| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

DI SEBUAH masjid kampung yang cat temboknya mulai mengelupas seperti janji politik selepas pemilu, seorang kiai tua berbicara tentang sabar. Suaranya pelan. Tidak meledak-ledak seperti knalpot motor remaja desa. Tidak pula berapi-api seperti orator demonstrasi yang baru membaca dua halaman filsafat lalu merasa menjadi nabi revolusi. Jamaah duduk bersila. Ada yang menunduk. Ada yang melamun memikirkan cicilan. Ada pula yang matanya berkaca-kaca sebab hidup memang kadang lebih keras daripada suara toa masjid menjelang subuh.
Ceramah itu berlangsung lama. Tidak ada musik pengiring. Tidak ada efek petir. Tidak ada tulisan “part 1” atau “jangan skip video ini kalau ingin selamat dunia akhirat".
Tetapi anehnya, nasihat sang kiai tinggal di kepala jamaah lebih lama daripada slogan pejabat di baliho jalan raya. Kata-katanya pelan, tetapi masuk ke dada seperti hujan desa yang meresap diam-diam ke akar bambu.
Di waktu yang hampir sama, di tempat yang jauh dari bau sajadah dan suara sandal jepit, seorang ustaz muda sedang bertarung di TikTok. Ia bicara cepat seperti dikejar utang. Matanya melotot penuh semangat algoritma. Tangannya bergerak ke sana kemari seperti petugas parkir liar mengatur kemacetan kota. Judul videonya lebih galak daripada spanduk debt collector: “Kalau Tidak Begini, Hidupmu Hancur!”
Dalam beberapa jam videonya ditonton jutaan orang. Komentarnya ribut seperti pasar kambing menjelang Iduladha. Ada yang menangis. Ada yang marah. Ada yang merasa tercerahkan hanya karena mendengar satu menit ceramah sambil rebahan dan mengunyah kerupuk.
Besok video itu tenggelam. Dilindas video joget. Didorong gosip artis. Dikubur oleh sensasi baru yang umurnya lebih pendek daripada semangat diet hari Senin pagi.
Di situlah ucapan Marshall McLuhan menemukan kubur sekaligus kelahirannya kembali: medium adalah pesan. Medium bukan ember kosong. Ia ikut memberi rasa pada air yang dituangkan ke dalamnya. Nasihat yang lahir dari mimbar masjid berubah nasib ketika dilempar ke TikTok. Seperti sayur lodeh kampung yang dipaksa masuk restoran mahal: bentuknya mungkin sama, tetapi aromanya kehilangan separuh jiwa.
Masjid adalah tempat manusia datang membawa kesunyian. TikTok adalah pasar malam yang lampunya berkedip-kedip seperti mata kapitalisme yang tak pernah tidur.
Di masjid orang belajar diam. Di TikTok orang belajar cepat. Di masjid manusia mendengar dengan dada. Di media sosial manusia melihat dengan jempol. Maka jangan heran kalau hari ini orang lebih mudah tersinggung daripada tersentuh.
Medium ternyata ikut membentuk watak manusia. Layar telepon genggam membuat orang merasa hidup harus secepat internet. Semua ingin instan. Bahkan nasihat agama pun dipaksa seperti mi cup: tinggal seduh tiga menit lalu merasa suci.
Ceramah panjang dianggap membosankan. Buku tebal dianggap ancaman. Padahal kebijaksanaan tidak lahir dari kecepatan. Ia tumbuh pelan seperti pohon beringin tua yang akarnya diam-diam merusak trotoar kekuasaan.
Hari ini manusia modern hidup dalam teror notifikasi. Bunyi “ting” dari telepon lebih cepat dipatuhi daripada suara hati sendiri. Orang bangun tidur bukan mencari air wudu, tetapi mencari layar. Mereka menggulir media sosial seperti orang kelaparan mengaduk nasi aking. Semua dilihat. Semua dibandingkan. Semua ingin dimiliki. Akibatnya, kepala penuh informasi tetapi hati kosong seperti aula seminar setelah panitia membawa pulang kursi.
Kita sedang menyaksikan zaman ketika perhatian manusia diperdagangkan lebih murah daripada gorengan pinggir jalan. Semua berebut viral. Semua berebut tampil. Bahkan kesedihan pun kini harus punya pencahayaan yang bagus agar layak masuk FYP. Orang menangis sambil mengatur kamera. Orang marah sambil mencari sudut terbaik wajahnya. Dunia menjadi panggung raksasa tempat manusia sibuk mempertontonkan diri sendiri.
Tetapi teknologi tentu tidak bisa dimusuhi begitu saja. Menyalahkan TikTok atas kerusakan manusia kadang sama lucunya dengan menyalahkan sendok atas kegemukan pejabat. Media hanyalah alat.
Persoalannya terletak pada manusia yang kehilangan kemampuan mengendalikan dirinya sendiri. Kita terlalu lama memuja kecepatan sampai lupa bahwa jiwa manusia kadang membutuhkan jeda.
Maka di tengah dunia yang ribut seperti mesin kampanye, masjid menjadi penting. Ia adalah tempat terakhir bagi manusia untuk bernapas pelan. Tempat orang belajar bahwa tidak semua hal harus diumumkan ke publik. Tidak semua kesedihan perlu dijadikan konten. Tidak semua ilmu cocok dipotong-potong menjadi video satu menit.
BACA JUGA: Ruang Digital, Imajinasi Sosial, dan Krisis Kesadaran Kemanusiaan
Sebab manusia sesungguhnya tidak hanya membutuhkan informasi. Ia juga membutuhkan keheningan. Dan di zaman layar bercahaya ini, keheningan telah menjadi barang langka—lebih langka daripada pejabat yang selesai menjabat tanpa menambah kekayaan.
====
Penulis Pegiat Literasi Tinggal di Yogyakarta
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com.

