, budaya, dan struktur kekuasaan lokal. Rumah toko, rumah kongsi, kantor perusahaan, tempat makan, dan ruang pertemuan bukan sekadar elemen arsitektur.
Semua itu menjadi bukti bahwa sejarah kota dibangun oleh hubungan sosial yang berlapis. Kesawan, dengan demikian, merekam sejarah resmi maupun sejarah sehari-hari masyarakat Medan.
Antropolog Yi-Fu Tuan menjelaskan bahwa ruang berubah menjadi tempat ketika manusia memberikan pengalaman, emosi, dan makna kepadanya (Tuan, 1977). Kesawan menjadi bermakna bukan hanya karena usia bangunannya, melainkan karena kawasan itu menyimpan pengalaman kolektif masyarakat.
Bagi generasi tua, Kesawan mungkin menghadirkan ingatan tentang pusat perdagangan, toko keluarga, bioskop, restoran, dan jalan utama kota. Bagi generasi muda, Kesawan mulai dikenal sebagai ruang wisata, kuliner, kegiatan komunitas, dan fotografi. Pemerintah Kota Medan juga mencatat bahwa kawasan ini kini menjadi tempat rekreasi, berkumpul, dan bernostalgia bagi masyarakat.
Perbedaan pengalaman tersebut menunjukkan bahwa warisan kota selalu memiliki makna yang berubah. Kevin Lynch menyatakan bahwa identitas kota dibangun melalui elemen-elemen yang mudah dikenali dan diingat oleh penduduknya (Lynch, 1960).
Jalan, bangunan penanda, simpang, kawasan, dan ruang publik membentuk citra mental masyarakat terhadap kotanya. Dalam kerangka Lynch, Kesawan merupakan salah satu penanda terkuat identitas Medan. Kehilangan karakter Kesawan berarti kehilangan salah satu rujukan penting yang membuat Medan berbeda dari kota-kota lain.
Sayangnya, pembangunan kota sering bergerak dengan logika penghapusan. Bangunan dianggap bernilai selama mampu memberikan keuntungan ekonomi langsung. Ketika nilainya dianggap menurun, pembongkaran atau perubahan fungsi menjadi pilihan yang paling mudah.
Padahal, sebuah kota tanpa ingatan hanya akan menjadi kumpulan bangunan yang dapat ditemukan di mana saja. Mal, apartemen, hotel, dan jalan layang dapat dibangun ulang. Namun, lapisan sejarah yang terbentuk selama lebih dari satu abad tidak dapat diciptakan secara instan.
Revitalisasi Kesawan patut diapresiasi sebagai upaya mengembalikan perhatian publik terhadap pusat kota lama. Pemerintah telah melakukan penataan pedestrian, penerangan, ruang publik, dan pengembangan kegiatan wisata.
Badan Pengelola Kawasan Kota Lama Kesawan juga pernah dibentuk dengan melibatkan unsur pemerintah, swasta, dan masyarakat. Akan tetapi, revitalisasi kawasan pusaka memiliki risiko besar apabila hanya berorientasi pada keindahan visual. Jalan yang rapi dan lampu yang menarik belum tentu menandakan keberhasilan pelestarian.
Laurajane Smith mengingatkan bahwa warisan budaya bukan semata-mata benda atau situs, melainkan proses sosial dalam memberikan makna terhadap masa lalu (Smith, 2006). Artinya, pelestarian Kesawan harus melibatkan masyarakat yang bekerja, tinggal, berdagang, dan memiliki keterikatan sejarah dengan kawasan tersebut.
Studi mengenai partisipasi masyarakat dalam pelestarian Kesawan menemukan bahwa pengawasan pemerintah dan lembaga terkait belum berjalan secara menyeluruh.
Penelitian tersebut juga menunjukkan adanya respons positif masyarakat terhadap aktivitas wisata. Namun, partisipasi lokal tetap perlu ditempatkan sebagai bagian utama pengelolaan kawasan.
Tanpa pelibatan masyarakat, revitalisasi mudah berubah menjadi komersialisasi. Harga sewa meningkat, pedagang kecil tersingkir, fungsi bangunan berubah, dan kawasan hanya ramai ketika ada festival. Kesawan mungkin tampak hidup pada malam tertentu, tetapi kehilangan kehidupan sosialnya pada hari-hari biasa.
Henri Lefebvre menyebut kota sebagai ruang yang diproduksi melalui hubungan ekonomi, politik, dan sosial (Lefebvre, 1991). Karena itu, ruang kota tidak pernah netral. Pertanyaan pentingnya adalah: untuk siapa Kesawan direvitalisasi? Apakah untuk masyarakat Medan, pedagang lokal, komunitas sejarah, dan pejalan kaki, atau terutama untuk investasi besar dan konsumsi wisata?
Merawat Ekosistem Budaya
Membangun Kesawan sebagai jantung kota pusaka membutuhkan perubahan paradigma. Pelestarian tidak boleh hanya berfokus pada bangunan individual, tetapi juga pada ekosistem kawasan.
Pertama, Pemerintah Kota Medan perlu menyusun panduan desain kawasan yang tegas. Perubahan fasad, papan reklame, warna bangunan, penambahan struktur, dan penggunaan ruang jalan harus mengikuti karakter historis Kesawan. Aturan tersebut tidak dimaksudkan untuk membekukan kota, tetapi untuk memastikan perubahan tidak menghancurkan identitas kawasan.
