| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

Medanbisnisdaily.com-Nisel. Warga Kabupaten Nias Selatan (Nisel) Sumatra Utara mengeluhkan kondisi jalan provinsi lintas Huruna yang hingga kini rusak parah dan dinilai mengancam keselamatan pengguna jalan. Jalan tersebut berada di Desa Bawohosi, Kecamatan Huruna, dan menjadi akses vital penghubung Kabupaten Nias Selatan, Nias Barat, dan Kota Gunungsitoli.
Salah seorang warga, Fatulusi Gulo, menyebut kerusakan jalan telah terjadi selama hampir 20 tahun, namun belum mendapat perhatian serius dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.
“Sudah 20 tahun jalan ini rusak. Kami mohon perhatian serius dari pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, khususnya Pak Gubernur Bobby Nasution,” ujar Fatulusi, Jumat (9/1/2026).
Menurutnya, ruas jalan tersebut merupakan satu-satunya jalur utama yang setiap hari dilalui masyarakat dari sejumlah kecamatan, seperti Huruna, Ulunoyo, Lolomatua, Onohazumba, dan Hilimegai, untuk menuju pusat pemerintahan dan aktivitas ekonomi di Nias Selatan. Hingga kini, tidak tersedia jalur alternatif.
Fatulusi mengaku bersyukur atas pembangunan jalan dari Simpang Miga menuju Kabupaten Nias Barat yang sedang berjalan. Namun, ia menyayangkan ketimpangan kondisi jalan lain yang justru jauh lebih parah.
“Jalan dari Simpang Miga ke Nias Barat masih jauh lebih baik. Yang paling parah justru ruas dari Desa Olayama Kecamatan Huruna menuju Kecamatan Lolowa’u,” katanya.
Ia menambahkan, kondisi jalan yang dipenuhi batu besar, lubang, dan genangan air sangat membahayakan, terutama bagi pengendara sepeda motor, kendaraan roda empat hingga truk. Selain sering merusak kendaraan, kecelakaan juga kerap terjadi.
“Di sini dulu sering jatuh korban, baik korban jiwa maupun kerugian materi. Setiap orang yang lewat harus punya nyali besar dan siap menanggung kerusakan kendaraan,” ujarnya.
Kerusakan parah tercatat di sejumlah titik, antara lain Desa Ehosakhozi, Desa Olayama (Huruna), Desa Orahili, Desa Sisarahili Oyo (Onohazumba), Desa Nituwuboho, Desa Hilikara, Desa Lolomoyo (Lolowa’u).
“Yang paling parah dari Desa Olayama sampai ibu kota Kecamatan Lolowa’u, panjangnya sekitar 20 kilometer. Hampir setiap hari ada kendaraan yang celaka,” tegasnya.
Warga berharap Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan Pemerintah Pusat segera membangun jalan tersebut. Mereka juga meminta anggota DPRD Sumut Dapil VIII Kepulauan Nias turun tangan dan memperjuangkan percepatan pembangunan jalan demi keselamatan masyarakat.

