| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

ADA sebuah nilai yang sering dianggap sederhana, bahkan kadang terlupakan dalam percakapan tentang pendidikan yakni rasa malu. Bukan malu karena gagal mendapat nilai tinggi, bukan pula malu karena kalah bersaing, tetapi malu ketika melakukan sesuatu yang tidak benar. Rasa malu adalah suara batin yang membuat seseorang berhenti sebelum berbuat curang, menyadari kesalahan, dan memilih menjaga kehormatan diri. Hari ini pendidikan kita menghadapi pertanyaan apakah sekolah mulai kehilangan rasa malu?
Pertanyaan ini muncul ketika berbagai praktik yang semestinya menjadi hal memalukan justru perlahan dianggap norma. Misal, mencontek saat ujian, menyalin tugas tanpa memahami isi, menggunakan teknologi AI untuk mencari jawaban instan, hingga memoles capaian akademik demi terlihat unggul seolah menjadi bagian dari dinamika pendidikan yang harus diterima saat ini.
Padahal, sekolah bukan hanya tempat mengajarkan ilmu, tetapi juga tempat membangun watak. Jika ruang pendidikan mulai kehilangan kejujuran, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kualitas nilai siswa, tetapi masa depan karakter sebuah generasi.
Selama ini keberhasilan pendidikan seringkali diukur dari angka-angka. Sekolah dianggap hebat ketika memiliki banyak siswa berprestasi, nilai rapor rata-rata tinggi, dan lulusan yang diterima di perguruan tinggi favorit. Semua itu tentu penting. Namun, pendidikan menjadi kehilangan arah ketika angka lebih dihargai daripada proses.
Siswa akhirnya belajar bahwa yang paling penting bukan bagaimana mereka memperoleh hasil, tetapi bagaimana mereka terlihat berhasil. Mereka belajar bahwa nilai tinggi adalah tujuan utama, sementara proses, perjuangan, dan kejujuran menjadi urusan kedua. Di sinilah dilema pendidikan muncul. Sekolah ingin menghasilkan prestasi, tetapi kadang lupa bahwa prestasi tanpa integritas adalah keberhasilan yang rapuh.
Seseorang yang mendapatkan nilai sempurna melalui kecurangan sebenarnya sedang mengalami kegagalan yang tidak terlihat. Ia mungkin berhasil melewati ujian di kelas, tetapi gagal menghadapi ujian kehidupan yang lebih besar: ujian tanggung jawab dan kejujuran.
Pendidikan yang kehilangan malu akan melahirkan generasi yang terbiasa mencari jalan pintas. Mereka tidak lagi merasa bersalah ketika mengambil hak orang lain, memanipulasi informasi, atau mengklaim sesuatu yang bukan hasil kerja sendiri. Sebab sejak kecil mereka telah belajar bahwa hasil akhir lebih penting daripada nilai moral dalam proses mencapainya.
Ironisnya, sekolah sering menjadi tempat pertama anak-anak belajar tentang kompetisi. Kompetisi sebenarnya baik karena dapat memotivasi siswa untuk berkembang. Namun, ketika kompetisi tidak diimbangi dengan nilai kejujuran, ia dapat berubah menjadi tekanan yang membuat sebagian anak menghalalkan berbagai cara.
Dalam situasi seperti ini, guru berada pada posisi yang tidak mudah. Guru dituntut meningkatkan kualitas pembelajaran, mengejar target capaian, dan menjaga citra sekolah. Tetapi di sisi lain, guru memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar yakni menjaga agar pendidikan tidak kehilangan ruhnya.
Guru bukan hanya pengajar materi, tetapi penjaga nilai. Ketika seorang guru memilih memberikan nilai sesuai kemampuan nyata siswa meskipun hasilnya tidak sempurna, sebenarnya guru sedang mengajarkan pelajaran penting tentang kejujuran. Sebaliknya, ketika nilai dinaikkan hanya demi memenuhi target tertentu, siswa belajar bahwa kenyataan boleh dikalahkan oleh pencitraan.
Anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat. Mereka melihat bagaimana orang dewasa menghadapi kesalahan, bagaimana sekolah memperlakukan proses, dan bagaimana masyarakat menghargai keberhasilan. Jika lingkungan selalu memuja hasil tetapi mengabaikan cara mencapainya, jangan heran jika generasi muda akan tumbuh dengan cara berpikir yang sama.
Perubahan zaman juga memberikan tantangan baru. Kehadiran kecerdasan buatan dan teknologi digital membuat akses terhadap informasi menjadi semakin mudah. Siswa dapat memperoleh jawaban dalam hitungan detik. Namun, kemudahan ini membawa pertanyaan besar apakah siswa sedang menggunakan teknologi untuk belajar atau hanya untuk menghindari proses berpikir?
Di sinilah pendidikan harus kembali kepada tujuan utamanya: membangun manusia yang memiliki kemampuan sekaligus kesadaran moral. Teknologi boleh semakin canggih, tetapi manusia tetap membutuhkan nilai yang membuatnya bijaksana.
Pendidikan yang baik bukan pendidikan yang tidak pernah menemukan kesalahan. Justru pendidikan yang sehat adalah pendidikan yang berani mengakui kesalahan dan memperbaikinya. Sekolah harus menjadi tempat dimana siswa belajar bahwa kegagalan bukan sesuatu yang memalukan, tetapi ketidakjujuran lah yang seharusnya membuat kita merasa malu.
BACA JUGA: Sekolah: Ruang Awal Pembentukan Nalar Kritis
Mungkin sudah saatnya kita mengubah cara pandang tentang keberhasilan. Anak yang mendapatkan nilai tinggi bukan selalu anak yang paling berhasil. Bisa jadi, anak yang berani mengakui belum memahami pelajaran tetapi mau belajar dengan sungguh-sungguh jauh lebih dekat dengan makna pendidikan yang sebenarnya.
Sebuah bangsa tidak akan kekurangan orang cerdas, tetapi bisa kehilangan arah jika kehilangan orang yang jujur. Dan ketika pendidikan mulai kehilangan rasa malu, mungkin saat itulah kita perlu bertanya kembali, sebenarnya apa yang sedang kita ajarkan kepada anak-anak kita? Apakah kita sedang membangun generasi yang hebat, atau hanya generasi yang pandai terlihat hebat?
===
Penulis adalah Pegiat Komunitas BERGEMA Guru Sumatera Utara
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com.

