| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

SEBAGAI generasi muda Indonesia, saya menyadari betul bagaimana teknologi mengubah cara kita belajar, bekerja, berinteraksi, dan bahkan menjalani kehidupan sehari-hari.
Internet, media sosial, dan berbagai platform digital telah mempermudah banyak hal: dari mengerjakan tugas sekolah, mengikuti kursus daring, hingga membangun bisnis kecil berbasis aplikasi.
Data APJII (2024) menunjukkan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 221,6 juta orang atau 79,5 persen dari total populasi.
Angka ini terlihat tinggi, namun kenyataannya masih banyak masyarakat yang tidak bisa mengakses internet secara optimal atau bahkan sama sekali belum tersambung. Hal ini menciptakan jurang digital yang nyata, di mana kesempatan teknologi tidak dirasakan merata.
Masalah akses digital menjadi nyata ketika saya melihat kondisi di desa-desa terpencil. Program BTS 4G BAKTI yang seharusnya menghadirkan internet di ribuan blank spot banyak tertunda akibat kasus korupsi pejabat tinggi Kominfo (Tempo, 2024).
Sekolah kesulitan mengadakan pembelajaran daring, fasilitas kesehatan tidak dapat memanfaatkan telemedis, dan warga kehilangan peluang memulai usaha digital.
Dari perspektif generasi muda, ini bukan sekadar soal sinyal, tetapi juga soal keadilan sosial. Teman-teman sebaya di desa harus menempuh perjalanan berjam-jam hanya untuk mengakses internet, sementara kita di kota besar bisa menyelesaikan banyak hal dengan beberapa klik.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa teknologi, meski hadir di hampir setiap sudut kehidupan, belum sepenuhnya mampu menyatukan masyarakat Indonesia.
Selain akses, keterampilan digital juga menjadi kendala serius. Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) 2024 menunjukkan skor keterampilan digital hanya 58,25 dari 100.
Sementara skor pilar pemberdayaan, yang menilai kemampuan masyarakat memanfaatkan teknologi untuk produktivitas ekonomi dan sosial, bahkan lebih rendah, 25,68 (Kominfo, 2024).
Banyak orang bisa membuka aplikasi, tetapi tidak memahami cara memanfaatkannya secara optimal untuk produktivitas, bisnis, maupun keamanan digital.
Dari sudut pandang saya sebagai generasi muda, kondisi ini menjadi tantangan sekaligus panggilan untuk mendorong teman sebaya menjadi kreator, bukan hanya pengguna pasif.
Kita memiliki tanggung jawab moral untuk memanfaatkan kemampuan digital kita guna membantu masyarakat sekitar.
Kesenjangan digital juga terlihat secara geografis. Provinsi Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur masih berada di peringkat bawah daya saing digital nasional (Katadata, 2023).
Anak muda di kota besar mudah mengakses pelatihan, jaringan internet cepat, dan peluang kerja digital, sementara teman-teman di desa harus berjuang lebih keras hanya untuk sinyal.
Kesempatan di era digital masih sering ditentukan oleh tempat lahir, yang ironisnya terjadi di negara yang secara geografis memiliki potensi sumber daya manusia dan teknologi yang besar.
Kondisi ini membuat saya sebagai anak muda merasa terdorong untuk berkontribusi, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk memastikan teman sebaya di desa tidak tertinggal dalam era digital.
Meski begitu, ada banyak contoh nyata yang menunjukkan bahwa akses dan keterampilan digital dapat berjalan beriringan. Program Desa Digital di Jawa Barat membuktikan hal ini.
Di Desa Cikole, kelompok tani muda memanfaatkan Internet of Things (IoT) untuk memonitor kelembaban tanah dan penggunaan pupuk, yang pada akhirnya meningkatkan hasil panen mereka (Jabarprov, 2024).
Cerita ini sangat menginspirasi saya karena menunjukkan bahwa teknologi bisa menjadi alat produktivitas nyata, bukan sekadar hiburan.
Anak muda dapat berperan sebagai penghubung antara teknologi dan masyarakat, membantu warga desa memanfaatkan internet secara optimal untuk kegiatan sehari-hari dan ekonomi.
Saya percaya, peran anak muda dalam konteks ini bukan hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga aktor transformasi sosial yang nyata.
Literasi digital menjadi faktor penting dalam memperluas manfaat teknologi. Gerakan Nasional Literasi Digital (#Siberkreasi) mengajarkan masyarakat untuk memanfaatkan teknologi dengan aman dan etis, sementara program JaWAra Internet Sehat berhasil meraih penghargaan WSIS Prizes 2024 (Katadata Sisi+, 2024).
Menurut saya, literasi digital bukan hanya soal kemampuan teknis, tetapi juga kesadaran kritis terhadap informasi, keamanan online, dan kreativitas dalam memanfaatkan peluang digital.
Anak muda harus belajar menjadi pengguna cerdas sekaligus kreator yang mampu membimbing masyarakat, termasuk orang tua dan tetangga, agar bisa memanfaatkan teknologi secara maksimal.
Pemerintah daerah juga mengambil langkah nyata untuk memperluas akses digital. Provinsi Jawa Tengah menargetkan lebih dari 500 desa blank spot memperoleh internet gratis hingga 2025 (Pemprov Jateng, 2025).
