| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

QUICK Response Indonesian Standart (QRIS) merupakan salah satu inovasi digital di bidang perbankan paling sukses milik Indonesia. QRIS disambut sangat baik oleh masyarakat Indonesia dikarenakan QRIS memfasilitasi pembayaran digital secara mudah dengan cukup sekali saja melakukan scan barcode dan pembayaran selesai.
Dilansir dari Goodstats.id. sejak launching pada tahun 2020 hingga 2024, jumlah transaksi QRIS adalah sekitar 6,24 miliar transaksi. Dan ada 55,50 juta pengguna serta jumlah merchant yang menerima pembayaran QRIS mencapai 32,71 juta di seluruh Indonesia (Portal Informasi Indonesia.go.id).
Ribuan warga telah terhubung dalam satu sistem pembayaran melalui QR Code sederhana. Penggunaan QRIS sendiri hampir ada di setiap tempat, yang semakin memudahkan pembayaran digital bagi seluruh kalangan.
Inovasi QRIS membawa revolusi dalam sistem pembayaran di Indonesia. Jika sebelum adanya QRIS, masyarakat cenderung menggunakan cash, kartu debit, kartu kredit atau sejenisnya dalam melakukan pembayaran. Kali ini masyarakat hanya perlu melakukan scan barcode pada merchant yang tersedia dalam sekali klik.
QRIS sendiri sudah tersedia dalam berbagai aplikasi uang elektronik, mobile banking dan dompet digital yang semakin memberikan variasi dan opsi kepada pengguna dalam melakukan pembayaran menggunakan QRIS.
Ini membuat masyarakat beralih dari sistem pembayaran berbasis kartu dan memilih QRIS sebagai opsi pembayaran dalam satu genggaman.
QRIS Menjajaki ASEAN
Belakangan ini QRIS mulai menarik perhatian, bukan cuma di dalam negeri, tapi juga di tingkat regional. Inovasi sistem pembayaran ini awalnya dikembangkan oleh Bank Indonesia, dan sekarang mulai diadopsi dan diintegrasikan dengan sistem serupa di beberapa negara ASEAN.
Misalnya, Indonesia sudah menghubungkan QRIS dengan PromptPay di Thailand, DuitNow di Malaysia, NETS di Singapura, dan bahkan sedang menjajaki kerja sama dengan Philippines dan Vietnam.
Sistem ini memungkinkan masyarakat untuk melakukan pembayaran lintas negara hanya dengan scan QR code, langsung antar mata uang lokal tanpa perlu lewat dolar AS atau platform asing seperti Visa dan Mastercard.
Ini disebut dengan fitur QRIS Cross-Border. Menurut Bank Indonesia (2025), fitur ini mampu menekan biaya transaksi dan mempercepat arus pembayaran secara signifikan.
Inovasi ini cukup mengubah peta sistem pembayaran di kawasan. Selama ini, Visa dan Mastercard jadi pemain utama dalam transaksi lintas negara.
Kalau mau bayar di luar negeri, biasanya harus pakai kartu kredit atau debit dari dua perusahaan ini. Transaksinya pun dikonversi dulu ke dolar AS, baru ke mata uang tujuan. Proses ini bikin biaya transaksi jadi tinggi dan memperkuat dominasi dolar di sistem keuangan.
Sistem seperti itu jelas menguntungkan Amerika Serikat. Visa dan Mastercard adalah perusahaan asal AS, dan mereka mengambil fee dari setiap transaksi yang lewat sistem mereka.
Bukan cuma fee, tapi juga keuntungan dari konversi nilai tukar dan biaya antar bank. Jadi bisa dibilang, setiap kali kita pakai kartu internasional, kita ikut menyumbang keuntungan buat AS.
Nah, QRIS dan sistem pembayaran lokal lainnya mulai jadi ancaman bagi skema itu. Karena transaksi jadi bisa dilakukan tanpa harus pakai dolar, tanpa harus lewat Visa dan Mastercard.
AS pun mulai gelisah. Mereka menganggap kehadiran QRIS sebagai hambatan dagang. Tuduhan ini bahkan muncul secara resmi dalam laporan National Trade Estimate (NTE) Report on Foreign Trade Barriers 2025 yang diterbitkan pada 31 Maret 2025 oleh United States Trade Representative (USTR).
