| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

DI TENGAH kondisi ekonomi yang kurang menggembirakan, anehnya pusat perbelanjaan terus dipenuhi orang. Antrean untuk kopi kekinian tidak pernah sepi, dan tiket konser musik ludes dalam waktu singkat. Seolah, masyarakat kita telah menemukan cara misterius untuk menjalani kehidupan mewah meskipun dalam kesulitan.
Namun, apakah ini benar-benar menunjukkan kemakmuran atau justru menandakan bahwa kita hidup di atas utang dan kesombongan?
“Dompet Menjerit, Gaya Hidup Melejit” adalah cerminan kecil dari masa-masa aneh ini. Saat saldo bank tidak lagi mencerminkan kesan di media sosial.
Ketika orang mau berhemat demi untuk memamerkan gaya hidup. Kita berada dalam era yang penuh paradoks: perekonomian melemah, tetapi ego masih tetap kuat.
Tulisan ini bukan hanya sekadar protes mengenai biaya hidup yang tinggi, tetapi juga merupakan ajakan untuk melihat dengan humor lalu menyadari bagaimana kerap kita terjebak dalam siklus konsumsi demi citra.
Dengan nada satir dan sindiran yang lembut mencoba menyingkap satu kenyataan pahit namun menggelikan: bahwa di tengah krisis, yang tetap mengalami pertumbuhan bukanlah daya beli, melainkan keinginan untuk memamerkan.
"Ekonomi sedang dalam keadaan sulit", keluh sebagian besar orang. Namun, yang menjengkelkan, barisan di kafe kopi tetap padat, tiket konser selalu habis terjual, dan toko daring tak pernah berhenti menawarkan diskon besar.
Seolah kita hidup dalam dua realitas: dunia nyata yang semakin memberatkan, dan dunia digital yang terus memikat perhatian.
Kontradiksi zaman ini tampak jelas setiap akhir bulan. Dompet mulai kosong, tetapi gaya hidup tidak mau berkurang. Harga beras meningkat, sementara pembayaran langganan Netflix tetap lancar.
Uang untuk bahan bakar menipis, tetapi gadget terbaru tetap wajib ada. Kita dapat menghemat untuk keperluan penting, namun bersikap boros untuk hal-hal sepele yang bisa dipamerkan di media sosial.
Inilah periode ketika kondisi ekonomi sedang lesu, namun keinginan untuk bersosialita tetap melesat. Kita bersedia berhemat demi tidak ketinggalan dalam hal gaya. Lebih memilih menyantap mi instan di tempat tinggal daripada terlihat "biasa" di jejaring sosial.
Yang menarik, walaupun banyak di antara kita menyadari ketidakbenaran ini, kita tetap melakukannya, seakan-akan gengsi telah menjadi kebutuhan dasar keempat setelah sandang, pangan, dan papan.
Sosiolog menyebut fenomena ini sebagai "inflasi gaya hidup". Ini terjadi ketika pendapatan tidak meningkat, tetapi ekspektasi hidup pribadi terus melambung.
Bukan karena kebutuhan sesungguhnya, melainkan akibat perbandingan sosial. Kita merasa tidak puas bukan karena benar-benar berkekurangan, melainkan karena melihat orang lain yang terlihat lebih "mewah".
Padahal, bisa jadi, individu yang tampak kaya di media sosial sebenarnya tengah menunggu pembayaran utang yang jatuh tempo.
Konsumsi Gengsi dan Ilusi Prestasi
Dahulu, definisi keberhasilan itu sangat jelas: memiliki rumah, anak yang bersekolah, dan dapur yang selalu aktif. Saat ini, keberhasilan dinilai dari seberapa sering kita membagikan cerita dengan latar yang mewah.
Kita tidak berjuang untuk meningkatkan kualitas hidup, melainkan berusaha agar tampak lebih baik daripada yang lain. Masyarakat kita terjebak dalam era pencitraan ekonomi. Gaya hidup menjadi lambang prestisius, bukan lagi cerminan keadaan finansial yang sebenarnya.
Kartu kredit dan pembayaran cicilan menjadi peralatan ajaib yang memungkinkan siapa pun untuk terlihat sejahtera setidaknya sebelum tagihan datang.
Seringkali, seseorang berutang untuk hal-hal yang bahkan tidak ia nikmati sepenuhnya. Kopi yang mahal hanya diminum separuh karena yang lebih utama adalah memotret daripada menikmati rasanya.
Pakaian branded diakuisisi untuk diabadikan dalam foto satu kali dan kemudian disimpan, menunggu kiriman like dan komentar “keren!” sebagai pengganti kepuasan diri.
Di sisi lain, kenyataan ekonomi justru semakin menekan: biaya hidup meningkat, harga barang kebutuhan melambung tinggi, dan kesempatan kerja tidak bertambah.
