| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

Medambisnisdaily.com - Belawan. Dea Aisyah penderita hydrosefalus, terus menangis di ayunan kain yang tergantung di rumahnya. Rasa sakit akibat pembesaran di bagian kepala membuatnya terus gelisah dan sulit tidur.
Dea Aisyah yang berusia satu tahun terbaring lemah tak berdaya. Sejak lahir, putri pasangan Hendra Yadi (35) dan Jumiati (32) warga Jalan Durung II, Lingkungan XVIII, Andansari Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan itu divonis menderita hydrosefalus.
Hidrosefalus adalah penumpukan cairan dirongga otak, sehingga meningkatkan tekanan pada otak. Pada bayi dan anak-anak, hidrosefalus membuat ukuran kepala membesar. Sedangkan pada orang dewasa, kondisi ini bisa menimbulkan sakit kepala hebat.
Cairan otak diproduksi oleh otak secara terus menerus, dan diserap oleh pembuluh darah. Fungsinya sangat penting, antara lain melindungi otak dari cedera, menjaga tekanan pada otak, dan membuang limbah sisa metabolisme dari otak. Hidrosefalus terjadi ketika produksi dan penyerapan cairan otak tidak seimbang.
Sejak usia empat bulan, Dea Aisyah hanya bisa dibawa orang tuanya berobat secara tradisional, karena tidak adanya biaya ke rumah sakit. "Kami hidup pas-pasan, terasa berat bila membawanya ke rumah sakit," ucap Jumiati kepada medanbisnisdaili.com, Jumat (27/9/2019), sembari mengusap air mata.
Jumiati mengungkapkan, akibat derita yang dialami Dea Aisyah, berat badannya pun merosot drastis, Dea sebelumnya sempat memiliki tubuh yang sehat. "Berat tubuh dan badannya kini tidak normal seperti sekarang, padahal sebelumnya sempat seimbang, kecuali hanya kepalanya saya yang membesar," ungkapnya.
Karena itu, Jumiati sangat berharap belas kasihan dari para dermawan untuk membantu biaya perobatan anaknya tersebut, sementara keluarga prasejahtera yang bekerja sebagai buruh hanya cukup untuk makan sehari-hari.