Dalam laporan itu, disebutkan bahwa sistem pembayaran berbasis QR lokal dianggap tidak memberikan perlakuan yang adil untuk perusahaan asing.
Dengan kata lain, AS takut kehilangan dominasinya. Kalau QRIS dan sistem lokal lain makin banyak dipakai, maka Visa dan Mastercard bisa ditinggalkan. Dan kalau itu terjadi, AS tidak akan dapat keuntungan lagi dari fee transaksi internasional yang selama ini mereka kuasai.
Selain itu, ketergantungan pada sistem pembayaran asing juga punya dampak negatif buat negara-negara ASEAN. Pertama, biaya transaksi tinggi. Kedua, ada risiko nilai tukar karena transaksi harus lewat dolar. Ketiga, ini bikin ASEAN rentan terhadap tekanan politik-ekonomi dari negara luar, terutama Amerika Serikat.
Maka dari itu, integrasi pembayaran seperti QRIS bukan cuma soal teknologi atau efisiensi. Ini juga bagian dari strategi kemandirian ekonomi digital di kawasan ASEAN.
Dengan sistem lokal yang saling terhubung, negara-negara ASEAN bisa lebih mandiri, lebih hemat, dan tidak mudah ditekan oleh kepentingan asing.
Implementasi QRIS
Meski QRIS dan sistem serupa mulai berkembang di ASEAN, implementasinya tidak lepas dari tantangan. Setiap negara punya regulasi sendiri, sistem keuangan yang berbeda, dan tingkat kesiapan teknologi yang tidak sama.
Beberapa negara masih membatasi akses bagi penyedia layanan asing atau punya standar teknis yang belum terintegrasi. Belum lagi masalah keamanan siber, yang jadi isu serius karena transaksi digital makin rentan terhadap kebocoran data dan serangan hacker.
Selain itu, perlu ada komitmen politik dan kerja sama antarnegara ASEAN. Pemerintah, bank sentral, dan sektor swasta harus duduk bersama untuk menyamakan standar, membangun infrastruktur bersama, dan menyusun kebijakan lintas batas yang saling mendukung.
Ini bukan pekerjaan mudah. Tapi kalau berhasil, hasilnya bisa jadi tonggak penting dalam sejarah ekonomi digital ASEAN.
Menurut Asian Development Bank (2024), kunci keberhasilan sistem pembayaran lintas negara di ASEAN adalah harmonisasi regulasi dan peningkatan keamanan. Kalau dua hal ini bisa diatasi, maka sistem seperti QRIS bisa berjalan secara optimal dan terpercaya.
Ke depan, QRIS bisa jadi instrumen strategis untuk membebaskan ASEAN dari dominasi sistem pembayaran global berbasis dolar.
Lewat QRIS dan integrasi dengan sistem regional lainnya, ASEAN bisa membangun jalur pembayaran sendiri yang inklusif, efisien, dan lebih berdaulat. Ini bukan hanya soal alat pembayaran, tapi bagian dari kedaulatan ekonomi digital di masa depan.
Peluangnya besar. ASEAN bisa menjadi kawasan yang punya sistem pembayaran sendiri, tidak tergantung pada Visa, Mastercard, atau dolar AS.
Masyarakat bisa bertransaksi lintas negara dengan lebih murah dan cepat. UMKM bisa menjual produk ke luar negeri tanpa harus pusing konversi dolar.
Dan yang paling penting, kawasan ini bisa terhindar dari tekanan politik luar karena punya kontrol penuh atas sistem keuangannya sendiri.
QRIS bisa jadi jalan pembuka menuju integrasi ekonomi digital ASEAN yang lebih kuat. Tapi untuk sampai ke sana, tantangan-tantangan tadi harus diselesaikan bersama.
Ini bukan tugas satu negara saja, tapi proyek bersama yang bisa membawa ASEAN menuju era baru, era ekonomi digital yang lebih mandiri dan setara.
====
Penulis Mahasiswa Prodi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis dan Aktif dalam UKM Kepenulisan Veritas Universitas Katolik Santo Thomas
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com

