| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

PADA 17 Agustus 2045 Indonesia akan merayakan HUT kemerdekaan ke-100-nya. Perayaan ini bukan hanya sekadar peringatan kemerdekaan tahunan, tetapi juga merupakan momentum penting untuk mencapai masa keemasannya.
Indonesia Emas 2045 adalah visi yang diusung untuk membawa negara ini menuju cita-cita yang telah dicanangkan. Visi ini bertujuan menjadikan Indonesia negara maju, sejahtera, dan berdaya saing global.
Dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa, Indonesia memiliki potensi besar untuk mencapai status negara maju. Visi ini ditetapkan bukan tanpa alasan; Indonesia akan berada dalam periode bonus demografi pada tahun 2045, di mana jumlah penduduk usia produktif jauh lebih besar daripada usia non-produktif.
Ini adalah kesempatan emas yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Bayangkan, jika sumber daya manusia ini dikelola dengan baik, bangsa ini akan didominasi oleh sumber daya manusia yang berkompeten dan inovatif, yang akan menjadi motor penggerak untuk membawa Indonesia ke puncak kemajuan.
BACA JUGA: Persaingan Gen Z Cari Pekerjaan
Mengapa dengan Generasi Z?
Hasil sensus penduduk 2020 menunjukkan bahwa Generasi Z, yang lahir antara 1997 hingga 2012, kini mendominasi struktur demografis Indonesia, mencakup sekitar 27,94% dari total populasi.
Generasi ini akan mencapai usia produktif pada tahun 2045 dan menjadi pionir yang akan memimpin bangsa ini, di mana saat ini mereka masih menjalani pendidikan atau baru memulai karier.
Mereka lahir dan tumbuh dalam era digital dan teknologi dengan akses luas ke informasi dan teknologi yang tidak dimiliki oleh generasi sebelumnya. Generasi ini berinteraksi dengan dunia melalui cara yang berbeda, dengan pandangan unik terhadap isu sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Menjadi generasi yang terhubung dengan digital dan teknologi memungkinkan mereka untuk lebih peka terhadap perubahan global dan lokal. Generasi Z diharapkan memiliki kemampuan untuk belajar dan beradaptasi dengan cepat, serta memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan kreativitas.
Hal ini akan menjadikan mereka aset berharga dalam menghadapi tantangan masa depan, terutama dalam merespons dinamika pasar dan perkembangan teknologi yang terus berubah.
BACA JUGA: Dilema PHK Industri Digital
Tantangan yang Dihadapi
Badan Pusat Statistik (BPS) dalam sensus penduduk 2020 mencatat bahwa ada 9,9 juta penduduk pada rentang usia 15 hingga 24 tahun, yang termasuk dalam Generasi Z, tidak bekerja.
Hasil dari Sakernas Agustus 2023 menyatakan bahwa 22,25 persen dari 44,7 juta anak muda Generasi Z masuk dalam kategori NEET (Not in Employment, Education, or Training).
Artinya, mereka tidak sedang sekolah, bekerja, atau mengikuti pelatihan. Kondisi ini bisa menjadi salah satu faktor gagalnya pemanfaatan bonus demografi serta visi Indonesia Emas 2045.
Lebih mengkhawatirkan lagi, dari total 142,18 juta penduduk yang bekerja, sekitar 59,17 persen berada di sektor informal, seperti pekerja lepas, usaha sendiri, atau di bidang pertanian dan non-pertanian.
Tingginya proporsi pekerja informal ini menjadi tanda bahwa kita perlu lebih serius dalam menciptakan lapangan kerja formal yang berkualitas. Jika kita tidak segera menangani ini, bonus demografi yang seharusnya jadi keuntungan bisa saja malah menjadi bumerang.
Selain itu, menurut World’s Most Literate Nations pada tahun 2016, Indonesia menduduki peringkat ke-60 dalam tingkat literasi di seluruh dunia. Hal ini menunjukkan masih rendahnya budaya literasi di negara kita.
Belum lagi, kurangnya pengenalan terhadap dunia penelitian atau ilmiah sejak dini di sekolah dasar atau menengah membuat siswa kurang terbiasa berpikir kritis dan ilmiah.
Akibatnya, banyak di antara Generasi Z yang mudah terpengaruh oleh konten FYP di media sosial tanpa memverifikasi kebenarannya. Ini menjadi tantangan besar bagi kita dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga kritis dan berdaya saing global.
