| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

BEBERAPA bulan terakhir ini, kaum muda dihebohkan dengan kemunculan Ferry Irwandi dengan ide-ide dan pola pikirnya yang kritis.
Ia tampil sangat meyakinkan dengan mengurai situasi yang terjadi di Indonesia terutama pada saat aksi unjuk rasa pada akhir Agustus lalu.
Dalam acara Rakyat Bersuara yang ditayangkan iNews (dapat dilihat di youtube Official iNews), Ferry Irwandi bicara dengan lugas dan data yang dimiliki tentang demo yang terjadi.
Pemirsa yang hadir dan menonton tayangan ulang di youtube takjub dengan argumen-argumen yang dilontarkannya. Pemirsa seolah terbuai dengan logika, data, narasi yang digunakan oleh Ferry Irwandi.
Banyak orang bertanya-tanya, saya juga, cara Ferry Irwandi menarasikan suatu masalah seperti orang yang belajar filsafat. Narasinya menukik dan tajam seperti uraian yang ditulis para filsuf.
Sebelum kemunculan Ferry Irwandi, sebenarnya sudah ada Rocky Gerung yang tampil dengan pemikiran kritisnya. Ia selalu mengkonfrontasi dan mengkonfirmasi berbagai situasi yang terjadi di Indonesia.
Kita sering mendengar narasinya yang begitu njelimet namun penuh makna tentang pemikiran filsuf atau konteks yang terjadi pada eranya.
Rocky Gerung dijuluki sebagai filsuf walaupun kadang kami yang pernah belajar filsafat menilai argumen-argumennya terdapat unsur cocokologi.
Terlepas dari kontroversi itu, Rocky Gerung selalu hadir dan berani berdebat atau berdialektika dengan banyak orang entah itu akademisi, politisi, bahkan pejabat sekalipun. Ia selalu berangkat dengan skeptisnya “mengapa” ketika dalam satu diskursus.
Cara Ferry Irwandi, Rocky Gerung, bahkan Romo Magnis Suseno dan banyak tokoh lainnya saat memandang, menghadapi, atau mengulik sebuah permasalahan merupakan pola pikir, cara berpikir, cara menganalisa yang kita harapkan untuk semua orang terutama generasi alpha.
Saat suatu masalah terjadi, kita bisa berargumen dengan komprehensif, logis, tidak mengada-ada, berangkat dari data, sehingga narasinya hidup dan kuat.
Belajar dari Teks dan Konteks
Awal mula orang berfilsafat dari skeptis: meragukan, selalu mempertanyakan dan tidak gampang menerima informasi begitu saja.
Kalau kita perhatikan, ketika Ferry Irwandi memulai bernarasi, ia berangkat dari konteks yang dekat dan sedang terjadi.
Apalagi, Ferry menggunakan konteks yang digandrungi generasi alpha. Melihat vlognya di youtube, Ferry Irwandi dengan renyah menjelaskan pertanyaan dari netizen.
Ferry Irawan dan tokoh-tokoh lainnya memiliki cara pikir demikian tidak lahir begitu saja melainkan hasil proses yang mereka lalui.
Proses itu mereka lalui melalui pendalaman terhadap teks dan konteks. Teks dan konteks dilakukan secara berbarengan.
Proses yang dilalui mereka ialah dengan membaca banyak buku sesuai dengan minat.
Teori-teori abstrak sebagai fondasi pemikiran itu didapat dari para pemikir terdahulu. Pemikiran yang terbentuk berasal dari peziarahan dari waktu ke waktu. Situasi politik, ekonomi, sosial, religi, budaya, dan sebagainya yang terjadi turut mempengaruhi.
Teks bacaan memperkaya perspektif dan menimbulkan sikap reflektif. Konteks membantu untuk memberi pemahaman bahwa setiap masa itu memiliki keistimewaan.
Teks dan konteks itu membuat pembaca terhipnotis untuk ikut merasakan bagaimana teks itu dapat terbentuk dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Budaya membaca dan memahami konteks masih sangat minim bagi Indonesia. Berdasarkan Survei BPS, kegemaran membaca orang Indonesia tahun 2024 sebesar 72,44 persen.
Nilai ini masih masuk dalam kategori sedang. Artinya, budaya membaca belum kuat dan perlu peningkatan lebih lanjut. Namun, survei BPS ini belum membahas jenis buku yang dibaca hanya sebatas durasi membaca, jumlah buku yang dilahap, hingga frekuensi dan durasi akses internet.
