| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

Medanbisnisdaily.com – Medan. Dalam rangka memperingati Hari Ibu, menyambut Hari Natal, sekaligus pembagian rapor semester, Sekolah Nanyang Zhi Hui Medan menggelar rangkaian kegiatan pendidikan karakter di aula sekolah, Jalan Abdullah Lubis Medan, Sabtu (20/12/2025).
Kegiatan tersebut diisi dengan berbagai pertunjukan seni yang dibawakan para siswa, serta tradisi pembasuhan kaki dan pemberian bunga oleh siswa kepada ibu mereka. Tradisi basuh kaki ini merupakan agenda wajib yang digelar setahun sekali sebagai bagian dari pendidikan budi pekerti di sekolah tersebut.
Menurut pihak sekolah, tradisi pembasuhan kaki merupakan bentuk pendidikan batin yang menanamkan nilai penghormatan, rasa syukur, dan ungkapan terima kasih atas pengorbanan orang tua, khususnya kaum ibu, dalam membesarkan anak-anaknya.
Direktur Sekolah Nanyang Zhi Hui Medan, Ir Lindawaty Roesli, MPd, dalam sambutannya mengatakan bahwa perayaan Hari Ibu, Natal, dan pembagian rapor diikat dalam satu nilai utama, yakni kasih.
“Hari ini kita berkumpul dalam momen istimewa, penerimaan rapor, perayaan Hari Ibu, dan menyambut Hari Natal. Ketiganya mengingatkan kita pada nilai kasih, tanggung jawab, dan kerja sama dalam mendidik anak,” ujar Lindawaty.
Lindawaty menekankan peran penting orang tua, terutama ibu, dalam tumbuh kembang anak. Menurutnya, keberhasilan seorang anak sangat ditentukan oleh pola asuh dan perlakuan yang diterima sejak di rumah.
Ia menjelaskan bahwa pendidikan merupakan hasil kerja sama antara sekolah dan orang tua. Sekolah bertugas mendidik, menegakkan disiplin, dan menanamkan karakter, sementara orang tua membimbing dan mendukung dari rumah.
“Disiplin bukan hukuman, melainkan cara anak belajar tanggung jawab dan konsekuensi. Namun belakangan ini sering terjadi salah persepsi, di mana setiap penegakan disiplin dianggap sebagai kesalahan sekolah,” jelas Lindawaty.
Ia mencontohkan kasus siswa yang lupa membawa perangkat belajar saat ujian atau tidak mematuhi aturan penitipan ponsel, namun justru memicu keberatan dari orang tua. Menurutnya, jika aturan sekolah terus dibantah, anak akan belajar menghindari konsekuensi, bukan memikul tanggung jawab.
“Anak-anak yang cerdas bisa menjadi manipulatif jika aturan di rumah dan sekolah tidak sejalan. Uang sekolah bukan alat membeli pembenaran, melainkan kepercayaan agar sekolah dapat mendidik anak dengan benar,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Lindawaty juga mengajak orang tua untuk menjadi teladan dalam bersikap dan bertutur kata. Anak-anak, katanya, belajar dari contoh yang mereka lihat setiap hari.
“Kita tidak bisa berharap anak menghormati guru atau orang lain jika orang tua sendiri tidak memberi contoh. Teladan orang tua adalah fondasi pendidikan karakter anak,” ujarnya.
Terkait perayaan Hari Ibu, Lindawaty kembali menegaskan bahwa tradisi pembasuhan kaki bertujuan menanamkan rasa hormat dan syukur kepada orang tua. Ia menyoroti fenomena sebagian ibu yang tidak hadir karena menunggu izin anak, yang menurutnya menunjukkan pergeseran otoritas dalam keluarga.
“Jika sejak kecil anak tidak dibiasakan menghormati orang tua, ikatan batin bisa melemah. Kasih orang tua adalah berani menegakkan nilai demi kebaikan anak,” katanya.
Menutup sambutannya, Lindawaty berharap sinergi antara sekolah dan keluarga terus terjalin demi membentuk generasi yang berkarakter, bertanggung jawab, dan siap membangun masa depan.
“Seiring perayaan Natal, mari kita ingat nilai kasih, kedamaian, dan pengampunan. Rapor yang diterima hari ini bukan sekadar angka, tetapi cerminan perjalanan anak dan kerja sama kita semua,” pungkasnya.

