| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

MEMILIKI keluarga yang harmonis tentu menjadi impian setiap orang yang membina rumah tangga. Jika merujuk pada Gunarsa (2002), keluarga yang harmonis terbentuk jika interaksi antar pribadi di dalam keluarga terjalin dengan baik.
Keluarga yang harmonis juga bisa diartikan sebagai keluarga yang dapat menjalankan berbagai fungsi-fungsi keluarga seperti yang diungkapkan oleh Soelaeman (1994), yaitu fungsi edukatif; melindungi; afeksi (perasaan); religius; ekonomi; rekreasi; dan fungsi biologis.
Maka, keluarga yang harmonis adalah keluarga yang dapat menjalankan fungsi-fungsi kekeluargaan dengan baik, sehingga tercipta suasana yang nyaman, damai, dan rukun.
Gunarsa (2002) juga menjelaskan bahwa salah satu indikator keluarga harmonis adalah, anak merasakan kasih sayang dengan cara yang bijak dari kedua orang tuanya.
Menjalankan fungsi-fungsi keluarga yang baik bukanlah hal yang mudah, karena banyak masalah yang muncul mulai dari konflik internal maupun eksternal.
Menurut Segrin & Flora (2025), contoh masalah internal di dalam keluarga adalah pertengkaran dan kesalahan pola asuh. Sedangkan contoh masalah eksternal adalah kehilangan pekerjaan dan perselingkuhan.
Sebagai unit terkecil di dalam kehidupan manusia, masalah di dalam keluarga tentu akan sangat berpengaruh pada kehidupan seseorang di dalam masyarakat.
Menurut Kardawati (2001), salah satu faktor yang kerap menyebabkan masalah ketidakharmonisan keluarga adalah orang tua yang berpisah atau bercerai. Salah satu faktor yang menyebabkan perceraian adalah masalah pelakor (perebut laki orang).
Menurut psikologi klinis Stephanie Newman PhD, alasan seseorang menjadi pelakor adalah karena merasa ada tantangan dalam hidup dan menyukai sensasi menjalani hubungan ‘rahasia’ dengan pria yang sudah beristri.
Alasan lainnya adalah karena ada perempuan yang memiliki jika kompetitif dan ingin membuktikan bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk merebut kepunyaan orang lain.
Mereka menganggap bahwa menjalin hubungan dengan suami orang adalah tantangan yang membuatnya semakin percaya diri. Terlebih jika istri sah laki-laki tersebut mengetahui tindakannya dan marah, maka dia merasa semakin tertantang, semakin superior.
Sensasi tantangan yang dirasakan oleh seorang pelakor disebut sebagian psikolog sebagai gangguan mental. Jika seseorang menjadikan tindakan merebut pasangan orang sebagai rutinitas atau hobi, maka kemungkinan besar orang tersebut mengalami gangguan mental narsistik.
Gangguan mental ini adalah kondisi di mana seseorang merasa dirinya lebih baik daripada orang lain. Merasa paling penting, paling krusial, dan tidak peduli dengan orang lain di dalam hidupnya.
Selain alasan-alasan psikologis di atas, ada beberapa alasan lain mengapa seseorang memilih untuk menjadi pelakor. Pertama, karena mengaku membutuhkan biaya hidup. Dengan menjadi pelakor, seseorang merasa kebutuhan hidupnya yang tinggi akan dibiayai oleh seseorang.
Berhubungan dengan orang yang sudah menikah dan berkeluarga dianggap lebih menjamin karena kemapanan pria tersebut dibanding menjalin hubungan dengan pria lajang. Pria lajang cenderung dianggap kurang mapan dan tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.
Meskipun alasan ini jelas bisa disangkal karena seharusnya setiap orang bertanggung jawab atas hidupnya sendiri. Jangan bergantung dengan orang lain apalagi suami orang.
Kedua, adanya dendam karena memiliki pengalaman yang buruk dalam hal menjalin hubungan. Biasanya, seseorang yang merasa pernah dikecewakan, diselingkuhi, atau dikhianati oleh pasangannya akan memiliki dendam dan berambisi untuk melampiaskan dendamnya dengan cara merebut suami orang lain.
Dendam juga termasuk masalah psikologis yang menjadi penyebab seseorang menjadi pelakor. Parahnya, terkadang dendam dilampiaskan kepada orang yang tidak berkaitan dengan masalah yang pernah menimpa orang tersebut.
