| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

SEJAK merdeka, pendidikan sudah menjadi jantung dari kemajuan negara ini. Pendidikan telah memompa kehidupan seluruh elemen yang telah memberi arah dan tenaga. Berangkat dari sejarah Negara Indonesia yang telah menunjukkan bahwa kemerdekaan dan kemajuan selalu bermula dari kesadaran akan pentingnya pendidikan.
Sejak masa penjajahan, selain menjadi sarana ilmu, pendidikan juga menjadi alat perjuangan melawan kebodohan dan penindasan.
Para tokoh nasional seperti Ki Hajar Dewantara, RA Kartini dan Soekarno menyadari bahwa bangsa yang merdeka harus terlebih dahulu memerdekakan pikirannya.
Ki Hajar Dewantara selaku Bapak Pendidikan sangat menentang pendidikan kolonial dan diskriminatif. Ia mendirikan Taman Siswa pada 1922 dengan semangat “Pendidikan untuk semua”.
Dalam jejak perjuangan para pejuang Negara Indonesia, pendidikan menjadi senjata intelektual yang melahirkan kesadaran dan menumbuhkan semangat kemerdekaan.
Atas dasar inilah maka pendidikan disebut sebagai jantung bangsa yang menjadi organ yang menghidupkan cita-cita Indonesia merdeka dan berdampak.
Pendidikan Berubah Arah
Untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045 dengan bonus demografi yang menjadi peluang untuk Indonesia, pendidikan mustinya harus menjadi salah satu pilar utama pembangunan nasional.
Diharapkan melalui pendidikan, bangsa ini mampu melahirkan generasi yang mampu berpikir kritis, bekerja sama, adaptif dan inklusif.
Namun pendidikan belum seutuhnya menjadi pilar utama. Ki Hajar Dewantara berjuang agar pendidikan menjadi sarana untuk membentuk manusia seutuhnya, yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter, berbudi pekerti, dan berjiwa sosial.
Belajar bukan sekadar kewajiban, namun kebutuhan untuk menjadi manusia yang lebih baik. Namun kini paradigma itu mulai bergeser.
Pendidikan sudah terjebak dalam sistem dimana standard keberhasilan hanya dari angka. Nilai ujian, indek prestasi kumulatif, dan sertifikat menjadi alat ukur utama.
Sementara kejujuran, empati dan etika justru diabaikan. Kondisi ini sudah ternormalisasi dan pada akhirnya akan menjadi budaya.
Tidak sedikit siswa ataupun mahasiswa yang belajar hanya untuk lulus, bukan untuk memahami, namun hanya untuk selembar kertas untuk menaikan kelasnya.
Tidak sedikit pula lembaga pendidikan yang lebih fokus pada pencitraan dan akreditasi ketimbang pada proses pembentukan karakter.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pendidikan kita sedang kehilangan “ruh” yang seharusnya menuntunnya. Parahnya, tenaga pengajar juga sudah berubah arah dari harusnya mendidik namun sekarang hanya pada tahap mengajar.
Gejala Hilangnya Marwah
Kehilangan marwah pendidikan bukan hanya tampak pada perilaku peserta didik, tetapi juga dalam sistem dan budaya akademik secara keseluruhan.
Beberapa gejala yang mudah kita temukan antara lain plagiarisme dan kecurangan akademik yang dianggap hal biasa dimana kejujuran akademik mulai dipandang sebelah mata.
Komersialisasi pendidikan dimana sekolah dan kampus berlomba menjadi “industri pendidikan” yang berorientasi profit.
Sekolah dan kampus berlomba-lomba menjadi institusi yang yang disukai oleh masyarakat bukan karena kualitasnya tetapi karena banyaknya pemakluman. Budaya instan dalam belajar, pembiaran tenaga pendidik saat peserta didik menunjukkan sikap yang tidak terdidik.
Berlandaskan takut dianggap melakukan kekerasan, pembiaran dan normalisasi seolah olah menjadi pilihan yang tepat. Semua ini menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya menghadapi krisis sistem, tetapi juga krisis nilai. Krisis inilah yang membuat pendidikan kehilangan marwahnya.
Mengembalikan Marwah Pendidikan
Mengembalikan marwah pendidikan membutuhkan proses panjang yang memerlukan kesadaran kolektif. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan.
Pertama, menanamkan kembali nilai moral dan etika dalam sistem pendidikan. Pendidikan karakter tidak boleh menjadi sekadar slogan. Ia harus dihidupkan dalam kurikulum, kebijakan, dan teladan nyata di kampus.
Kedua, menumbuhkan budaya akademik yang jujur dan kritis. Mahasiswa harus diajarkan untuk berpikir, bukan meniru. Dosen pun perlu membimbing dengan cara yang memerdekakan bukan menekan.
Ketiga, menghargai proses bukan hanya hasil. Setiap usaha belajar perlu diapresiasi, tidak semata-mata berdasarkan nilai akhir. Kejujuran dalam proses lebih penting daripada kesempurnaan hasil.
Keempat, menjadikan pendidik sebagai teladan sejati. Pendidik bukan hanya pengajar ilmu, tetapi pembentuk jiwa. Ketika guru dan dosen menunjukkan ketulusan, murid akan belajar arti kehormatan sejati.
Kelima, menguatkan Undang-Undang Guru dan Dosen yang memberikan perlindungan terhadap tenaga pendidik yang melakukan proses pendisiplinan di lembaga pendidikan yang dimana proses yang dilakukan tenaga pendidik tersebut sering kali dianggap sebagai praktek kekerasan terhadap anak atau siswa.
Keenam, keterlibatan orang tua karena sejatinya pendidikan yang berkualitas selalu dimulai dari rumah.
BACA JUGA: Dosen Masa Kini: Lebih Jadi Penonton Ketimbang Pembimbing
Kritik yang Membuka Mata
Selalu ada peluang untuk bertransformasi. Saat ini pendidikan kita bukan berarti gagal total. Masih banyak guru, dosen, dan lembaga pendidikan yang masih berjuang mempertahankan nilai-nilai luhur.
Namun, sistem yang semakin menuntut hasil instan sering kali membuat idealisme mereka tergerus. Kita perlu berani mengakui bahwa orientasi pendidikan kita terlalu berpusat pada output yang berfokus pada “angka” dan melupakan proses.
Lulusan yang “bernilai tinggi” dianggap sukses, padahal belum tentu memiliki integritas. Ketika orientasi pendidikan hanya berfokus pada pencapaian material dan formalitas, maka tujuan hakiki pendidikan yaitu membentuk manusia berilmu, berakhlak, dan berperadaban menjadi kabur. Saatnya refleksi dilakukan.
Harapan untuk Para Akademisi
Sebagai bagian dari dunia pendidikan tinggi sivitas akademika memiliki tanggung jawab besar. Pendidikan yang bermarwah akan melahirkan generasi yang bukan hanya cerdas intelektual, tetapi juga cerdas moral dan spiritual.
Ketika pendidikan kehilangan marwahnya, maka bangsa kehilangan arah peradabannya. Oleh karena itu, setiap individu di dunia pendidikan mulai dari guru, dosen, mahasiswa, hingga pemangku kebijakan perlu bertanya pada dirinya sendiri: apakah ilmu yang kita cari masih memuliakan manusia atau justru menjauhkan kita dari nilai-nilai kemanusiaan?
Dari ruang belajar yang bermarwah, akan lahir manusia yang berilmu, berakhlak, dan berperadaban generasi yang akan menjaga martabat bangsa di masa depan.
====
Penulis Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Katolik Santo Thomas Medan
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com, tidak ada korespondensi.