Belum lagi bagaimana orang Indonesia dapat memahami konteks-konteks dari tulisan yang dibaca. Pada intinya, membaca belum menjadi budaya di Indonesia. Masih segelintir orang yang berminat membaca teks-teks njelimet.
Ketika kita membudayakan untuk membaca teks-teks yang membutuhkan pemahaman maka ada keyakinan daya kritis orang Indonesia bisa seperti Ferry Irwandi, Rocky Gerung, Romo Magnis dan lain-lain.
Budaya membaca sungguh urgen untuk diterapkan di Indonesia demi penalaran yang lebih kritis sehingga tidak mudah termakan hoaks. Teks dan konteks menjadi penting demi peningkatan nalar kritis kita.
Perbanyak Diskursus
Repetitio est mater scientiarum (pengulangan adalah induk dari segala pengetahuan) atau dalam ungkapan lain a la bisa karena biasa. Usai mengisi diri dengan teks-teks dan membedah konteks melalui bacaan-bacaan, seseorang diharapkan untuk berdiskusi dari hal-hal ringan seputar masalah sosial yang terjadi di sekitar.
Kita mencoba menguraikan masalah-masalah sosial dengan berbagai macam perspektif. Latihan diskursus ini membekali seseorang supaya dapat berpikir seperti yang dilakukan Ferry Irwandi.
Diskusinya dimulai dari lingkup kecil, kemudian pelan-pelan ke lingkup lebih luas dan besar. Berbagai macam diskursus dapat kita temukan dalam sejarah filsafat.
Seorang filsuf abad ke-16, Rene Descartes mengenalkan metode pemikiran untuk menemukan pengetahuan yang pasti dan jelas.
Descartes memberi petunjuk untuk mengasah penalaran: tidak menerima kebenaran tanpa bukti, membagi masalah menjadi bagian-bagian kecil (analisis), memulai dari yang sederhana menuju yang kompleks (tesis), dan membuat peninjauan menyeluruh (enumerasi).
Kerangka berpikir ini menjadi titik awal penemuan pengetahuan untuk penyelidikan rasional dan memperoleh pengetahuan yang andal (cogito ergo sum: aku berpikir maka aku ada).
Filsuf lainnya Hegel memberi teori kerangka berpikir dengan tiga tahapan dalam proses dialektika yaitu tesis, antitesis, sintesis. Tesis merupakan ide, kondisi, atau proposisi pada tahap awal.
Antitesis ialah reaksi atau mengkritisi tesis awal atau mempertanyakan tesis. Sintesis merupakan integrasi antara tesis dan sintesis.
Sejatinya masih banyak sistem berpikir yang ditawarkan filsuf atau tokoh. Namun, sistem berpikir bisa terwujud dengan latihan-latihan yang sering atau perbanyak diskursus.
Ferry Irwandi, Rocky Gerung, Romo Magnis memiliki sistem berpikir yang kita saksikan sekarang dalam berbagai tayangan karena hasil berbagai diskursus yang dilakukan untuk mempertajam dan mengasah cara berpikir.
Diskursus bisa dari lingkup kecil, teman sebaya, teman sekampus, kelompok belajar, lalu pelan-pelan ke lingkup besar.
BACA JUGA: Pemimpin Gaya Srimulat Kapolres Serang
Membentuk Sistem Berpikir Gen Alpha
Generasi alpha merupakan generasi penerus. Harapan bangsa terletak di pundak mereka. Gen A tumbuh dalam lanskap teknologi digital yang berbeda dari generasi sebelumnya.
Mereka memiliki tingkat fleksibilitas kuat bahkan mereka dikategorikan sebagai orang yang mandiri yang mengarah pada individualitas.
Demi mewujudkan generasi emas, generasi A harus dibekali dengan berbagai hal terutama sistem berpikir mereka harus dilatih. Perihal teknologi mereka tak tertandingi tetapi sistem berpikir mereka yang kritis harus juga diimbangi.
Kita harus membuka ruang-ruang diskursus bagi mereka supaya mereka bisa belajar berargumen yang logis dan akurat. Mereka harus dibekali kepekaan sosial yang sesuai dengan konteks untuk membaca situasi.
Teks-teks yang mereka baca perlu diuji dalam diskursus bertahap dari lingkup kecil hingga diskursus lingkup besar.
Dengan membentuk sistem berpikir yang sistematis, logis, akurat, akal budi, hati nurani, norma-norma agama/sosial gen A tetap terjaga dan bisa berjalan beriringan dengan kepiawaian mereka dalam mengoperasikan teknologi.
====
Penulis ASN Kemenag Kabupaten Asahan/Alumnus Magister Filsafat Keilahian Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com, tidak ada korespondensi.

