| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

PENGANGGURAN di kalangan usia muda merupakan masalah serius yang dihadapi banyak negara, termasuk Indonesia. Solusi yang diperlukan adalah pendekatan menyeluruh, mulai dari reformasi pendidikan, peningkatan keterampilan, hingga pemberdayaan anak muda untuk menciptakan peluang kerja sendiri.
Menurut Undang-Undang RI Nomor 40 Tahun 2009 menyebutkan bahwa pemuda adalah warga negara Indonesia berusia 16–30 tahun. Usia muda bisa dikatakan sebagai salah satu fase paling penting dalam hidup seseorang.
Usia muda ibarat bunga mekar, waktu untuk melakukan banyak hal, mengembangkan potensi diri sesuai dengan minat dan bakat masing-masing individu.
Usia muda juga waktu yang tepat untuk menggapai impian dan cita-cita. Namun, menjadi pemuda yang produktif juga bukan hal yang mudah.
Ada banyak faktor yang menyebabkan seorang pemuda menjadi kurang produktif dan cenderung tidak bisa mengembangkan dirinya.
Di Indonesia sendiri, salah satu indikator bahwa pemuda di negara ini belum produktif dalam mengembangkan potensi dirinya adalah masih tingginya angka pengangguran di kalangan pemuda.
Meskipun tidak semua pengangguran berasal dari kalangan pemuda, namun data dari Survei Angkatan Kerja Nasinal Agustus 2024 yang
dilakukan BPS menunjukkan bahwa persentase pengangguran pemuda tergolong tinggi, yaitu 12,24 persen dibandingkan dengan total pengangguran Indonesia 2024 yang hanya sebesar 4,91 persen.
Persentase tersebut sangat mengkhawatirkan karena pemuda seharusnya menjadi bagian dari demografi yang paling produktif di Indonesia.
Mereka seharusnya yang mampu bekerja untuk menggerakkan perekonomian negara.
Penyebab Pengangguran Pemuda
Penyebab utama tingginya angka pengangguran pemuda di Indonesia adalah ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan tenaga kerja.
Lapangan kerja tidak mengalami peningkatan signifikan menyebabkan banyak pemuda yang menganggur setelah lulus dari bangku perkuliahan atau sekolah.
Beberapa sektor lapangan usaha yang mampu menyerap banyak tenaga kerja, seperti manufaktur, pertanian, dan konstruksi, tidak mengalami pertumbuhan yang signifikan.
Padahal, sektor-sektor ini berpotensi mengurangi pengangguran apabila dikelola dengan baik dan didukung oleh kebijakan yang tepat dari pemerintah.
Selain itu terdapat kesenjangan antara pendidikan dan kebutuhan pasar kerja. Banyak lulusan yang mengambil jurusan yang tidak memiliki relevansi atau permintaan tinggi di dunia kerja, sehingga mereka kesulitan mendapatkan pekerjaan setelah lulus.
Kurangnya keterampilan praktis juga menjadi penyebab terjadinya pengangguran di usia muda, di mana lulusan baru umumnya hanya menguasai teori yang diajarkan di bangku kuliah atau sekolah, namun tidak dibekali dengan pengalaman kerja nyata atau kemampuan teknis yang dibutuhkan industri.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, rendahnya penguasaan keterampilan digital juga menjadi hambatan besar. Padahal, di era digital saat ini kemampuan mengoperasikan perangkat teknologi, memahami data, atau menggunakan perangkat lunak tertentu menjadi syarat penting untuk bersaing di dunia kerja modern.
Dominasi tenaga kerja berpengalaman di pasar kerja juga menjadi kendala besar bagi lulusan baru. Banyak perusahaan lebih memilih merekrut pekerja yang sudah berpengalaman karena dianggap lebih siap kerja dan tidak memerlukan pelatihan tambahan.
Akibatnya, fresh graduate sering kali kalah bersaing, meskipun memiliki latar belakang pendidikan yang baik.
Sebagian lulusan baru mengalami kurang motivasi dalam mencari kerja. Bahkan ada yang menunda masuk ke dunia kerja karena merasa belum menemukan “pekerjaan ideal” yang sesuai dengan minat atau ekspektasi pribadi.
Sikap ini sering diperparah oleh budaya gengsi, di mana seseorang enggan menerima pekerjaan yang dianggap “tidak sesuai” dengan latar belakang pendidikan atau status sosialnya.
Misalnya, lulusan sarjana yang enggan bekerja di sektor informal atau pekerjaan entry-level karena merasa itu merendahkan.
Berdasarkan data Sakernas Agustus 2024, pengangguran pemuda terendah berasal dari pemuda yang belum pernah sekolah atau tidak tamat SD 6,84 persen, pendidikan SD/sederajat 7,95 persen, berpendidikan SMP/sederajat 8,89 persen.
