| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

SETIAP musim penerimaan murid baru, kegelisahan sebagian orang tua seperti menemukan momentumnya. Ia hadir di ruang keluarga, di layar gawai, juga dalam percakapan-percakapan ringan, tetapi sesungguhnya sarat beban. Tahun ini, kegelisahan itu terasa lebih pekat, seiring hadirnya SPMB 2026 yang menggantikan PPDB.
Sesuai dengan Petunjuk Teknis (Juknis) Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) untuk jenjang SMA/SMK Provinsi Sumatera Utara Tahun Ajaran 2026/2027 yang tertuang dalam Keputusan Gubernur Nomor 188.44/282/KPTS/2026 resmi ditetapkan Gubernur Bobby Nasution (Medanbisnisdaily.com, 3/5).
Perubahan sistem ini tidak hanya menggeser mekanisme seleksi, tetapi juga diam-diam mengubah cara orang tua memandang sekolah. Sekolah tak lagi sekadar ruang belajar bagi anak. Ia perlahan menjelma menjadi ruang kontestasi antara tempat harapan, kecemasan, dan ambisi saling berkelindan.
SPMB 2026 menghadirkan empat jalur penerimaan: domisili, afirmasi, prestasi, dan mutasi. Secara normatif, sistem ini dirancang untuk lebih adil dan terbuka. Jalur domisili dimaksudkan mendekatkan akses, jalur prestasi memberi ruang bagi capaian, sementara afirmasi menjaga prinsip keadilan sosial.
Namun, sebagaimana banyak kebijakan publik lainnya, yang terjadi di lapangan tidak selalu sejalan dengan yang dirancang di atas kertas.
Di banyak keluarga, memilih sekolah tidak lagi sekadar soal kecocokan, melainkan perhitungan yang nyaris menyerupai strategi. Orang tua menimbang peluang, membaca pola seleksi, bahkan dalam batas tertentu mencari celah yang mungkin dapat dimanfaatkan.
Percakapan tentang sekolah pun berubah nadanya. Dari sekadar bertanya sekolah mana yang terbaik, menjadi bagaimana agar bisa diterima di sekolah tersebut.
Di titik ini, sekolah mulai bergeser maknanya. Ia tidak lagi dipahami semata sebagai ruang tumbuh, melainkan sebagai tujuan yang harus dicapai dengan segala konsekuensinya.
Fenomena ini tampak semakin jelas di ruang-ruang digital. Grup percakapan orang tua yang semula menjadi medium berbagi informasi, perlahan berubah menjadi ruang pembandingan. Nilai anak, jumlah sertifikat, hingga pilihan sekolah menjadi parameter yang diam-diam disusun.
Tanpa disadari, kompetisi tidak hanya terjadi pada anak, tetapi juga pada orang tuanya. Ada semacam dorongan tak kasatmata untuk tidak tertinggal. Dan dalam dorongan itu, batas antara kebutuhan dan ambisi sering kali menjadi kabur.
Di tengah situasi ini, isu lama kembali bergaung meski tetap dalam nada lirih: praktik yang kerap disebut sebagai “titip kursi”.
Ia jarang hadir sebagai fakta yang gamblang, tetapi cukup sering muncul sebagai bisikan. Ungkapan seperti ada jalan lain atau bisa dibantu beredar sebagai pengetahuan samar yang sulit diverifikasi, tetapi juga sulit diabaikan.
Barangkali, persoalan ini tidak semata tentang ada atau tidaknya praktik tersebut. Lebih dari itu, ia mencerminkan sesuatu yang lebih mendasar: rapuhnya kepercayaan.
Ketika sistem belum sepenuhnya diyakini adil, sebagian orang cenderung mencari kepastian di luar sistem itu sendiri. Dan ketika itu terjadi, integritas menjadi sesuatu yang diam-diam dinegosiasikan. Padahal, pendidikan justru seharusnya menjadi ruang pertama di mana nilai-nilai itu ditanamkan.
Di sisi lain, tekanan sosial turut memainkan perannya. Dalam ruang-ruang percakapan, perbandingan berlangsung tanpa perlu diucapkan secara eksplisit. Siapa yang lebih siap, siapa yang lebih unggul, siapa yang punya peluang, semua itu membentuk semacam standar yang tidak tertulis.
Dalam situasi seperti ini, sekolah unggulan perlahan bergeser menjadi simbol. Ia bukan hanya tentang kualitas pendidikan, tetapi juga tentang pengakuan sosial.
Masuk ke sekolah tertentu seolah menjadi penanda keberhasilan. Sebaliknya, tidak berhasil masuk kerap dipersepsikan sebagai kekurangan, meski sesungguhnya belum tentu demikian.
Di sinilah pendidikan menghadapi ujian yang tidak sederhana. Apakah ia tetap menjadi proses memanusiakan manusia, atau justru berubah menjadi mekanisme seleksi yang kian menajamkan perbedaan?
SPMB 2026, dengan segala upayanya menghadirkan keadilan, sesungguhnya membuka peluang untuk menata ulang cara pandang tersebut.
Namun, sistem yang baik tidak akan cukup tanpa kesadaran yang menyertainya. Peran orangtua menjadi sangat menentukan. Memilih sekolah memang penting, tetapi memahami anak jauh lebih mendasar.
Tidak setiap anak membutuhkan lingkungan yang sama. Tidak semua tumbuh dalam tekanan yang seragam. Sebagian justru berkembang ketika diberi ruang, ketika dipercaya, ketika tidak terus-menerus dibandingkan.
Maka, mungkin sudah saatnya pertanyaan kita diubah. Bukan lagi “sekolah mana yang paling unggul”, melainkan “di mana anak dapat bertumbuh dengan utuh”.
Pada akhirnya, pendidikan bukanlah arena yang harus dimenangkan. Ia adalah proses panjang yang menuntut kesabaran, kepercayaan, dan kejujuran. Dan jika sekolah terus diposisikan sebagai arena kompetisi orang tua, barangkali yang sedang kita pertaruhkan bukan hanya sistem pendidikan, melainkan juga cara kita memandang anak itu sendiri.
BACA JUGA: Sekolah: Ruang Awal Pembentukan Nalar Kritis
Sebab, di balik setiap angka dan seleksi, ada seorang anak yang sedang belajar memahami dirinya dan dunia yang kelak akan ia hadapi.
====
Penulis Pegiat Komunitas BERGEMA Guru Sumatera Utara
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com, tidak ada korespondensi.

