| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

Medanbisnisdaily.com-Medan. Nama Mohammad Zaim dalam dua tahun ini menjadi pembicaraan publik berkat bukunya yang berjudul "Secangkir Kopi dan Sepotong Ketupat" laris manis di Indonesia. Buku yang diterbitkan penerbit Mizan Desember 2017 lalu ini, berkisah tentang pengalaman spiritual Zaim mencari ketenangan dan kedamaian batin. Buku dengan sampul coklat itu diberi sub judul, "Tentang Perjalananku dan Islam yang Sempat Kuragukan"
"Saya lahir dari keluarga NU di Kediri. Sejak kecil saya merasa gelisah dan kerap bertanya tentang Tuhan kepada ibu saya. Ibu saya kerap kesulitan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya," katanya saat menjadi pembicara dalam seminar "Bersama dalam Damai" yang digelar sekolah Nanyang Zhi Hui di gedung olahraga selah itu, Jalan Abdullah Lubis No 15, Medan, Jumat (1/2/2019).
Dikisahkan Zaim, untuk menenangkan pikiran dan kegalauannya, ia pun mencoba mendalami meditasi seperti yang dilakukan umat Buddha. "Langkah awal saya mendatangi sebuah Klenteng dan menanyakan kepada pengurus Klenteng, apa ada biksu di sana. Pengurus Klenteng menjawab bahwa di Klenteng tidak ada biksu, yang ada dewa-dewa," kisahnya.
Pergumulan Zaim dengan dunia meditasi berlanjut ketika ia menemukan sebuah koran yang menginformasikan aktivitas meditasi vipassana. Ia pun mengikuti meditasi itu, dan seketika menemukan ketenangan. Tapi perasaan itu tidak lama. Setelah selesai meditasi, jiwanya kembali kacau, aku Zaim.
Seiring itu keyakinannya terhadap Tuhan semakin tipis. Bahkan Zaim mengaku sempat menjadi seorang atheis. Namun bukannya menemukan ketenangan dan kedamaian, justru hidupnya semakin tak karuan.
"Sewaktu belum menjadi atheis, kalau perasaanku kacau, aku masih bisa sholat. Tapi setelah atheis tidak, tidak tahu menenangkan diri dengan apa. Begitu juga meditasi. Selesai meditasi, rasa damai itu juga ikut hilang," ujarnya.
Sejak itu, aku Zaim, ia melanjutkan pencariannya dengan belajar dari banyak guru meditasi. Ia berkunjung dari satu Klenteng ke Klenteng. Dari satu Vihara ke Vihara lainnya. Mulai dari Dhammadipa Arama Malang ia belajar dari Bhante Khantidaro. Bahkan ia pernah berjalan kaki dari Jakarta menuju Candi Borobudur selama 22 hari.
Ia menempuh perjalanan 600 km, tanpa membawa uang dan alat komunikasi. Ia hanya membawa sepotong sarung. Kisahnya itu juga ia tuliskan di dalam bukunya itu. Antara lain ia pernah ditolong oleh sekelompok PSK yang memberinya makan. Ia juga ditolong seorang tua miskin yang mengaku bermimpi untuk menolong Zaim.
Pencarian demi pencarian terus dilakukan pria kelahiran Kediri 11 Oktober 1983 ini. Ia kemudian berguru kepada Bhante Uttamo di Blitar. Dari Bhante Uttamo ia berguru kepada Bhante Tithnnyano di Kalimantan. Ia juga belajar agama Buddha di Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Nalanda. Tapi semua itu diakui Zaim belum cukup menenangkan jiwanya.
Barulah setelah ia bertemu Master Zen Thich NNat Hanh yang berkunjung ke Indonesia pada 2010 dan mengikuti ajaran meditasinya ia pun merasa seperti menemukan makna hidupnya. Ia kemudian bergabung ke Plum Village Perancis, sebuah komunitas "pertapa". Di komunitas itu ia mendalami meditasi selama 5 tahun. Di komunitas itu ia mendapat nama baru Dai Dinh yang artinya Mahasamadhi, yang berarti orang yang khusuk meditasi.
Kini Zaim pun menjadi salah seorang pembimbing meditasi Buddhis yang kerap diudang ke berbagai belahan dunia. Februari ini ia akan berangkat ke Jerman dan menetap di sana selama 1 tahun. "Meditasi itu membuat jiwa kita tenang dan damai. Tetapi energi ketenangan dan kedamaian seperti saat meditasi itu, perlu dipertahankan dalam kehidupan sehari-hari," katanya.

