| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

LIBURAN sekolah tiba. Suasana sekolah lengang dan ruang-ruang kelas yang biasanya riuh oleh suara siswa mendadak sunyi. Tidak ada lagi bel berbunyi. Namun, ada pertanyaan sederhana, yakni ketika sekolah liburan, ke mana para guru pergi? Banyak orang masih memandang liburan sekolah sebagai masa istirahat bagi semua warga sekolah. Bagi siswa, tentu demikian. Namun bagi guru, liburan bukan sekadar waktu untuk meninggalkan rutinitas mengajar.
Guru memang tidak selalu berdiri di depan papan tulis, tetapi tugas mendidik tidak pernah benar-benar berhenti. Ada pekerjaan senyap yang tetap berlangsung: mengevaluasi pembelajaran, menyusun perangkat ajar, memperbaiki strategi mengajar, mengikuti pelatihan, membaca buku, hingga mempersiapkan diri menghadapi semester berikutnya.
Dalam paradigma pendidikan modern, guru bukan hanya penyampai materi pelajaran. Guru adalah pembelajar sepanjang hayat. Gagasan ini sejalan dengan pemikiran tokoh pendidikan seperti Ki Hadjar Dewantara yang menempatkan guru sebagai pamong, seseorang yang menuntun pertumbuhan peserta didik sesuai kodratnya. Menjadi pamong berarti guru juga harus terus bertumbuh agar mampu memahami perubahan zaman.
Di tengah perubahan teknologi dan hadirnya kecerdasan buatan (AI), tantangan guru semakin besar. Data Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang dirilis Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menunjukkan bahwa kemampuan literasi, matematika, dan sains siswa Indonesia masih menghadapi tantangan besar dibandingkan rata-rata negara OECD.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa peningkatan kualitas pembelajaran tidak dapat hanya dibebankan kepada siswa, tetapi juga membutuhkan penguatan kompetensi guru.
Karena itu, masa liburan sekolah sebenarnya dapat menjadi ruang refleksi profesional bagi guru. Bukan berarti seluruh waktu harus diisi dengan pekerjaan administrasi yang melelahkan, tetapi menjadi kesempatan untuk bertanya dan merefleksi diri: apakah cara mengajar saya selama ini sudah memberi dampak?
Pendidikan tidak pernah berhenti berubah. Kurikulum, teknologi, karakter siswa, dan kebutuhan masyarakat terus bergerak. Guru yang berhenti belajar akan menghadapi kesulitan mengejar perubahan tersebut.
Seperti pernah disampaikan John Dewey, pendidikan bukan persiapan untuk kehidupan; pendidikan adalah kehidupan itu sendiri. Guru yang terus belajar sedang memberi contoh paling nyata bahwa belajar tidak mengenal batas usia.
Namun demikian, ada sisi lain yang juga harus diperhatikan. Guru adalah manusia, bukan mesin pendidikan. Setelah satu semester menghadapi berbagai dinamika kelas, tuntutan administrasi, perubahan kebijakan, dan persoalan siswa, guru juga membutuhkan pemulihan. Liburan bukan hanya tentang produktivitas, tetapi juga tentang menjaga kesehatan fisik dan mental.
Terlebih bagi guru yang sudah memasuki usia matang. Setelah puluhan tahun mengabdi, energi mungkin tidak sama seperti saat awal menjadi pendidik.
Mereka membutuhkan waktu untuk beristirahat, berkumpul bersama keluarga, menjaga kesehatan, dan menemukan kembali kegembiraan dalam profesi yang dijalani. Guru yang sehat secara fisik dan emosional akan lebih mampu menghadirkan pembelajaran yang bermakna.
Maka, pertanyaan apa yang dilakukan guru saat liburan? tidak seharusnya dijawab dengan anggapan bahwa guru sedang tidak bekerja. Sebab pekerjaan guru memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar jam mengajar. Ada proses berpikir, merenung, dan mempersiapkan masa depan anak-anak bangsa yang berlangsung jauh dari sorotan.
Sebagian guru mungkin mengikuti pelatihan pembelajaran mendalam, memperdalam pemanfaatan teknologi digital, atau menyusun proyek pembelajaran yang lebih kreatif.
Sebagian lainnya mungkin membaca buku, menulis, berdiskusi dengan sesama pendidik, atau melakukan penelitian sederhana tentang praktik mengajarnya.
Namun ada pula guru yang memilih beristirahat sejenak, karena setelah memberikan energi kepada siswa selama satu semester, mereka juga berhak mengisi kembali energinya.
Masyarakat perlu memahami bahwa kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh gedung sekolah, fasilitas teknologi, atau perubahan kurikulum.
Kualitas pendidikan sangat bergantung pada kualitas manusia yang berada di dalamnya, terutama guru. Karena itu, menghargai waktu liburan guru berarti juga menghargai proses panjang membangun pendidikan.
Di beberapa negara dengan sistem pendidikan maju, pengembangan profesional guru menjadi bagian penting dari kebijakan pendidikan. Guru tidak dibiarkan berjalan sendiri, tetapi diberi ruang untuk terus berkembang.
Indonesia pun bergerak ke arah tersebut melalui berbagai program peningkatan kompetensi guru, termasuk penguatan pembelajaran yang berpusat pada siswa dan pengembangan kompetensi abad ke-21.
Pada akhirnya, liburan sekolah adalah jeda yang memiliki makna. Bagi siswa, ia menjadi kesempatan untuk bermain, rekreasi, dan menemukan pengalaman baru. Bagi guru, ia menjadi ruang untuk menyusun ulang energi dan gagasan.
BACA JUGA: Krisis Kejujuran di Dunia Pendidikan
Di tengah dunia yang berubah cepat, mungkin inilah makna terdalam dari liburan sekolah bagi guru: bukan sekadar berhenti bekerja, tetapi berhenti sejenak untuk kembali mempersiapkan diri jelang tahun ajaran baru tiba.
Maka, mungkin sudah saatnya kita melihat liburan sekolah dengan cara yang lebih luas. Bagi siswa, liburan adalah waktu untuk tumbuh melalui pengalaman di luar kelas. Bagi guru, liburan adalah ruang untuk merawat diri, memperkaya pikiran, dan menyiapkan langkah baru.
===
Penulis adalah Pegiat Komunitas BERGEMA Guru Sumatera Utara
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com.

