| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

MASYARAKAT Batak sangat mengenal lagu lama “O...Tao Toba, Raja ni sudena Tao atau O ... Danau Toba, Raja semua Danau”, namun gaungnya kini sudah lama tak terdengar.
Harian Kompas menurunkan berita (11/11/25) "Konflik Agraria, Warga di Toba Desak TPL Ditutup". TPL (PT Toba Pulp Lestari) dinilai tidak memberikan dampak ekonomi berarti, tetapi menimbulkan konflik agraria, hilangnya hak ulayat, kriminalisasi, dan bencana ekologi.
Lagu ciptaan Nahum Situmorang bertajuk O.. Tao Toba seakan tak mampu lagi mengajak masyarakat mengembalikan keindahahannya, sebab beban ekologis Danau Toba semakin berat dan raja danau ini sedang tidak baik-baik saja.
Seiring dengan itu, ribuan anggota masyarakat adat dari berbagai komunitas dan lintas agama di kawasan Danau Toba berunjuk rasa di Kantor Gubernur Sumatera Utara, Medan, Senin (10/11/2025).
Mereka meminta agar pemerintah menutup PT TPL yang selama ini lebih banyak membebani ekologi Danau Toba dan dilakukan dari ruang-ruang kekuasaan yang tidak menyentuh empati kesejahteraan wong cilik. Keindahahan Danau Toba yang dilukiskan sebagai raja danau harus segera dipulihkan.
Polemik Tak Berkesudahan
Unjuk rasa ini mengingatkan masyarakat saat Kota Parapat, Simalungun, salah satu kawasan wisata Danau Toba, untuk kesekian kalinya diterjang banjir bandang pada Minggu, 16 Maret 2025.
Air bercampur lumpur dan material lain seperti kayu dan batu mengalir deras dari perbukitan dan menghancurkan pemukiman warga. Tak pelak lagi, kerusakan hutan alam di hulu menjadi penyebab utama banjir.
Kehadiran industri ekstraktif pada sumber daya alam diduga menjadi penyumbang besar kerusakanan hutan alam di Kawasan Danau Toba.
Merujuk pada hasil investigasi bersama KSPPM dan Aman Tano Batak (2025), kerusakan hutan alam di Kabupaten Simalungun, jika diakumulasi dari tahun 2000 hingga 2022, telah kehilangan hutan alam seluas 6.148 hektar.
Perubahan ini sangat berpengaruh terhadap daya tampung air hujan dan stabilitas tanah, yang akhirnya berkontribusi terhadap bencana banjir dan longsor.
Atas kejadian berbagai bencana banjir bandang ini, kehadiran TPL, dulu bernama PT Inti Indorayon Utama (IIU) di Porsea, Kabupaten Toba, kembali menuai protes dari masyarakat banyak.
Polemik ini seakan tak berkesudahan dan menjadi jalan panjang konflik sumber daya alam di Sumatera Utara, bencana demi bencana datang silih berganti.
Ekosistem Danau Toba tengah mengalami disorientasi. Ini menjadi alarm bagi pemerintah untuk segera mengevaluasi izin industri yang ekstraktif terhadap sumber daya alam dan hutan.
Persoalan utamanya ialah kawasan Danau Toba (KDT) tengah mengalami disorientasi ekologi dengan kian hilangnya hutan pinus secara berlebihan.
Awal berdiri IIU, tahun 1988, masyarakat sipil dan Kementerian Lingkungan Hidup tidak setuju terkait dengan lokasi pabrik di hulu Sungai Asahan dengan pertimbangan ekosistem Danau Toba jangan diusik.
Masyarakat adat juga mulai menolak karena diperlakukan kurang adil dalam masalah tanah yang sudah dikelola turun temurun.
Namun dengan arogansi pemerintahan saat itu, segala penolakan masyarakat adat diamputasi dan dianggap angin lalu. Kesejahteraan yang dijanjikan kepada masyarakat lokal tidak bisa dipenuhi malah yang terjadi sebaliknya, yakni menimbulkan sejumlah konflik sosial.
Masyarakat lantas diingatkan kembali lewat ketegangan antara pemilik industri dan penduduk lokal hingga IIU ditutup tidak beroperasi pada 1999.
Penolakan masyarakat bisa dipahami jika mengacu pada buku Silent Spring yang diterbitkan sekitar 65 tahun lalu. Penulisnya Rachel Carson, bersaksi tentang sunyinya musim sepi dari kicau burung karena telur-telur burung pecah sebelum menetas akibat pemakaian pestisida yang berlebihan.
Silent Spring menyajikan data dan kondisi lingkungan yang terganggu oleh pestisida sintetik, terutama DDT (diklorodifeniltrikloroetana).
Carson berpendapat bahwa DDT tidak hanya membunuh hama tetapi juga memutus mata rantai makanan yang mengancam populasi burung dan akhirnya warga sekitar terpapar senyawa karsinogenik.
Persolaan etika lingkungan dalam bisnis merupakan marwah Silent Spring. Bisnis pestisida yang melibatkan berbagai aspek kehidupan, terutama di bidang pertanian akan mengganggu ketersediaan bahan pangan bagi umat manusia.