Hal ini menunjukkan bahwa dengan latar belakang pendidikan rendah, pemuda rela melakukan berbagai jenis pekerjaan demi menyambung hidup dan mencukupi kebutuhan keluarga.
Di sisi lain, kurangnya jaringan atau relasi (networking) juga menjadi penghalang. Banyak peluang kerja tidak hanya diperoleh melalui proses rekrutmen formal, tetapi juga lewat koneksi pribadi, rekomendasi, atau komunitas profesional.
Sayangnya, tidak semua pencari kerja memiliki akses ke jaringan ini, sehingga mereka kalah cepat dalam memperoleh informasi atau kesempatan kerja yang tersedia.
Perkembangan teknologi yang pesat juga menjadi faktor signifikan dalam meningkatnya angka pengangguran, terutama di sektor-sektor tertentu.
Otomatisasi dan digitalisasi menyebabkan banyak jenis pekerjaan yang dulunya membutuhkan tenaga manusia kini dapat digantikan oleh mesin, robot, atau kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
BACA JUGA: Judi Online ‘Virus' di Era Digital
Dampak Pengangguran Pemuda
Pengangguran usia muda membawa dampak yang serius, baik secara individu maupun bagi Negara. Pemuda yang menganggur tidak dapat dimanfaatkan secara optimal, yang berarti hilangnya kontribusi mereka terhadap pertumbuhan ekonomi.
Orang tua atau keluarga harus menanggung kebutuhan hidup anak-anak yang belum mandiri secara finansial. Pemuda yang menganggur akan merasa minder dan malu terhadap lingkungan sosial karena belum memiliki pekerjaan.
Dalam waktu lama bisa mengalami frustasi, kehilangan arah, bahkan rentan terjerumus ke hal negatif seperti kriminalitas dan narkoba.
Jika tidak ditangani, pengangguran jangka panjang di usia muda bisa menciptakan generasi yang kehilangan kesempatan untuk berkembang secara ekonomi, sosial, dan professional (lost generation).
Solusi Pengangguran Pemuda
Untuk mengatasi pengangguran di usia muda, dibutuhkan pendekatan yang menyeluruh dari berbagai sektor, termasuk pemerintah, institusi pendidikan, masyarakat, dan tentunya para pemuda itu sendiri.
Pemerintah sebagai pengambil kebijakan memiliki peran penting dalam menciptakan kondisi yang kondusif bagi terbukanya lapangan kerja baru.
Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah memperluas pembangunan di sektor-sektor strategis seperti industri kreatif, teknologi informasi, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Melalui pengembangan sektor-sektor tersebut, diharapkan tercipta peluang kerja baru yang dapat menyerap tenaga kerja muda, baik yang baru lulus sekolah maupun perguruan tinggi.
Di sisi lain, masyarakat dan keluarga juga memiliki tanggung jawab dalam membentuk karakter dan mentalitas pemuda yang tangguh serta mandiri.
Lingkungan keluarga perlu menanamkan nilai-nilai kerja keras, inisiatif, dan tanggung jawab sejak dini. Namun, semua upaya tersebut tidak akan berhasil tanpa kesadaran dan peran aktif dari para pemuda itu sendiri.
Anak muda perlu memiliki inisiatif untuk terus belajar dan mengembangkan diri secara mandiri. Saat ini banyak sekali sumber belajar yang tersedia secara gratis dan terbuka melalui internet, seperti kursus online, webinar, tutorial di YouTube, dan sebagainya.
Teknologi digital juga bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh pemuda. Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional Maret 2024 terdapat 95,66 persen pemuda mengakses internet.
Tingginya penggunaan internet dikalangan pemuda dapat menciptakan peluangnya sendiri. Media sosial, platform marketplace, dan aplikasi kerja freelance bisa menjadi sarana untuk berjualan, menawarkan jasa, atau membangun usaha pribadi. Jadi, alih-alih hanya mengandalkan pekerjaan formal, pemuda juga perlu kreatif dan adaptif dalam menciptakan sumber penghasilan baru yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Dengan kerja sama dan kesadaran kolektif dari seluruh pihak, pengangguran di kalangan usia muda bisa ditekan secara signifikan. Solusi yang bersifat jangka panjang dan berkelanjutan harus terus dikembangkan agar generasi muda dapat tumbuh menjadi generasi yang produktif, inovatif, dan mandiri.
Sebab, masa depan bangsa sangat ditentukan oleh seberapa besar peran yang dimainkan oleh anak mudanya hari ini.
====
Penulis PNS Badan Pusat Statistik Kabupaten Labuhanbatu
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email, disertai dengan lampiran KARTU IDENTITAS (KTP/SIM/DLL), FOTO (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), DATA DIRI SINGKAT (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 5.500-6.500 karakter. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Tidak ada korespondensi terkait layak atau tidaknya tulisan Anda diterbitkan. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com, tidak ada korespondensi.