Misalnya, dia disakiti oleh mantan suami atau mantan kekasihnya. Tetapi akhirnya merasa iri dengan hidup perempuan lain bersama dengan suaminya dan akhirnya memutuskan untuk merebut suami perempuan tersebut.
Ketiga, karena ada perempuan yang menyukai tantangan dalam konteks negatif, yaitu perempuan yang menyukai drama hidup. Dia merasa hidupnya terlalu tenang dan damai sehingga menciptakan tantangan dan masalah untuk hidupnya sendiri.
Hal ini juga menjadi masalah psikologis yang disebabkan karena seseorang tidak memiliki pandangan dan tujuan hidup yang pasti.
Sebenarnya, pelakor cenderung tidak benar-benar mencintai atau menyukai suami orang tersebut. Mereka hanya ingin menguji adrenalin dirinya sendiri dengan drama kehidupan yang menantang.
Keempat, adanya masalah internal pada rumah tangga. Hubungan pasangan yang sedang bermasalah memungkinkan adanya celah bagi perempuan lain untuk masuk ke hubungan tersebut dan membuatnya semakin kacau.
Di samping itu, laki-laki yang merasa hubungannya dengan istri sedang bermasalah cenderung mencari pelarian dengan perempuan lain, sehingga memperbesar peluang pelakor untuk menjalankan aksinya.
Permasalahan pelakor tentu bukan hal yang tidak bisa diatasi. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah kemunculan pelakor yang mengganggu keharmonisan rumah tangga.
Pertama, pasangan suami istri harus saling jujur mengenai suatu hal yang tidak disukai mengenai pasangan. Jangan menghindari permasalahan hanya karena malah berdebat. Jika dibiarkan, akan semakin parah dan bisa menjadi pemicu pria mencari perempuan lain.
Kedua, pasangan yang sudah menikah perlu membatasi pertemanan dengan lawan jenis. Tetap boleh berteman, tetapi harus mengetahui batasan masing-masing.
Berteman seperlunya saja, tidak perlu terlalu akrab. Jangan sampai ada interaksi yang membuat seseorang merasa terikat secara perasaan dengan teman lawan jenis karena akan menjadi bibit-bibit perselingkuhan karena adanya pelakor.
Ketiga, batasi waktu bermain sosial media dan gunakan banyak waktu untuk berkomunikasi dengan pasangan. Karena di media sosial, semua orang bisa dengan mudah terhubung dengan orang lain.
Menjalin pertemanan dengan lawan jenis di sosial media juga bisa memicu munculnya pelakor yang mengganggu keharmonisan keluarga.
Dibanding bermain sosial media, lebih baik gunakan banyak waktu dengan keluarga agar lebih erat.
Bagi perempuan yang memiliki gangguan psikologis atau mental dan berpotensi menjadi pelakor, ada beberapa hal yang bisa dilakukan agar bisa mencegah diri dari tindakan tidak terpuji tersebut.
Perempuan harus memiliki kontrol atas dirinya sendiri. Memiliki kesadaran bahwa tidak semua perasaan yang muncul harus diwujudkan dalam tindakan.
Jika bertemu laki-laki yang membuat tertarik, sadari bahwa itu adalah hal yang wajar dirasakan oleh manusia, tetapi jangan sampai bertindak jauh untuk mendekati pria yang sudah beristri.
Perempuan yang merasa tertarik dengan suami orang juga harus memiliki kesadaran bahwa menjadi orang ketiga justru akan merendahkan harga dirinya sendiri.
Menjadi pelakor jelas melanggar norma yang ada. Hal tersebut akan mendapatkan kecaman dari lingkungan sosial dan membuat nama baik diri sendiri tercoreng.
Alih-alih bergantung pada hidup orang lain dan merendahkan harga diri sendiri, lebih baik mengembangkan diri, meningkatkan potensi diri, menjadi perempuan yang percaya diri, independen, dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri.
Perempuan dengan value yang tinggi juga akan menemukan laki-laki dengan value yang pantas untuknya, dan pastinya laki-laki yang belum beristri.
====
Penulis Seorang ASN di Kabupaten Labuhanbatu
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 5.500-6.500 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com

