| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

Medanbisnisdaily.com-Medan. Sekolah Nanyang Zhi Hui Medan menggelar hari kelulusan atau Graduation Day (wisuda) bagi siswa-siswinya. Perayaan hari wisuda ini digelar di Aula Sekolah Nanyang Zhi Hui Medan, Jalan Abdullah Lubis, Medan, Sabtu (14/6/2024).
Direktur Sekolah Nanyang Zhi Hui Medan Ir Lindawaty Roesli M Pd mengatakan, pihak sekolah sengaja tidak mengenakan toga sebagaimana lazimnya acara wisuda. Hal itu selaras dengan UU yang menegaskan bahwa 12 tahun pendidikan dasar di Indonesia merupakan hal wajib, bukan suatu prestasi yang perlu dirayakan.
"Menggunakan toga terkesan seolah anak sudah selesai belajar dan telah mencapai sesuatu yang besar, padahal seharusnya masih harus terus melanjutkan proses belajar ke tahap berikutnya," kata Lindawaty.
Lindawaty pun menyoroti fenomena pola asuh orangtua sekarang ini, yakni "helicopter parenting". Istilah ini, kata Lindawaty, merujuk kepada gaya pengasuhan dimana orangtua terus "melayang-layang" di sekitar anak, terlalu dekat, terlalu mengontrol dan sering kali mengambil alih tanggung jawab yang seharusnya milik anak itu sendiri.
"Misalnya, ketika anak diminta tanggung jawab karena melanggar aturan sekolah, orang tua justru menyalahkan pihak sekolah. Ini membuat anak tidak belajar bahwa setiap tindakan ada konsekuensinya," kata Lindawaty.
"Kerjasama yang baik antara orang tua dan pihak sekolah merupakan kunci penting dalam mendampingi tumbuh kembang anak, baik sisi akademik maupun pembentukan karakter. Orang tua sebagai role model adalah nyata," tegas Lindawaty.
Dikatakan Lindawaty, anak, terutama yang sedang memasuki usia remaja, sangat membutuhkan tiga hal mendasar dari orang tuanya yaitu, kasih sayang, penghargaan dan kepercayaan.
"Di sekolah Nanyang, kami menyediakan banyak kesempatan positif. Baik berupa pertunjukan maupun perlombaan yang mengasah kepercayaan diri untuk tampil, berekspresi dan mengembangkan potensi dirinya. Namun, apa artinya semua itu tanpa kehadiran dan dukungan orang tua?" tandasnya.
Dalam kesempatan itu, Lindawaty juga mengingatkan, di era digital dan media sosial, tantangan mendidik anak tidak lagi sama seperti dulu. Anak-anak kini lebih kritis, lebih cepat menyerap berbagai informasi dan lebih cepat terbuka secara emosi dan opini.
"Banyak orang tua merasa takut untuk bersikap tegas, khawatir anaknya merasa tersakiti, trauma, atau menjauh dan berhenti berkomunikasi. Ketakutan ini sering membuat batas antara orang tua dan anak menjadi kabur. Anak merasa bisa mengambil keputusan sendiri sebelum cukup dewasa. Karenanya mereka perlu tahu ada nilai-nilai, aturan yang tetap menjadi pegangan," kata Lindawaty.
Melengkapi informasi, acara kelulusan itu dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan kesenian. Antara lain musik, tari, paduan suara yang disaksikan orangtua masing-masing.
Selain itu juga diumumkan siswa-siswa yang mendapat predikat "Best Character" dari berbagai tingkatan pendidikan. Termasuk sejumlah prestasi yang diraih dalam beberapa tahun terakhir ini. Di antaranya di tingkat SD meraih prestasi di 68 kejuaraan. Di tingkat SMP memenangkan 48 kejuaraan dan tingkat SMA meraih juara dari 77 kejuaraan.
"Setelah masa pandemi covid-19, sekolah Nanyang kembali mendapat kepercayaan untuk mengikuti ajang internasional, seperti Chinese Bridge Competition sebanyak 3 kali dan Chinese Chess Character Tournament. Dan Agustus mendatang, tim robotik Nanyang akan bertanding di Taiwan," tandasnya.

