| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

"BERTAMBAH tahun berarti bertambah umur, dan bertambah umur adalah pertanda kita semakin dekat dengan kematian. Maka mari kita hijrah — bukan hanya berpindah tempat, tapi berpindah hati dan kesadaran".
Kalimat ini sederhana namun menggugah. Ia mengajak setiap jiwa untuk tidak terlena dalam alur waktu yang terus berjalan.
Di tengah datangnya Tahun Baru Islam 1447 Hijriah, kita diajak merefleksikan diri: sudah sejauh mana kita berpindah dari hidup yang lalai menuju hidup yang bermakna? Dari kesibukan dunia menuju pengabdian yang bernilai akhirat?
Hijrah bukan sekadar berpindah tempat. Hijrah dalam Islam adalah berpindah dari gelap menuju terang, dari maksiat menuju taat, dari cinta dunia menuju cinta Allah. Ia adalah perubahan menyeluruh dalam orientasi hidup.
Hijrah Rohani: Awal Kesadaran Sejati
Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(QS. Al-Baqarah: 218)
Hijrah rohani merupakan awal dari segalanya. Seseorang bisa berada dalam jabatan tinggi, tetapi jika hatinya masih terpaut pada dunia, maka sejatinya ia belum berhijrah. Rasulullah SAW bersabda: "Seorang muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan segala larangan Allah". (HR Bukhari dan Muslim)
Hijrah yang benar bukan hanya fisik, tetapi hati dan pikiran. Ia dimulai dari taubat, disertai tekad kuat untuk memperbaiki diri, dan dilanjutkan dengan amal nyata.
Dalam hal ini, para ulama salaf menegaskan pentingnya memperbaharui kesadaran spiritual. Al-Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah berkata, “Hijrah dari satu kondisi ke kondisi lain tidak akan sempurna kecuali dengan hijrah hati menuju Allah dan Rasul-Nya.”
Hijrah rohani menjadi fondasi perubahan sosial. Seseorang yang telah menyadari bahwa hidupnya adalah titipan, dan usianya terus menipis, akan terdorong untuk menggunakan sisa waktunya sebaik mungkin. Termasuk mengubah arah hidup dari orientasi duniawi menuju orientasi ukhrawi.
Hijrah ASN: Dari Jabatan Menuju Pengabdian
Salah satu bentuk hijrah sosial yang sangat relevan hari ini adalah hijrah ASN (Aparatur Sipil Negara) — dari pelayan negara menjadi pelayan umat.
Dalam struktur birokrasi, ASN terikat aturan dan tanggung jawab negara. Namun ketika masa pensiun tiba, kesempatan untuk menjadi abdi masyarakat terbuka luas. Di sinilah pentingnya kesadaran hijrah: dari pekerjaan formal menuju pengabdian sosial.
Banyak pensiunan ASN yang merasa kehilangan arah setelah purnatugas. Rutinitas yang padat berganti menjadi kesepian. Padahal, masa purnatugas bisa menjadi masa paling produktif — asalkan diisi dengan semangat hijrah.
Hijrah ASN merupakan berpindah dari rutinitas birokrasi ke medan dakwah sosial. Dari pekerjaan struktural ke pengabdian berbasis cinta. Jabatan boleh berakhir, tetapi amal tak pernah mengenal pensiun.
Para ulama juga mendorong perubahan peran dari dunia ke akhirat secara bertahap. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menulis, “Salah satu bentuk kecerdasan adalah ketika seseorang mempersiapkan hidupnya setelah dunia berakhir, bukan sekadar menata hidup dunia semata”.
Maka siapa pun yang telah selesai dari pengabdian kepada negara, janganlah merasa selesai dari kehidupan. Justru inilah saat untuk menyiapkan bekal akhirat sebaik-baiknya.
Ladang Amal Terbuka Luas: Dari Masjid ke Masyarakat
Hijrah ASN membuka peluang besar untuk memberi manfaat. Bayangkan jika setiap pensiunan ASN mengabdikan diri menjadi guru mengaji, pembina remaja masjid, fasilitator UMKM, pengelola wakaf, atau konsultan pendidikan di desanya.
Mereka memiliki pengalaman organisasi, kecakapan administrasi, dan wawasan sosial — semua itu bisa diubah menjadi energi dakwah dan pemberdayaan umat.
Sabda Nabi SAW:Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.”(HR. Ahmad). Hadis ini menjadi kompas bagi setiap hijrah ASN. Bahwa ukuran kebaikan bukan pada gelar atau jabatan, melainkan pada kebermanfaatan. Bahkan setelah pensiun, jika mampu mendirikan taman bacaan untuk anak yatim, membangun koperasi syariah, atau sekadar menjadi motivator spiritual bagi tetangganya — maka itu adalah amal besar.
Banyak di antara mereka yang berhasil merintis pesantren setelah purnatugas, membangun jaringan wakaf produktif, atau menjadi tokoh masyarakat yang bersih dan disegani. Mereka telah hijrah: dari pejabat menjadi pelayan umat.
Dan jangan lupakan peringatan Rasulullah SAW: "Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat, sampai ia ditanya tentang empat hal: tentang umurnya untuk apa ia habiskan..."(HR. Tirmidzi).
Maka masa pensiun bukan waktu untuk beristirahat sepenuhnya, tapi waktu terbaik untuk menjawab pertanyaan itu dengan amal nyata.
Tahun Baru Islam: Titik Awal Hijrah yang Nyata
Tahun Baru Islam adalah waktu terbaik untuk memulai hijrah. Bukan hijrah fisik, tapi perubahan orientasi dan tanggung jawab.
Bagi ASN yang masih aktif, saatnya mulai memperbaiki niat dalam bekerja — dari sekadar memenuhi kewajiban negara menuju pelayanan yang berpihak pada umat.
Bagi yang telah purna tugas, ini waktunya membuka babak baru: menjadikan pengalaman hidup sebagai bahan dakwah dan amal jariah. Jangan tunggu tua untuk berubah.
Jangan tunggu panggilan baru untuk bergerak. Gunakan ilmu dan kapasitas untuk membangun masyarakat yang beradab, cerdas, dan bertauhid.
Perubahan ini bisa dimulai dari hal kecil: menghidupkan surau, membina kelompok pengajian, mendampingi ekonomi keluarga miskin, atau menjadi inspirasi bagi generasi muda. Setiap langkah kecil itu adalah hijrah — dan bisa menjadi bekal besar di akhirat kelak.
Hijrah adalah Awal Kehidupan yang Baru
Hijrah merupakan keberanian untuk berpindah dari gelap menuju cahaya, dari diam menuju gerak, dari rutinitas menuju nilai.
Hijrah rohani membawa kesadaran baru, dan hijrah sosial membawa peran baru. Dan dalam konteks ASN, hijrah adalah langkah mulia: dari jabatan menuju pengabdian.
Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan timbanglah amal kalian sebelum kalian ditimbang”.
Maka momen tahun baru ini adalah waktu yang tepat untuk bermuhasabah, berhijrah, dan membulatkan niat untuk lebih bermanfaat bagi umat.
Jabatan boleh berakhir. Masa dinas bisa selesai. Namun pengabdian tak mengenal waktu. Hijrah ASN menuju pengabdi umat adalah bukti bahwa amal tak berhenti meski gaji tak lagi diterima. Yang tersisa adalah nilai. Yang kekal adalah amal.
Wallahu Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq!
====
Penulis Kakankemenag Pidie dan Alumni UIN Ar-raniry Banda Aceh
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com

