| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

PUBLIK dikejutkan oleh langkah tegas TikTok yang menonaktifkan sekitar 1,7 juta akun anak di bawah usia 16 tahun (medanbisnisdaily.com, 29/3). Angka tersebut justru menghadirkan pertanyaan yang lebih mendasar—mengapa jutaan anak bisa masuk dan aktif di ruang digital tanpa pengawasan yang memadai? Di titik inilah kita melihat sesuatu yang lebih dalam dari sekadar pelanggaran aturan yakni kegagapan dunia pendidikan dalam membaca perubahan zaman.
Anak-anak hari ini tidak lagi tumbuh dalam batas-batas ruang fisik semata. Dunia digital telah menjadi bagian dari keseharian mereka bahkan bisa dikatakan sebagai ruang hidup kedua. Di sana, mereka belajar, berekspresi, mencari pengakuan, sekaligus membangun identitas diri.
Namun berbeda dengan ruang fisik yang relatif memiliki batas, aturan, dan pengawasan, ruang digital kerap hadir tanpa pagar yang jelas. Ia terbuka, luas, dan bergerak jauh lebih cepat daripada kemampuan kita untuk memahaminya.
Masalahnya, dunia pendidikan belum sepenuhnya siap menghadapi realitas ini. Sekolah masih sering memposisikan teknologi sebagai alat bantu pembelajaran, bukan sebagai ekosistem yang membentuk cara berpikir dan berperilaku siswa.
Literasi digital pun kerap direduksi menjadi kemampuan teknis semata. Padahal, tantangan terbesar justru terletak pada kemampuan memahami makna, risiko, dan dampak dari aktivitas digital itu sendiri.
Akibatnya, terjadi kesenjangan yang cukup lebar. Anak-anak sangat cepat beradaptasi dengan teknologi, tetapi tidak selalu diimbangi dengan kedewasaan dalam menggunakannya.
Mereka lihai membuat konten, tetapi belum tentu memahami konsekuensi dari jejak digital yang ditinggalkan. Mereka aktif berinteraksi di media sosial, tetapi belum tentu mampu memilah mana yang aman dan mana yang berisiko.
Kegagapan dunia pendidikan juga tampak dari cara kita merespons fenomena media sosial. Tidak sedikit sekolah yang masih memilih pendekatan larangan dengan cara membatasi penggunaan gawai, menutup akses, atau bahkan menganggap media sosial sebagai distraksi semata.
Pendekatan ini mungkin terasa aman dalam jangka pendek, tetapi tidak menyelesaikan persoalan. Anak-anak tetap akan kembali ke ruang digital di luar sekolah, tanpa bekal yang cukup untuk menghadapinya.
Di sisi lain, ada pula pendekatan yang terlalu permisif. Gawai dibiarkan menjadi bagian dari keseharian siswa tanpa pendampingan yang jelas.
Guru tidak cukup dibekali untuk memahami dinamika dunia digital, sementara orang tua sering kali menyerahkan sepenuhnya urusan ini kepada sekolah. Akibatnya, anak-anak berada di antara dua kutub: pembatasan tanpa pemahaman, atau kebebasan tanpa arahan.
Padahal, yang dibutuhkan bukanlah memilih salah satu, melainkan membangun keseimbangan. Dunia pendidikan harus berani masuk ke ruang digital anak, bukan untuk mengontrol secara berlebihan, tetapi untuk membimbing.
Guru perlu menjadi fasilitator yang membantu siswa memahami bagaimana algoritma bekerja, mengapa konten tertentu muncul, dan bagaimana menjaga diri di tengah arus informasi yang deras. Ini bukan lagi tambahan, melainkan kebutuhan dasar di era digital.
Dunia pendidikan harus tetap menjadi ruang utama untuk menanamkan hal-hal tersebut. Ketika pendidikan gagal hadir di ruang digital anak, maka ruang itu akan diisi sepenuhnya oleh algoritma—yang tujuannya tidak selalu sejalan dengan kepentingan perkembangan anak.
Kita juga tidak bisa menutup mata terhadap peran orang tua. Dalam banyak kasus, gawai telah menjadi pengasuh kedua bagi anak. Kesibukan, tuntutan ekonomi, dan perubahan gaya hidup membuat interaksi langsung antara orang tua dan anak semakin berkurang.
Dalam situasi ini, media sosial menjadi pelarian sekaligus ruang eksplorasi bagi anak. Tanpa pendampingan yang memadai, risiko tentu menjadi lebih besar.
Namun, menyalahkan orang tua semata juga bukan solusi. Ini adalah persoalan sistemik yang melibatkan banyak pihak. Negara perlu hadir dengan regulasi yang adaptif dan berpihak pada perlindungan anak.
Platform digital harus lebih transparan dan bertanggung jawab dalam mengelola konten serta algoritma mereka. Dunia pendidikan harus bertransformasi, tidak hanya pada kurikulum, tetapi juga pada cara pandang terhadap teknologi.
Angka 1,7 juta akun yang dinonaktifkan itu seharusnya kita baca sebagai alarm. Bukan sekadar tentang pelanggaran usia, tetapi tentang kualitas pendampingan yang kita berikan kepada anak. Tentang sejauh mana kita benar-benar memahami dunia yang mereka hidupi. Dan yang lebih penting, tentang apakah kita masih memiliki kendali, atau justru telah menyerahkannya kepada sistem yang tidak sepenuhnya kita pahami.
Kegagapan dunia pendidikan bukanlah sesuatu yang tidak bisa diperbaiki. Namun, ia membutuhkan keberanian untuk berubah. Sekolah perlu membuka diri terhadap realitas baru, guru perlu terus belajar, dan kurikulum perlu lebih responsif terhadap perkembangan zaman. Literasi digital harus naik kelas: dari sekadar keterampilan teknis menjadi kecakapan hidup yang utuh.
BACA JUGA: SPMB 2026: Ketika Sekolah Jadi Arena Kompetisi Orang Tua
Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukanlah seberapa canggih dalam menertibkan ruang digital, tetapi seberapa siap kita sebagai manusia dalam membimbing anak di dalamnya. Jika dunia pendidikan terus gagap membaca perubahan, maka kita akan selalu tertinggal dan anak-anaklah yang akan menanggung akibatnya.
====
Penulis Pegiat Komunitas BERGEMA Guru Sumatera Utara
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com, tidak ada korespondensi.