Keberhasilan program ini tetap bergantung pada kesiapan masyarakat untuk belajar keterampilan digital. Sebagai generasi muda, saya merasa ini adalah kesempatan besar untuk menjadi agen perubahan di komunitas saya, membantu warga desa menguasai teknologi dan mengubah akses menjadi keterampilan yang produktif.
Bayangkan betapa besarnya dampak sosial dan ekonomi jika setiap anak muda di desa dapat belajar coding, memulai bisnis online, dan mengakses materi edukasi daring tanpa harus pindah ke kota besar.
Dalam dunia kerja, kesenjangan keterampilan digital juga sangat nyata. Banyak lulusan muda memiliki pengetahuan dasar, tetapi tidak memiliki keterampilan terapan yang dicari industri, terutama di sektor teknologi tinggi seperti artificial intelligence, data science, dan cybersecurity (MDPI, 2021).
Reuters (2025) melaporkan pemerintah menyiapkan roadmap AI nasional, namun menghadapi kendala infrastruktur dan kekurangan tenaga terampil.
Dari perspektif saya, ini merupakan tantangan sekaligus peluang: generasi muda harus mempersiapkan diri lebih awal dan juga aktif memperluas akses serta keterampilan di komunitas, sehingga teknologi tidak hanya menguntungkan individu di kota besar tetapi juga masyarakat di daerah terpencil.
Ketidakmerataan akses dan keterampilan digital juga berdampak pada aspek sosial masyarakat. Penelitian menunjukkan bahwa ketimpangan digital berkorelasi dengan rendahnya integrasi sosial dan kepuasan hidup masyarakat (Sustainability, 2024).
Saya merasakan hal ini ketika teman-teman di desa kesulitan mengakses informasi resmi atau layanan publik daring. Dari pengalaman pribadi, saya percaya anak muda dapat menjadi agen perubahan yang membimbing komunitas agar teknologi dimanfaatkan untuk pendidikan, usaha, dan inovasi lokal.
Peran ini bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga membangun kepercayaan, keterampilan, dan kreativitas masyarakat agar teknologi dapat membawa perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Contoh nyata keberhasilan anak muda juga banyak ditemukan. Di Sleman, DIY, sekelompok pemuda membangun platform digital untuk memasarkan produk UMKM lokal, mulai dari kerajinan hingga kuliner.
Dengan pelatihan digital dan dukungan konektivitas, mereka berhasil meningkatkan omzet pedagang hingga 30 persen dalam satu tahun (Kominfo DIY, 2024).
Cerita ini menunjukkan bahwa kombinasi akses dan keterampilan digital dapat memberikan dampak ekonomi nyata.
Menurut saya, hal ini menegaskan bahwa generasi muda memiliki posisi strategis untuk menjadi penggerak perubahan sosial dan ekonomi melalui teknologi.
Solusi efektif, menurut pandangan saya, adalah memperlakukan akses dan keterampilan digital sebagai satu paket yang tidak terpisahkan.
Infrastruktur harus hadir bersamaan dengan program pengembangan keterampilan, mulai dari literasi digital, coding, hingga manajemen bisnis daring.
BACA JUGA: Hukum yang Pincang
Desa yang mendapat koneksi internet harus disertai pelatihan agar jaringan tidak hanya dimanfaatkan untuk hiburan, tetapi juga untuk produktivitas dan pemberdayaan masyarakat. Teknologi harus menjadi sarana peningkatan kualitas hidup, bukan sekadar alat konsumsi.
Kasus BTS 4G juga menegaskan pentingnya tata kelola dan transparansi dalam proyek digital publik. Proyek yang bersih dari korupsi dan diawasi masyarakat akan mempercepat pemerataan akses.
Keberhasilan tidak cukup diukur dari jumlah BTS terpasang, tetapi dari dampak nyata seperti peningkatan pendapatan UMKM, kemudahan layanan administrasi, dan kualitas pembelajaran digital.
Generasi muda dapat memainkan peran penting dalam memastikan transformasi digital ini memberikan perubahan positif bagi seluruh lapisan masyarakat, terutama mereka yang sebelumnya terpinggirkan.
Indonesia kini berada di titik kritis. Penetrasi internet tinggi, gerakan literasi digital diakui dunia, dan program Desa Digital telah menunjukkan bukti keberhasilan.
Namun, jurang akses dan keterampilan digital belum tertutup sepenuhnya. Jika generasi muda dilibatkan aktif, diberi kesempatan setara untuk belajar, berkreasi, dan berinovasi, transformasi digital dapat menjadi proyek keadilan sosial yang nyata.
Generasi muda bukan sekadar penerima manfaat, tetapi aktor perubahan, memastikan teknologi bisa dimanfaatkan semua warga, di mana pun mereka berada.
Saya percaya bahwa dengan semangat kolaborasi dan inovasi, anak muda bisa menjembatani kesenjangan antara sinyal dan skill, antara kota dan desa, sehingga Indonesia benar-benar bersatu dalam era digital.
====
Penulis Alumni Sarjana Ilmu Komunikasi Universitas Sumatera Utara
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email, disertai dengan lampiran KARTU IDENTITAS (KTP/SIM/DLL), FOTO (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), DATA DIRI SINGKAT (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 5.500-6.500 karakter. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Tidak ada korespondensi terkait layak atau tidaknya tulisan Anda diterbitkan. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com

