| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

ISTILAH main character energy dalam beberapa tahun terakhir menjadi populer di kalangan remaja, terutama melalui media sosial. Istilah ini merujuk pada cara pandang seseorang yang melihat dirinya sebagai tokoh utama dalam kehidupannya sendiri, dengan rasa percaya diri, arah hidup yang jelas, serta kemampuan untuk menjalani kehidupan secara lebih sadar dan bermakna. Namun, dalam praktiknya, konsep ini sering disalahartikan sebagai tuntutan untuk selalu terlihat sempurna, produktif, dan menarik di mata orang lain (Saraswati, 2023).
Sesungguhnya, main character energy tidak berkaitan dengan pencitraan, melainkan dengan proses pengembangan diri yang berkelanjutan.
Konsep ini dapat dicapai melalui self improvement, yaitu usaha sadar untuk memperbaiki diri melalui pembentukan kebiasaan positif, peningkatan kualitas berpikir, serta pengelolaan diri yang lebih baik (James Clear, 2018). Dengan demikian, menjadi “tokoh utama” dalam hidup bukan berarti menjadi sempurna, tetapi menjadi individu yang terus bertumbuh.
Fenomena self improvement di kalangan remaja semakin berkembang seiring dengan meningkatnya paparan media sosial. Remaja sering kali membandingkan dirinya dengan orang lain yang tampak lebih sukses, lebih produktif, atau lebih bahagia. Kondisi ini dapat menimbulkan rasa tidak puas terhadap diri sendiri. Oleh karena itu, kebutuhan untuk berkembang menjadi lebih baik semakin meningkat sebagai bentuk respons terhadap tekanan sosial tersebut (Mursalim & Eryandra, 2024).
Meskipun demikian, self improvement tidak selalu dipahami secara tepat. Banyak konten di media sosial yang menggambarkan pengembangan diri sebagai sesuatu yang instan, seperti rutinitas pagi yang ketat, jadwal produktivitas yang padat, atau pencapaian besar dalam waktu singkat. Padahal, perubahan diri merupakan proses bertahap yang membutuhkan konsistensi, kesabaran, dan komitmen jangka panjang (Clear, 2018).
Dalam berbagai diskusi publik, termasuk forum daring, sering ditemukan pandangan bahwa perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten lebih efektif dibandingkan perubahan besar yang sulit dipertahankan. Pandangan ini menekankan pentingnya kebiasaan dalam membentuk karakter dan perilaku seseorang (Reddit Indonesia, 2025). Hal ini menunjukkan bahwa self improvement tidak selalu harus dimulai dari langkah besar, melainkan dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten setiap hari.
Secara psikologis, kebiasaan memiliki peran penting dalam perkembangan individu, khususnya pada masa remaja. Kebiasaan yang dilakukan secara berulang dapat membentuk pola perilaku dan karakter seseorang dalam jangka panjang. Semper (2014) menjelaskan bahwa pembentukan kebiasaan berkaitan erat dengan perkembangan kemampuan pengendalian diri pada remaja.
Dengan demikian, perubahan kecil seperti disiplin waktu, pengurangan penggunaan media sosial, atau kebiasaan membaca dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap perkembangan diri.
Selain itu, self improvement juga berkaitan dengan aspek kesehatan mental. Remaja merupakan kelompok yang rentan terhadap tekanan akademik, sosial, dan emosional. Dalam kondisi tersebut, pengembangan diri tidak hanya berfungsi untuk meningkatkan produktivitas, tetapi juga untuk membangun penerimaan diri dan keseimbangan psikologis.
Mursalim dan Eryandra (2024) menyatakan bahwa rendahnya penghargaan terhadap diri sendiri dapat memengaruhi tingkat kepercayaan diri remaja.
Namun, perkembangan tren self improvement juga memunculkan fenomena toxic productivity, yaitu kondisi ketika seseorang merasa harus selalu produktif dan merasa bersalah ketika beristirahat. Fenomena ini menunjukkan bahwa pengembangan diri dapat berubah menjadi tekanan baru apabila tidak dipahami secara proporsional (Mayangsari et al., 2024).