Keresahan yang dituliskan dalam Silent Spring menjadi pemicu lahirnya gerakan lingkungan hidup di berbagai belahan dunia. Jika tak ada kegalauan Carson saat itu, mungkin penduduk bumi akan terus terlena dan seakan rumah bersama ini dalam keadaan baik-baik saja.
Silent Spring bergulir menjadi bola salju yang menetaskan bentuk kepedulian untuk merawat bumi sebagai rumah bersama.
BACA JUGA: Konflik TPL: Menakar Ulang Arah Industri pada Lanskap Kerentanan
Semakin Meranggas
Setelah hampir 40 tahun kehadiran TPL, sebelumnya bernama IUU, penduduk sekitar KDT dihadapkan pada satu kenyataan pahit saat rumah bersama mereka semakin meranggas.
Beban ekologis Danau Toba kian berat dan perlu pemulihan yang secara langsung amat bersinggungan dengan kelestarian hutan-hutan alam di daerah tangkapan air Danau Toba.
Unjuk rasa yang mengadirkan sekitar 10.000 orang massa di Kantor Gubernur Sumatera Utara, Senin 10/11/25, patut dipahami dari perspektif pemulihan kembali keindahan alam Danau Toba.
Pemandangan alamnya yang elok dan memukau membuat Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (2021) menjadikan Wisata Danau Toba sebagai salah satu Destinasi Super Prioritas di Indonesia.
Namun, keindahan ini kian sirna akibat kehadiran industri yang ekstraktif menguras madu sumber daya alamnya dengan melakukan penebangan hutan secara berlebihan.
Luas dan fungsi hutan sekitar KDT terus berkurang karena alih fungsi, penebangan pohon dan kebakaran hutan. Perusakan pun makin massif dari waktu ke waktu.
Perusakan hutan KDT kini bermuara pada ancaman kelaparan pada warga sekitar. Menurut petani lokal, diwawancarai penulis beberapa waktu lalu, mengaku pada 1970-an hingga 1980-an hasil panen padi mereka mencukupi untuk kebutuhan hidup selama 6 bulan.
Namun sekarang hanya bertahan 2 bulan karena usaha pertanian mengalami krisis air. Sistem irigasi yang dahulu dikelola Raja Bondar kini sudah tidak berfungsi lagi sebab sumber air yang semakin defisit dan sungai semakin mengering.
Dari perspektif etika lingkungan, manusia bertanggung jawab atas beban ekologis Danau Toba yang kini kian sulit dikendalikan. Beban ekologis yang dipicu aktivitas manusia menjadi sebuah tragedi yang makin memilukan karena mendorong proses pemiskinan warga.
Logika lama yang membusuk namun tetap diwarisi seolah waras, bahwa penebangan hutan merupakan bentuk pembangunan dan pencemaran sungai adalah efek samping pertumbuhan
Perenungan Leonardo Boff dalam bukunya bertajuk Cry of the Earth, Cry of the Poor (1997) bahwa krisis lingkungan dan kemiskinan adalah dua sisi dari mata uang yang sama, didorong oleh logika dominan yang menempatkan manusia di atas alam dan mengutamakan keuntungan jangka pendek di atas keberlanjutan.
Peziarahan teologi lingkungan Leonardo Boff ini menjadi landasan konferensi Stockholm PBB pertama tentang lingkungan hidup (1972) untuk merumuskan konsep pembangunan berkelanjutan.
Sayangnya, pembangunan berkelanjutan di KDT seakan stagnan. Bahkan romantisme yang dulu disuguhkan hutan KDT yang rimbun, hijau dan suara riak air mengalir bisa jadi hanya menjadi kenangan di masa mendatang.
Tidak hanya itu, potensi penyakit baru bisa muncul karena udara dan air tercemar limbah industri. Tragedi Minamata, Bhopal dan Chernobyl adalah serpihan contoh dampak ketidakpedulian manusia pada keseimbangan alam yang menetaskan penderitaan.
Untuk itu, merevitalisasi sikap bersahabat dengan alam patut digagas menjadi sebuah paradigma baru untuk mereduksi beban ekologis Danau Toba.
BACA JUGA: Ekologi Vs Ekonomi: Konflik TPL, Siapa Pahlawannya?
Kepedulian lingkungan bukan sekadar wacana besar dalam pidato politik ketua partai, presiden, gubernur dan bupati. Ia menjadi sesuatu “conditio sine qua non” jika manusia ingin hidup tenang dan damai.
Medan, 13 November 2025
====
Penulis Guru Besar Tetap Unika Santo Thomas Medan. Pendiri dan Direktur Center for National Food Security Research (Tenfoser) dan Ketua Dewan Pakar Yayasan Pencinta Danau Toba
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email, disertai dengan lampiran KARTU IDENTITAS (KTP/SIM/DLL), FOTO (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), DATA DIRI SINGKAT (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 5.500-6.500 karakter. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Tidak ada korespondensi terkait layak atau tidaknya tulisan Anda diterbitkan. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com, tidak ada korespondensi.

