| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

AKHIR-akhir ini kita dipertontonkan tingkah arogan dari pejabat. Bupati Sudewo menantang masyarakat Pati, anggota DPR RI Ahmad Saroni dengan komentarnya, terakhir Wali Kota Prabumulih yang semena mencopot seorang kepala sekolah berprestasi hanya karena menegur anaknya. Kepongahan para pejabat ini membuat mereka menanggung akibatnya sehingga mereka harus meminta maaf secara publik.
Masyarakat mulai muak dengan tingkah pongah yang dilakukan oleh para pejabat. Para pejabat bergaya demikian ada indikasi supaya mereka dihormati atau disegani.
Alih-alih dihormati, tindakan para pejabat tersbut malah mendapat cibiran masyarakat, “Begitu mental pejabat kita? Sok banget”.
Masyarakat muak dengan gaya kepemimpinan yang arogan. Masyarakat ingin pejabat itu dekat dengan rakyat, tak berjarak dengan rakyat.
Di tengah tingkah pongah kebanyakan para pejabat, kita disuguhi tingkah pejabat yang humoris dan penuh canda tawa di Serang.
Siapa yang tidak mengenal Kapolres Serang, AKBP Condro Sasongko dengan segala tingkah kocaknya. Ia boleh dilabeli sebagai pemimpin gaya “Srimulat”.
Ia hadir dengan cita rasa yang beda dari kebanyakan pejabat. Ia tampil humoris, apa adanya, tidak terlalu formal, tidak terlalu protokoler, dan semua kalangan merindukan kehadirannya.
Dari AKBP Condro Sasongko, kita dapat belajar dan secara khusus para pejabat dapat belajar cara memimpin yang efektif, efisien, dan dicintai masyarakat. Kita dapat menguraikan 4 poin gaya kepemimpinan “Srimulat” AKBP Condro Sasongko.
Humor sebagai Alat Dekat dengan Masyarakat
AKBP Condro Sasongko dikenal akrab dan suka melawak, bahkan menjadi viral karenanya. Gaya ini mampu mencairkan suasana, menjadikannya lebih mudah diterima oleh masyarakat, dan memperbaiki citra kepolisian yang terkadang terlihat kaku.
Ia memilih cara ini sebagai tindakan humanis. Sepertinya ia ingin menghapus stigma negatif pejabat dan ingin mengatakan bahwa pejabat itu berasal dari masyarakat sehingga tidak ada bedanya dengan masyarakat pada umumnya.
Saat pemimpin sudah dekat dengan masyarakat, kebijakan-kebijakan pemerintah dapat disampaikan dan tingkat penerimaannya akan lebih mudah.
Masyarakat sudah bosan dengan formalitas dalam relasi karena terkesan palsu. Masyarakat lebih ingin berinteraksi secara natural dengan pemimpinnya sehingga mereka tidak segan atau merasa pantas.
Relasi antara pemimpin dengan rakyat bukan seperti teori supply and demand dalam dunia ekonomi tetapi relasi aku-engkau dalam teori Gabriel Marcel. Relasi aku-engkau, pejabat-rakyat, merupakan relasi otentik antara dua individu yang terlibat secara penuh.
Membangun Keakraban di Lingkungan Internal
Selain dengan masyarakat, humor ala Srimulat yang dilakukan AKBP Condro Sasongko juga membawa keakraban di antara anggota polisi. Hal ini menciptakan lingkungan kerja yang lebih positif, mengurangi stres, dan meningkatkan semangat kerja tim.
Humor ala Srimulat dapat membangun relasi tidak atas-bawah/top-down melainkan menciptakan relasi yang penuh keakraban keakraban.
Anggota tidak merasa selalu dipantau oleh pimpinan melainkan pemimipin sebagai seorang ayah yang mengayomi, memotivasi, dan memberi petunjuk.
Layaknya seorang ayah yang saying pada anaknya, pola kepemimpinan ini akan menghasilkan output yang baik dalam menjalankan tugas dan pokok masing-masing.
Gaya memimpin Srimulat Kapolres Serang seolah tak ada jarak antara atasan dan bawahan. Namun, cara demikian malah menciptakan iklim kerja yang happy sehingga kebijakan organisasi dapat dieksekusi dengan baik dan totalitas dari bawahan.
Atasan dianggap sebagai teman bukan lawan yang harus dihindari bahkan dimusuhi.
Profesionalisme yang Tetap Terjaga
Meskipun sering bergaya humoris, gaya memimpin Kapolres Serang tidak mengurangi profesionalisme dan kemampuan mengayomi. Beliau tetap fokus pada tugas-tugasnya sebagai aparat penegak hukum yang tegas dan mengayomi masyarakat, namun dikemas dalam cara yang tidak kaku.
Kalau boleh jujur, sebenarnya masyarakat tidak suka dengan formal. Formalistik yang kaku membuat dapat membuat jarak. Ketika terjadi jarak antara pemimpin dan masyarakat, hubungan hanya sebatas formalitas saja.
Masyarakat enggan dan menganggap tidak penting bertemu dengan pemimpinnya. Masyarakat akan abai atau cuek karena toh kehadiran pemimpin tidak memiliki pengaruh signifikan bagi hidupnya.
Ketika pemimpin mengemas pendekatannya dengan humor, masyarakat akan merasa bahwa pemimpin itu bagian dari mereka. Hubungan itu bisa menjadi luwes, terbuka, jujur, bahkan masyarakat akan bahagia bila bisa bersalaman saja.
Kapolres Serang dalam tayangan medsos yang beredar, ketika ke lapangan kehadirannya dinantikan semua kalangan. Dengan kemasan humor, ia menyampaikan kebijakan-kebijakan pemerintah misal tentang penurunan stunting.
Strategi Komunikasi Efektif
Gaya kepemimpinan srimulat menunjukkan bahwa kepemimpinan dapat disampaikan melalui berbagai cara, tidak hanya dengan pendekatan formal yang serba serius.
Dengan memahami audiens dan konteks, komunikasi yang humoris justru bisa lebih efektif dalam mencapai tujuan organisasi.
Pelajaran dari gaya memimpin Kapolres Serang yang mirip “Srimulat’ adalah pendekatan yang humoris dan akrab untuk membangun kedekatan dengan publik dan anggota, yang dikombinasikan dengan tetap menjunjung profesionalisme serta kemampuan mengayomi yang kuat.
Gaya humor ini bukan sekadar candaan, melainkan strategi komunikasi yang efektif untuk mendekatkan institusi kepolisian dengan masyarakat dan menumbuhkan semangat kerja positif di kalangan anggota, sebagaimana yang dilakukan oleh AKBP Condro Sasongko.
Para pejabat hendaknya mengganti strategi komunikasinya yang formal dengan cara yang berbeda. AKBP Condro Sasongko memberi teladan nyata bagaimana memimpin yang dengan dikemas humor.
Cara kepemimpinan ala Srimulat Kapolres Serang menjadi strategi komunikasi efektif dalam memimpin di tengah masyarakat yang terdiri dari berbagai macam latar belakang.
====
Penulis ASN Kemenag Kabupaten Asahan, Alumnus Magister Filsafat Keilahian Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com