Oleh karena itu, self improvement seharusnya tidak menjadi beban, melainkan sarana untuk meningkatkan kualitas hidup secara seimbang.
Dalam konteks ini, main character energy seharusnya dipahami sebagai kemampuan individu untuk menjalani kehidupannya dengan kesadaran, arah yang jelas, serta penerimaan terhadap proses perkembangan diri.
Seseorang tidak perlu menjadi sempurna untuk memiliki energi tersebut. Justru, kemampuan untuk terus belajar dan berkembang merupakan inti dari konsep ini (Saraswati, 2023).
Self improvement juga memiliki dampak jangka panjang terhadap kehidupan seseorang, khususnya dalam bidang pendidikan dan karier. Kebiasaan disiplin, kemampuan mengatur waktu, serta keterampilan pengelolaan diri dapat meningkatkan kualitas belajar dan kinerja seseorang. Ulfa dan Suarningsih (2019) menunjukkan bahwa teknik pengelolaan diri dapat membantu meningkatkan kebiasaan belajar siswa secara signifikan.
Perkembangan teknologi juga memberikan kemudahan dalam proses self improvement. Saat ini, berbagai sumber pembelajaran dapat diakses melalui platform digital seperti video edukasi, podcast, dan kursus daring.
Namun, penggunaan media sosial perlu dilakukan secara bijak agar tidak menimbulkan dampak negatif seperti perbandingan sosial yang berlebihan atau distraksi yang mengganggu produktivitas (Rizki, 2022).
Pada akhirnya, self improvement bukanlah tentang mencapai kesempurnaan, melainkan tentang proses menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Setiap individu memiliki perjalanan hidup yang berbeda, sehingga tidak ada standar tunggal dalam proses pengembangan diri. Yang terpenting adalah kemampuan untuk terus bertumbuh, belajar dari pengalaman, dan memperbaiki diri secara konsisten.
Dengan demikian, main character energy tidak dapat dipisahkan dari self improvement. Energi tersebut lahir ketika seseorang mampu menerima dirinya sendiri, mengelola kehidupannya dengan sadar, dan berkomitmen untuk terus berkembang tanpa harus membandingkan dirinya dengan orang lain.
Main character energy bukan sekadar tren media sosial, melainkan dapat menjadi dorongan positif bagi remaja untuk lebih mengenali diri dan mengembangkan potensi yang dimiliki. Namun, konsep ini hanya akan memiliki makna yang sehat apabila didasarkan pada proses self improvement yang nyata, bukan sekadar pencitraan atau tekanan sosial.
Menurut saya, remaja sebaiknya tidak terjebak dalam standar kesempurnaan yang dibentuk oleh media sosial. Setiap individu memiliki proses perkembangan yang berbeda, sehingga tidak tepat jika membandingkan diri dengan orang lain secara berlebihan.
Self improvement seharusnya dipahami sebagai perjalanan jangka panjang yang bersifat personal, bukan perlombaan untuk menjadi yang paling cepat atau paling sempurna.
Oleh karena itu, penting bagi remaja untuk membangun kesadaran bahwa perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten jauh lebih bermakna daripada perubahan besar yang tidak berkelanjutan. Dengan menumbuhkan kebiasaan positif, menjaga kesehatan mental, serta menerima diri sendiri, seseorang dapat benar-benar menjadi “tokoh utama” dalam hidupnya sendiri.
BACA JUGA: Bias Informasi di Ruang Digital
Pada akhirnya, main character energy yang sehat bukanlah tentang menjadi pusat perhatian, melainkan tentang menjadi pribadi yang terus bertumbuh, bertanggung jawab atas dirinya sendiri, dan mampu menjalani kehidupan dengan lebih sadar, seimbang, dan bermakna.
====
Penulis Business and Self Development Specialist
===
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email, disertai dengan lampiran KARTU IDENTITAS (KTP/SIM/DLL), FOTO (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), DATA DIRI SINGKAT (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 5.500-6.500 karakter. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Tidak ada korespondensi terkait layak atau tidaknya tulisan Anda diterbitkan. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com

