| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

TAHUN 2025 menjadi masa yang penuh tantangan bagi perekonomian Indonesia. Meskipun berhasil melewati pandemi Covid-19, banyak pihak menganggap ekonomi Indonesia kini sedang mengalami penurunan.
Pertumbuhan ekonomi melambat. Kemampuan belanja masyarakat berkurang. Tingkat pengangguran meningkat. Banyak pekerja mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK), serta kurangnya lowongan pekerjaan yang tersedia. Semuanya memperparah pelemahan ekonomi dalam negeri.
Selain itu, tekanan inflasi, kenaikan suku bunga global, dan ketidakpastian kondisi dunia juga membuat sektor-sektor strategis seperti manufaktur, perdagangan, dan pertanian cenderung mengalami penurunan kinerja.
Data terbaru menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama tahun 2025 hanya mencapai 4,87% dibandingkan tahun sebelumnya, yang merupakan angka terendah sejak kuartal ketiga tahun 2021.
Perlambatan ini terjadi karena konsumsi masyarakat yang hanya tumbuh 4,89%, serta turunnya investasi dan belanja pemerintah.
Konsumsi dalam negeri yang menyumbang lebih dari separuh dari total PDB mengalami penurunan karena adanya kenaikan pajak pertambahan nilai (PPN) menjadi 12% serta kebijakan penghematan anggaran pemerintah.
Meski kebijakan ini bertujuan untuk memperbaiki pengelolaan keuangan, namun bisa berdampak pada daya beli masyarakat dan mengurangi laju pertumbuhan ekonomi.
Kita patut mengapresiasi kebijakan Menteri Keuangan Purbaya dengan mengucurkan dana 200 triliun ke bank Himbara sebagai upaya perekonomian di tengah masyarakat kembali bergelora. Hasilnya memang belum tampak tetapi kita akan melihat efeknya beberapa bulan ke depan.
Di tengah kondisi ekonomi yang melemah, timbul sebuah pertanyaan mengusik. Indonesia merupakan negara dengan tingkat religiositas tertinggi di dunia. Lantas di mana peran agama dalam meningkatkan perekonomian umat pemeluk agamanya?
Agama Mengajarkan Pasrah?
Menurut Karl Marx, agama adalah sumber utama dari keterasingan (alienasi) masyarakat terhadap dunianya. Dikatakan sebagai sumber utama bukan karena agama menjadi pusat dominan dibandingkan sumber-sumber keterasingan lainnya, tetapi karena masyarakat secara umum menganggap agama sebagai bagian dari kehidupannya.
Agama dilihat seperti hal lain yang dihasilkan dari kegiatan kreatif manusia. Artinya, agama dengan nilai dan moral yang dimilikinya sebenarnya hasil dari upaya manusia untuk menjaga kehidupan dan memenuhi kebutuhan.
Namun, bukan kebutuhan hidup itu sendiri yang diberikan agama, melainkan justru keterasingan dan pembatasan terhadap kemampuan manusia untuk berkreatif.
Agama adalah dasar universal yang memberi penghiburan dan seperti candu bagi rakyat. Dalam arti ini, terdapat implikasi bahwa segala bentuk penghiburan yang datang dari agama bagi mereka yang menderita dan tertindas hanyalah penghiburan semu, yang hanya memberikan rasa tenang sementara.
Agama tidak mampu memberikan solusi yang sebenarnya, bahkan justru sering menghalangi berbagai upaya untuk menemukan solusi melalui penderitaan dan penindasan yang baru.
Solusi yang dimaksud di sini adalah terkait dengan upaya meningkatkan kesejahteraan secara material. Agama justru membiarkan kondisi yang sudah ada, meskipun orang sedang mengalami penderitaan.
Agama menyarankan orang untuk pasrah terhadap keadaan, bukan berusaha memperbaiki kondisi hidupnya. Agama cenderung mengabaikan usaha nyata manusia untuk memperjuangkan kualitas hidup melalui hal-hal duniawi.
Agama justru menyarankan agar orang tidak terlalu menginginkan barang-barang duniawi dan fokus pada hal-hal surgawi, sehingga orang tersebut lupa akan penderitaan materi yang sedang dihadapinya.
Agama mengajarkan orang untuk menerima segala sesuatu apa adanya, termasuk pendapatan yang tergantung dan bahkan cukup kecil.
Dengan cara ini, secara tidak langsung agama memungkinkan orang untuk tetap berada dalam kondisi keuangan yang mereka miliki dan menerima segala sesuatu dengan pasrah, meskipun sedang mengalami kesulitan secara materi.
Agama juga mengajak orang untuk berani menghadapi segala sesuatu itu karena sikap menerima dan menanggung kesulitan dianggap sebagai hal yang terbaik.
BACA JUGA: Membentuk Sistem Berpikir Generasi Alpha
Agama Penggerak Utama Ekonomi
Konteks Marx menyatakan bahwa agama sebagai candu karena menganggap agama menghalangi upaya revolusi demi perbaikan tata sosial, ekonomi, budaya. Marx memprediksi bahwa agama akan musnah pada abad selanjutnya.
Namun, apa yang terjadi saat ini? Agama mengalami kebangkitan. Agama mendapat tempatnya kembali di era ini. Pemaknaan agama kembali bergulir dengan berbagai wacana yang dikemukakan berbagai diskursus.
Agama berpotensi mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dalam masyarakat. Agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai seperti etos kerja yang kuat, pendidikan, dan pengelolaan keuangan seringkali berkontribusi positif terhadap pembangunan ekonomi.
Keyakinan agama dapat memotivasi individu untuk berinvestasi lebih banyak dalam pendidikan, bekerja lebih giat, dan mengelola keuangan mereka dengan bijaksana, menjadikan agama sebagai faktor penting dalam membangun sumber daya manusia dan memajukan kemajuan ekonomi.
Selain itu, keyakinan agama individu dan kelompok dapat membentuk perspektif terhadap kebijakan seperti perpajakan, belanja pemerintah, dan peran negara dalam perekonomian.
Hal ini menunjukkan bahwa agama dapat mempengaruhi arah kebijakan ekonomi suatu negara. Wawasan ini menyoroti bagaimana agama tidak hanya mempengaruhi perilaku ekonomi individu tetapi juga mempengaruhi kebijakan pemerintah, yang pada akhirnya berdampak pada kesejahteraan ekonomi masyarakat.
Memang tidak mudah untuk mencari bentuk yang cocok bagaimana kontribusi agama terhadap peningkatan ekonomi masyarakat sebab terkadang terdapat benturan antara ajaran agama dan sistem ekonomi yang dipakai.
Namun, poinnya ialah bagaimana tindakan nyata agama terhadap peningkatan ekonomi masyarakat sehingga agama tidak hanya berbicara tentang dogma-dogmanya.
Masyarakat membutuhkan gebrakan nyata yang sungguh berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat. Agama sudah seharusnya mengambil peran sebagai motor utama dalam peningkatan ekonomi masyarakat.
====
Penulis ASN Kemenag Kabupaten Asahan/Alumnus Magister Filsafat Keilahian Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email, disertai dengan lampiran KARTU IDENTITAS (KTP/SIM/DLL), FOTO (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), DATA DIRI SINGKAT (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 5.500-6.500 karakter. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Tidak ada korespondensi terkait layak atau tidaknya tulisan Anda diterbitkan. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com, tidak ada korespondensi.

