| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

FENOMENA diskon sering kali dipersepsikan sebagai kabar baik bagi konsumen. Angka diskon yang besar, seperti 50% ditambah 20%, secara psikologis memberi kesan penghematan luar biasa. Namun, jika dicermati lebih dalam, tidak jarang diskon justru menjadi bagian dari strategi harga yang dirancang untuk memikat emosi pembeli, bukan semata-mata memberi keuntungan nyata.
Mari kita mulai dari ilustrasi sederhana. Sebuah produk awalnya memiliki harga normal sebesar Rp 100.000.. Harga ini adalah acuan awal yang logis dan dapat diterima oleh konsumen.
Namun, setelah diberlakukan kebijakan diskon, harga yang dipajang justru menjadi Rp 350.000, dengan klaim diskon besar: 50% plus 20%. Sekilas, konsumen akan terfokus pada besarnya potongan harga, bukan pada perubahan harga dasar yang signifikan.
Diskon pertama sebesar 50% dari Rp 350.000 menghasilkan potongan Rp 175.000. Setelah diskon ini, harga tersisa menjadi Rp 175.000.
Kemudian, diskon kedua sebesar 20% dikenakan pada sisa harga tersebut, yaitu 20% dari Rp 175.000, yang setara dengan Rp 35.000. Jika dijumlahkan, total nilai diskon yang diberikan adalah Rp 210.000. Dengan demikian, harga akhir yang harus dibayar konsumen menjadi Rp 140.000.
Pada titik ini, banyak konsumen merasa menang. Dari harga Rp 350.000, mereka hanya membayar Rp 140.000. Secara nominal, potongan Rp 210.000 terlihat sangat menggiurkan. Namun, jika kita kembali ke harga awal sebelum kebijakan diskon diberlakukan, yaitu Rp 100.000, maka muncul fakta yang cukup mengejutkan.
Harga akhir setelah diskon ternyata lebih mahal Rp 40.000 dibandingkan harga awal. Artinya, meskipun konsumen merasa mendapatkan diskon besar, secara riil mereka justru membayar lebih mahal.
Inilah yang disebut sebagai ilusi diskon. Strategi ini memanfaatkan cara berpikir manusia yang cenderung fokus pada persentase potongan, bukan pada perbandingan harga awal dan harga akhir secara rasional.
Angka 50% + 20% terdengar jauh lebih menarik dibandingkan sekadar kenaikan harga dari Rp 100.000 menjadi Rp 140.000. Padahal, secara ekonomi, konsumen mengalami kenaikan harga sebesar 40%.
Strategi ini bukanlah hal baru dalam dunia pemasaran. Banyak penjual sengaja menaikkan harga terlebih dahulu, lalu memberikan diskon besar agar produk terlihat lebih murah dan bernilai tinggi.
Secara psikologis, konsumen merasa mendapatkan keuntungan karena berhasil “mengalahkan harga mahal” melalui diskon. Padahal, harga mahal tersebut sengaja diciptakan sebagai jangkar (price anchoring) untuk memengaruhi persepsi nilai.
Dalam konteks ini, diskon tidak lagi berfungsi sebagai alat untuk berbagi efisiensi atau keuntungan dengan konsumen, melainkan sebagai instrumen manipulasi persepsi.
Konsumen tidak diajak berpikir secara rasional, tetapi diarahkan untuk bereaksi secara emosional. Kata-kata seperti diskon besar, hemat hingga ratusan ribu, atau kesempatan terbatas semakin memperkuat dorongan impulsif untuk membeli.
Dari sisi penjual, strategi ini dianggap efektif karena mampu meningkatkan volume penjualan dan menciptakan kesan eksklusivitas. Produk yang diberi diskon besar sering kali terlihat lebih laris dan diminati.
Namun, dari sudut pandang etika dan literasi konsumen, praktik semacam ini patut dikritisi. Diskon seharusnya mencerminkan pengurangan harga dari nilai wajar, bukan dari harga yang sengaja dinaikkan terlebih dahulu.
Kasus ini juga menjadi pelajaran penting bagi konsumen agar lebih kritis dan cerdas dalam mengambil keputusan pembelian. Alih-alih terpaku pada besarnya persentase diskon, konsumen perlu membandingkan harga akhir dengan harga historis atau harga pasar yang wajar.
Pertanyaan sederhana seperti berapa harga normal produk ini sebelum diskon? dapat membantu menghindari jebakan promosi semu.
Lebih jauh, fenomena ini menunjukkan pentingnya literasi keuangan dan literasi konsumen dalam kehidupan sehari-hari. Diskon, cashback, dan promo bukanlah musuh, tetapi tanpa pemahaman yang baik, semuanya dapat menjadi alat yang merugikan.
Konsumen yang cerdas bukanlah mereka yang selalu membeli produk diskon, melainkan mereka yang mampu menilai apakah diskon tersebut benar-benar memberikan nilai tambah.
Pada akhirnya, strategi diskon semacam ini menggambarkan bahwa dalam transaksi ekonomi, yang diperdagangkan bukan hanya barang, tetapi juga persepsi dan emosi.
Penjual memainkan angka untuk membangun narasi keuntungan, sementara konsumen sering kali terjebak dalam euforia potongan harga. Dengan memahami logika di balik perhitungan diskon, konsumen dapat mengambil kembali kendali atas keputusan belanjanya.
BACA JUGA: Desember dan Paradoks Ekonomi
Kesimpulannya, meskipun secara matematis konsumen mendapatkan diskon sebesar Rp 210.000, secara ekonomis mereka justru mengalami kenaikan harga Rp 40.000, dibandingkan harga awal Rp 100.000.
Fakta ini menegaskan bahwa diskon besar tidak selalu berarti murah. Diskon bisa menjadi strategi pemasaran yang cerdas, tetapi juga bisa menjadi jebakan jika konsumen tidak berhitung dengan jernih.
Oleh karena itu, berpikir kritis dan rasional adalah diskon terbaik yang bisa diberikan konsumen untuk dirinya sendiri.
====
Penulis Dosen Tetap Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas HKBP Nommensen
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com