Kita harus bisa merefleksikan diri ke negara-negara yang berhasil mengelola bonus demografi dan menghantarkan negaranya menjadi negara maju, seperti Jepang dan Korea.
Mereka mampu memanfaatkan lonjakan usia produktif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan inovasi. Namun, jika kita gagal mengelola bonus demografi ini, bisa-bisa kita bernasib seperti Afrika Selatan dan Brasil, yang terjebak dalam pengangguran tinggi dan stagnasi ekonomi.
BACA JUGA: Artificial Intelligence dan Era Baru Dunia Bisnis
Peran dan Kontribusi Generasi Z
Generasi Z harus siap beradaptasi dengan perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), yang diperkirakan akan mengubah hingga 70 persen pekerjaan saat ini. Ini menimbulkan kekhawatiran tentang masa depan profesional mereka.
Namun, alih-alih cemas, Generasi Z harus melihat ini sebagai peluang untuk berkembang. Mereka perlu meningkatkan keterampilan dan pengetahuan agar mampu bersaing di era yang semakin didominasi oleh teknologi.
Pendidikan yang relevan dengan kebutuhan industri masa depan menjadi faktor krusial, dan oleh karena itu, pengalokasian anggaran pendidikan dalam APBN harus dihitung ulang dan ditingkatkan.
Saat ini, alokasi dana pendidikan hanya mencapai 3% dari total APBN. Agar sesuai dengan amanah konstitusi, alokasi ini perlu ditingkatkan. Dengan pengelolaan yang tepat, terobosan berani seperti menerapkan wajib belajar hingga perguruan tinggi akan berdampak besar pada sektor pendidikan.
Ini akan berpengaruh pada peningkatan rasio penduduk berpendidikan S-2 dan S-3, yang saat ini baru mencapai 0,45 persen, jauh di bawah negara maju yang mencapai 9,8 persen, dan bahkan tertinggal dari Vietnam dan Malaysia yang berada di angka 2,43 persen.
Di sisi lain, terkait adanya pergeseran minat Generasi Z ke pekerjaan informal, hal ini bisa diatasi dengan pengembangan sektor wirausaha. Saat ini, jumlah wirausaha di Indonesia hanya 3,4 persen dari total penduduk, sedangkan di negara maju biasanya mencapai belasan persen.
Penting untuk mendorong lebih banyak generasi muda terjun ke dunia wirausaha. Pemerintah dan sektor swasta harus menyediakan dukungan yang memadai, baik dalam bentuk akses permodalan, pelatihan, maupun kebijakan yang kondusif.
Selain itu, yang tidak kalah penting, Generasi Z juga perlu berperan aktif dalam menjaga lingkungan melalui ekonomi hijau yang sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs).
BACA JUGA: Pesatnya Layanan FinTech, Ancaman atau Anugerah?
Perkembangan globalisasi dan teknologi, jika dimanfaatkan dengan baik, harus sejalan dengan kepedulian terhadap lingkungan, mengingat pentingnya pengembangan ekonomi hijau dalam memperbaiki kondisi lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan manusia secara berkelanjutan.
Generasi Z bisa berpartisipasi melalui aktivitas bisnis dan konsumsi yang bertanggung jawab lingkungan, seperti memulai bisnis hijau yang mengurangi penggunaan plastik, mempromosikan energi terbarukan, dan mengurangi emisi gas rumah kaca.
Dengan memulai bisnis hijau, Generasi Z tidak hanya akan memberikan sumbangsih bagi perekonomian tetapi juga bagi pelestarian lingkungan.
Mereka juga bisa memilih produk dan layanan yang memenuhi standar hijau dan mengajak orang lain untuk bersama-sama membangun ekonomi hijau dengan memberikan edukasi serta mempengaruhi perilaku konsumsi.
Generasi Z memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan yang membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.
Jika mampu mengelola bonus demografi ini dengan baik, bukan tidak mungkin kita menjadi negara selanjutnya yang sukses memanfaatkan bonus demografi dengan potensi yang kita punyai.
====
Penulis Mahasiswa Politeknik Statistika STIS 63, magang di BPS Kota Medan
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, merupakan pendapat pribadi/tunggal) penulis, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto penulis (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]