Namun entah mengapa, hasrat untuk berpenampilan menarik tampaknya tidak akan pudar. Mungkin ini karena status sosial sudah dianggap sebagai penghibur seolah-olah menjadi salep bagi luka ekonomi yang tidak kunjung sembuh.
Kita sering melupakan bahwa tidak ada kemewahan yang tidak berharga. Biaya dari semua "pencitraan sosial" itu adalah tekanan, kecemasan, dan utang.
Generasi saat ini tidak hanya bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga berjuang untuk mempertahankan gaya hidup yang telah mereka pilih.
Ada ungkapan baru yang muncul di kota-kota besar: “Yang terpenting adalah terlihat mampu, meskipun sebenarnya hidupnya dalam cicilan”.
Anehnya, semakin kita berusaha untuk tampil kaya, semakin jauh kebahagiaan sejati terasa dari kita.
Antara Rasionalitas dan Rasa Cukup
Masalah utama dari cara hidup zaman sekarang bukanlah berkaitan dengan kurangnya uang, melainkan ketidakmampuan untuk menentukan kapan harus berhenti.
Kita terus berusaha memenuhi ekspektasi hidup yang ditetapkan oleh orang lain, bukan berdasarkan apa yang kita butuhkan.
Setelah mendapatkan ponsel baru, akan selalu ada versi yang lebih canggih. Setelah memakai sepatu yang keren, pasti ada model yang lebih atraktif.
Hidup menjadi kompetisi yang tidak pernah berakhir, dengan imbalan yang sering kali tidak nyata. Namun, kesederhanaan tidak selalu berarti kekalahan.
Mengurangi tingkat gaya hidup bukanlah tanda kegagalan, melainkan merupakan bentuk kebebasan keuangan. Ketika kita dapat mengatakan “tidak perlu” untuk hal-hal yang tidak esensial, itulah saatnya kita benar-benar memiliki kontrol atas kehidupan kita sendiri.
Sayangnya, masyarakat kita belum sepenuhnya menerima kesederhanaan sebagai sesuatu yang membanggakan. Mereka yang berhemat sering disebut “pelit”, sementara mereka yang boros dianggap “gaul”.
Kita lebih takut diberi label sebagai orang miskin daripada mengalami kemiskinan itu sendiri. Saat ini, banyak generasi muda bekerja keras bukan untuk menabung, melainkan demi memenuhi kebiasaan berkumpul.
Faktanya, secangkir kopi yang sama dapat dinikmati di rumah tanpa pencahayaan neon dan musik yang mengganggu, bahkan lebih memuaskan jika dinikmati tanpa beban pikiran akan cicilan.
Krisis ekonomi seharusnya mengingatkan kita untuk lebih berhati-hati, tetapi realitanya justru bertentangan. Banyak orang malah menambah beban utang demi mempertahankan citra, seolah-olah kemakmuran harus selalu dipamerkan.
Ini adalah sebuah ironi di era digital: kita takut akan pandangan orang lain terkait kesulitan, namun tidak khawatir tentang kondisi kesulitan yang sebenarnya.
Pada akhirnya, hanya segelintir orang yang berani menentang norma. Mereka yang memahami bahwa kebahagiaan tidak bisa dibeli melalui diskon, dan ketenangan batin bukan sesuatu yang bisa dicicil dengan sistem pembayaran angsuran.
Kebahagiaan bukan tentang kepemilikan, melainkan seberapa besar kita bersedia melepaskan hal-hal yang tidak penting. Meskipun keadaan ekonomi sulit, logika tidak seharusnya ikut terpuruk.
Di dunia yang terus berupaya mengejar penampilan, mereka yang paling elegan adalah yang tahu kapan harus merasa cukup. Meskipun kondisi keuangan mungkin tertekan, setidaknya hati dan pikiran tetap seimbang.
BACA JUGA: Manusia Modern dan Pentingnya Jeda Hidup
Penutup: Saatnya Gaya Hidup Menyesuaikan Dompet, Bukan Sebaliknya
Jika kita menginginkan peningkatan dalam keuangan pribadi dan kolektif, salah satu tindakan kecil yang dapat diambil adalah: berhenti menjalani hidup demi penampilan.
Mulailah hidup berdasarkan apa yang mampu, bukan karena harapan orang lain. Sebab, tidak ada yang lebih mahal daripada berusaha tampil seolah-olah kaya.
Cukup itu bukanlah suatu kelemahan. Cukup adalah tanda kedewasaan finansial, kemampuan untuk menikmati apa yang dimiliki tanpa menyesali hal-hal yang belum diraih.
Oleh karena itu, di tengah dunia yang semakin gaduh dengan pameran kemewahan, mari belajar untuk mengatakan: "Aku cukup, Aku bahagia, dan aku tidak perlu membuktikan diri melalui nilai".
====
Penulis Dosen Tetap Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas HKBP Nommensen
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com, tidak ada korespondensi.

