| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

DALAM beberapa bulan terakhir wacana penghapusan atau pembatasan fitur gratis ongkir oleh sejumlah platform e-commerce besar di Indonesia, seperti Tokopedia dan Shopee, memicu banyak perbincangan publik. Banyak konsumen yang merasa kecewa, bahkan menganggap keputusan tersebut sebagai bentuk "pengkhianatan" terhadap loyalitas mereka.
Namun, alih-alih hanya melihat dari sisi konsumen, kita perlu menggali lebih dalam: mengapa ini terjadi, dan apa dampak jangka panjangnya bagi ekosistem e-commerce nasional?
Sejak awal pertumbuhannya platform e-commerce di Indonesia tumbuh dalam atmosfer kompetisi agresif. Demi meraih pangsa pasar, strategi bakar uang, yakni menggelontorkan dana besar-besaran untuk promosi, diskon, hingga subsidi ongkos kirim menjadi praktik umum.
Gratis ongkir adalah senjata utama untuk menarik konsumen, bahkan lebih ampuh dari diskon harga.
Namun, strategi tersebut tidak bisa berlangsung selamanya. Riset dari Google, Temasek, dan Bain & Company (2023) mencatat bahwa industri e-commerce di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, kini memasuki fase konsolidasi setelah mengalami pertumbuhan eksponensial selama satu dekade terakhir. Artinya, fokus bisnis kini beralih dari ekspansi ke profitabilitas.
Sebagai contoh, Shopee, platform e-commerce milik Sea Group dilaporkan mengalami kerugian sebesar USD 2,1 miliar pada 2022, dan mulai memangkas biaya pemasaran dan subsidi secara bertahap sejak 2023 untuk menekan kerugian (Reuters, 2023).
Tokopedia, setelah merger dengan Gojek dalam naungan GoTo, juga berusaha mencapai titik impas (break-even) dengan melakukan efisiensi pada sejumlah fitur promosi, termasuk ongkir gratis.
Gratis ongkir memang menyenangkan bagi konsumen, tapi di balik itu, biaya logistik tetap harus ditanggung oleh seseorang baik platform, penjual, maupun pihak ketiga.
Ongkos kirim antarprovinsi di Indonesia bisa mencapai Rp 20.000–Rp 50.000 per paket, tergantung wilayah dan layanan.
Selama ini, platform menanggung sebagian atau seluruh biaya tersebut demi menciptakan ilusi “tanpa biaya tambahan” di mata konsumen. Namun seiring meningkatnya volume transaksi dan tekanan keuangan, praktik ini menjadi tidak berkelanjutan.
Kondisi ini diperparah oleh ketimpangan infrastruktur logistik di Indonesia. Menurut World Bank (2023), skor Logistics Performance Index (LPI) Indonesia adalah 3,0 lebih rendah dari negara-negara tetangga seperti Malaysia (3,5) dan Thailand (3,3). Artinya, biaya logistik di Indonesia secara struktural memang tinggi.
Konsumen: Harapan vs Realita
Bagi konsumen, penghapusan gratis ongkir tentu berdampak langsung pada kenyamanan dan pengeluaran. Dalam survei Jakpat (2023), sebanyak 67% responden menyatakan bahwa ongkir menjadi pertimbangan utama sebelum membeli barang secara online. Bahkan, 1 dari 3 konsumen mengaku batal checkout karena ongkir dirasa terlalu mahal.
Contoh nyatanya adalah pengalaman penulis sendiri, cenderung mempertimbangkan tambahan biaya pengiriman dalam sekali checkout.
Terkadang biaya pengiriman yang lebih besar dibanding harga barang yang dipesan membuat penulis lebih memilih untuk membatalkan pesanan ketimbang membayar harga yang mahal karena tanpa adanya gratis ongkir.
Kita bisa memprediksi beberapa perubahan perilaku konsumen menjadi lebih selektif, lebih suka belanja dalam jumlah besar (untuk menghemat ongkir), atau kembali berbelanja di toko fisik untuk barang-barang tertentu.
Tak sedikit pula yang akan berpindah platform demi mencari promo ongkir yang lebih ringan, setidaknya selama masa transisi ini.
Namun di sisi lain, penghapusan subsidi ongkir juga bisa menjadi momentum edukasi. Konsumen didorong untuk memahami bahwa biaya logistik adalah komponen riil dari perdagangan, bukan sesuatu yang bisa dihapus secara permanen.
BACA JUGA: Kewirausahaan dari Dalam Kelas
Penjual: Antara Tantangan dan Peluang
Dampak bagi penjual, terutama pelaku UMKM, bersifat dua sisi. Di satu sisi, mereka tidak lagi harus bersaing harga secara brutal, karena ongkir bukan lagi faktor pembeda utama. Penjual bisa mulai membangun daya saing berbasis kualitas, pelayanan, dan diferensiasi produk.
Namun di sisi lain, penjual kini harus lebih aktif dalam mempromosikan produknya. Strategi seperti diskon bundling, cashback, atau voucher toko bisa menjadi pengganti insentif ongkir.
Ini juga menjadi kesempatan bagi penjual lokal untuk membangun komunitas pelanggan loyal, bukan hanya mengandalkan traffic impulsif dari subsidi platform.
Contohnya, brand lokal seperti Brodo atau Sage Footwear telah mengembangkan ekosistem penjualan mereka di luar marketplace, termasuk kanal direct-to-consumer (DTC) seperti website dan media sosial.
Dengan ini, mereka bisa mengontrol margin dan strategi pemasaran tanpa tergantung pada ongkir platform.
Bagi perusahaan logistik, penghapusan subsidi ongkir adalah peluang untuk bersaing secara sehat. Tanpa campur tangan subsidi, mereka bisa menawarkan harga dan layanan secara lebih transparan kepada konsumen dan penjual.
Kini muncul tren layanan logistik berbasis teknologi yang lebih fleksibel dan efisien. Misalnya, Paxel dan AnterAja menawarkan pengiriman same-day dan next-day dengan harga kompetitif. Selain itu, solusi seperti locker pickup atau pengiriman terjadwal juga mulai populer.
Ke depan, logistik tak hanya soal kirim cepat, tapi juga soal pengalaman pengiriman yang ramah pengguna, terjangkau, dan dapat dilacak.
Gratis ongkir telah memainkan peran penting dalam membentuk perilaku konsumen e-commerce Indonesia. Namun kini, kita berada di titik balik. Penghapusan subsidi ongkir bukan sekadar keputusan bisnis, tapi tanda bahwa ekosistem digital Indonesia sedang menuju kedewasaan.
Platform harus mencari model bisnis yang sehat. Penjual harus kreatif dan mandiri. Konsumen harus mulai menghargai biaya logistik sebagai bagian dari harga barang. Dan industri logistik, kini punya peluang untuk tampil sebagai garda depan inovasi.
Perubahan ini mungkin terasa menyulitkan di awal. Tapi dalam jangka panjang, ia akan menciptakan pasar yang lebih transparan, adil, dan berkelanjutan.
====
Penulis Mahasiswa Prodi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Katolik Santo Thomas Medan
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com