Kedua, bangunan pusaka harus digunakan secara adaptif. Bangunan tua dapat menjadi galeri, perpustakaan kota, pusat arsip, ruang pertunjukan, tempat usaha kreatif, museum perdagangan, atau pusat kuliner lokal. Prinsipnya, fungsi baru harus memungkinkan bangunan tetap digunakan tanpa menghilangkan struktur dan makna historisnya.
Jane Jacobs menekankan bahwa kehidupan kota tumbuh dari keberagaman fungsi, aktivitas pejalan kaki, dan interaksi sehari-hari (Jacobs, 1961). Kesawan akan lebih berkelanjutan apabila memiliki aktivitas sepanjang hari, bukan hanya keramaian wisata pada malam atau akhir pekan.
Ketiga, narasi sejarah Kesawan harus diperluas. Sejarah kawasan tidak boleh hanya berhenti pada cerita tentang bangunan kolonial dan pengusaha besar. Kisah buruh perkebunan, pedagang kecil, komunitas Melayu, Tionghoa, India, Jawa, Mandailing, Karo, dan kelompok lain juga harus dihadirkan.
Di sinilah pendekatan antropologi menjadi penting. Kebudayaan kota tidak selalu tersimpan dalam monumen. Ia hidup dalam bahasa sehari-hari, kuliner, jaringan keluarga, ritual, musik, bentuk usaha, dan kebiasaan masyarakat. Kesawan harus menjadi ruang yang menceritakan pluralitas Medan, bukan sekadar menampilkan nostalgia kolonial.
Keempat, pengelolaan ekonomi kawasan harus memberikan ruang bagi usaha lokal. Revitalisasi perlu menyediakan skema sewa terjangkau, insentif pemeliharaan bangunan, dukungan bagi usaha keluarga, serta kurasi kegiatan yang memprioritaskan produk dan kebudayaan Medan.
Penelitian tentang pengembangan Kesawan sebagai wisata pusaka menunjukkan bahwa kawasan ini memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata budaya. Namun, pengembangan tersebut membutuhkan pengelolaan atraksi, aksesibilitas, fasilitas, dan keterlibatan masyarakat secara berkelanjutan.
Medan sering disebut sebagai kota multikultural. Akan tetapi, multikulturalisme tidak cukup dirayakan melalui slogan atau festival tahunan. Ia harus memiliki ruang tempat masyarakat dapat mengenali sejarah perjumpaan mereka. Kesawan dapat menjadi laboratorium multikulturalisme kota.
Jalur wisata sejarah dapat menghubungkan rumah tokoh, rumah ibadah, gedung perdagangan, restoran lama, pasar, dan ruang publik. Informasi sejarah perlu disajikan dalam bahasa Indonesia, Inggris, Melayu, aksara Tionghoa, atau Tamil pada lokasi-lokasi yang relevan. Teknologi digital dapat digunakan untuk menghadirkan arsip foto, peta lama, cerita lisan, dan rekonstruksi sejarah.
Sekolah dan perguruan tinggi di Medan juga perlu dilibatkan. Pelajar tidak hanya diajak mengunjungi bangunan tua, tetapi juga melakukan penelitian sejarah lisan, pemetaan sosial, dokumentasi arsitektur, dan wawancara dengan pemilik usaha lama.
Dengan cara itu, Kesawan bukan hanya tempat melihat masa lalu, melainkan ruang pendidikan kewargaan. Generasi muda belajar bahwa kota mereka dibangun oleh kerja dan perjumpaan banyak kelompok.
BACA JUGA: Konektivitas Internasional Medan dan Peluang Ekonomi Sumatra
Masa depan kota tidak selalu berarti meninggalkan masa lalu. Kota yang maju justru mampu mengolah sejarah sebagai sumber pengetahuan, identitas, dan ekonomi kreatif.
Kesawan dapat menjadi pusat kebangkitan kota lama Medan apabila dikelola melalui kerja sama pemerintah, pemilik bangunan, akademisi, komunitas, pedagang, dan masyarakat.
Namun, ukuran keberhasilannya tidak boleh hanya berupa jumlah wisatawan, lampu hias, atau unggahan media sosial. Keberhasilan harus dilihat dari terawatnya bangunan, bertahannya usaha lokal, luasnya ruang pejalan kaki, meningkatnya pengetahuan sejarah masyarakat, serta tumbuhnya rasa memiliki terhadap kawasan.
Kesawan tidak membutuhkan romantisme berlebihan. Ia membutuhkan tata kelola yang konsisten dan keberanian untuk menempatkan warisan budaya sebagai kepentingan publik. Ketika sebuah kota merawat kawasan pusakanya, sesungguhnya kota itu sedang menjaga hubungan antargenerasi.
Di Kesawan, masa lalu, masa kini, dan masa depan Medan dapat bertemu. Jika Kesawan hanya dijadikan dekorasi wisata, Medan akan memperoleh panggung yang indah tetapi kehilangan cerita.
Sebaliknya, jika Kesawan diperlakukan sebagai ruang hidup bersama, kawasan tersebut dapat menjadi jantung kota pusaka yang menghidupkan kembali ingatan, ekonomi lokal, dan identitas multikultural Medan.
====
Penulis Analis, Peneliti, dan Kandidat Doktor Ilmu Sejarah Universitas Indonesia
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email, disertai dengan lampiran KARTU IDENTITAS (KTP/SIM/DLL), FOTO (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), DATA DIRI SINGKAT (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 5.500-6.500 karakter. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Tidak ada korespondensi terkait layak atau tidaknya tulisan Anda diterbitkan. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com

