| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

Medanbisnisdaily.com-Medan. Kopi adalah komoditas seksi. Harga di level hilir tinggi, tapi di hulunya keringat petani tidak dihargai dengan layak. Petani kopi harus lebih paham dengan tanaman dan jerih payahnya serta lepas dari jerat tengkulak untuk bisa hidup dengan sejahtera.
Triwijaya dari Badan Nasional Sertifikasi Nasional (BNSP) mengaku ingin mengembangkan asosiasi kopi di Sumatera. Selain kepada barista, pihaknya ingin lebih jauh menjangkau ke petani dengan memberikan pemahaman lebih luas kepada petani tentang komoditas yang dibudidayakannnya.
Hal tersebut menurutnya bertujuan untuk menjauhkan petani dari tengkulak. Dia merasa kasihan dengan petani yang kerap kali hasil panennya dihargai dengan rendah. Keringat petani keluar sejak mula hingga panen dan hasilnya dibeli dengan rendah.
"Sekarang menanam kopi sampai panen, berapa lama? Berapa banyak keringat yang dikeluarkan. Begitu panen hanya dihargai separuhnya saja. Tengkulak itu dihindari, kecuali dia mau membeli dengan harga yang wajar," katanya kepada medanbisnisdaily.com, Kamis (25/10/2018), di sela-sela Uji Kompetensi Barista yang digelar di Mabes Kafe, Jalan Setia Budi, Medan yang diikuti oleh 20 barista dari Medan dan Aceh, 24-25 Oktober 2018.
Di Jombang, Jawa Timur, petani kopi arabika di sudah mampu lepas dari jerat tengkulak. Asosiasi kopi sudah sudah tertata dengan rapi dan memungkinkannya tidak memiliki hubungan dengan tengkulak.
Aktivitas penanaman, perawatan, panen, roasting, hingga packaging sudah bisa dilakukan petani dengan judul atau nama bermacam-macam sesuai kopi yang ditanamnya. Di Jombang hanya ada satu asosiasi. Keberadaannya didukung oleh pemerintah daerah dengan dinas terkaitnya, memiliki koperasi.
"Jadi petani itu menjual kopinya ke koperasi yang membelinya dengan harga jauh lebih tinggi dibandingkan tengkulak. Koperasi itu yang kemudian mendistribusikanya ke mana-mana," katanya.
Ketua Sumatera Coffee Association (SCA), Joko Priyanto mengatakan, kopi tidak lagi sekedar tren atau gaya hidup. Kopi sudah menjadi kebutuhan. Hal tersebut bisa dilihat dari banyaknya keda-kedai kopi mulai dari gerobak dorong atau kafe. Namun, kopi yang dijualnya adalah kopi berkualitas.
"Mereka menyajikan kopi gayo, toraja, sidikalang, artinya. Dari sisi harga, setahun belakangan tidak ada turun lagi. Kopi gayo Rp 100 ribuan/kg untuk green bean. Kalau sudah roasted, bisa sampai Rp 250 ribuan/kg. Ekonomi terus berjalan," katanya.

