| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

Medanbisnisdaily. com-Medan. Sejumlah Mahasiswa mengaku mendapatkan intimidasi dari Rektor Universitas Darma Agung (UDA) Prof Suwardi Lubis.
Intimidasi terjadi lantaran mahasiswa menolak untuk membayar uang kuliah ke pihak Yayasan Perguruan Darma Agung (YPDA) yang diketuai oleh Hana Nelsri Kaban.
Sehingga selaku Rektor UDA yang diangkat YPDA pimpinan Hana Nelsri Kaban, Prof Suwardi Lubis sempat mengeluarkan kalimat bernada ancaman dengan menyebut mahasiswa yang membayar uang kuliah ke pihak rektorat yang dipimpin YPDA Partahi Siregar tidak sah.
"Prof Suwardi Lubis malah mengancam kami kalau yang tidak membayar uang kuliah ke pihak YPDA yang baru, maka kami dianggap gagal. Karena nilai kami tidak sah (membayar ke YPDA lama)," kata mahasiswa yang mengaku mendapatkan intimidasi dari Prof Suwardi Lubis kepada medanbisnisdaily.com, Kamis (20/11/2025).
Dikatakan, intimidasi itu terjadi pada Rabu (19/11/2025), saat dia dan mahasiswa lain mendatangi gedung biro rektor.
Saat bertemu dengan Prof Suwardi Lubis, mahasiswa pun mempertanyakan soal adanya poster pengumuman yang berisikan soal pemberitahuan mengenai keabsahan yayasan yang mengelola UDA pasca terjadinya konflik internal di tubuh YPDA.
Dalam poster itu, katanya, juga tertulis bahwa pembayaran uang kuliah mahasiswa harus ke rekening kampus yang dikekola YPDA Hana Nelsri Kaban.
Serta tertulis jadwal pendaftaran dan pelaksanaan wisuda yang bakal digelar pada 8 Desember 2025.
"Terus saat itu Prof Suwardi Lubis yang ditunjuk sebagai rektor oleh yayasan baru mengeluarkan kata-kata bernada ancaman dan intimidasi yang menyebut kalau mahasiswa yang tidak membayar uang kuliah melalui yayasan baru dianggap tidak akan lulus ujian," keluhnya.
Atas intimidasi yang dialaminya itu, dia dan mahasiswa lain yang mengaku telah membayar uang kuliah ke yayasan lama pun melaporkan kejadian itu ke pihak YPDA pimpinan Partahi Siregar.
"Karena kan kami juga takut kalau kami enggak bisa ikut ujian makanya dengan bukti video yang sempat diambil oleh beberapa mahasiswa yang ada saat kejadian itu," sebutnya sembari bilang bahwa oleh yayasan lama kami bisa mengikuti ujian hari ini.
Prof Suwardi Lubis yang dihubungi medanbisnisdaily.com tidak memberikan jawaban atas komfirmasi yang dilayangkan kepadanya secara daring melalui WhatsApp miliknya.
Laporkan
Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah 1 Sumatera Prof Saiful Anwar Matondang meminta mahasiswa yang mendapat intimidasi bisa melaporkan hal itu ke pihaknya.
"Jika itu memang terjadi (dugaan intimidasi) laporkan ke LLDIKTI," katanya.
Lalu perihal adanya pengumuman tentang jadwal wisuda seperti yang diumumkan oleh UDA Medan, Prof Saiful Matondang mengaku bahwa hingga saat ini akun master Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) UDA masih diproses di Pusat Data dan Informasi Kemendiktisaintek.
"Saat ini belum ada akun master PDDikti UDA yang baru. Itu masih berproses di Pusdatin Kemendiktisaintek dan jika udah ada nanti diserahkan ke LLDikti Wilayah 1 Sumatera," katanya.
Meski tidak mau terlalu mengomentari soal jadwal wisuda yang bakal dilakukan oleh UDA pada 8 Desember 2025 nanti. Namun, Prof Saiful Matondang kembali memberikan penegasan bahwa akun master PDDikti UDA baru belum ada karena masih diproses.
Akun PDDikti itu sendiri adalah akun informasi terkait dosen dan mahasiswa, mulai dari detail pribadi hingga catatan tentang kegiatan mengajar, posisi jabatan, tingkat pendidikan, status, serta sertifikasi dosen. Informasi seputar mahasiswa juga tersedia, mencakup informasi detail pribadi, status studi, hingga catatan kelulusan mereka.
Rekayasa Nilai
Sementara dari tayangan video berdurasi 25 detik yang direkam mahasiswa terdengar perdebatan antara Prof Suwardi Lubis dan mahasiswa.
Dalam percakapan itu terekam ucapan dari Prof Suwardi yang mengaku bisa melakukan rekayasa nilai bagi mahasiswa yang tidak membayar uang kuliah ke pihak yayasan Hana Nelsri Kaban.

