| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

PENDIDIKAN merupakan pondasi utama dalam membangun peradaban bangsa. Kesadaran akan esensi pendidikan sangatlah penting. Baik buruknya suatu bangsa dapat dilihat dari kualitas pendidikan di negara tersebut. Terbukti bahwa seluruh negara yang berhasil mencapai tingkat kemajuan yang tinggi mesti ditopang dengan pendidikan yang kokoh pula.
Di Indonesia, sejak kemerdekaan yang dalam hitungan hari lagi mencapai 75 tahun, pendidikan termasuk tujuan utama bangsa. Hal itu tertuang di pembukaan UUD 1945. Landasan pokok sistem pendidikan nasional termaktub dalam batang tubuh UUD 1945, yakni tanggung jawab mencerdaskan kehidupan bangsa.
Sudah 75 tahun merdeka, namun keadaan pendidikan di indonesia hingga saat ini belum bisa dikatakan sepenuhnya baik. Walaupun dari data ranking Webometric terbaru (Juli, 2020) beberapa perguruan tinggi di Indonesia masih mampu bertengger di seribu perguruan tinggi terbaik sedunia, Indonesia masih berada di posisi 67 dari 125 negara di dunia dalam peringkat Global Talent Competitiviness Index (GTCI). Raihan tersebut pastinya belumlah memuaskan. Untuk lingkup ASEAN, Indonesia hanya berada di posisi ke-6 dengan skor 38,61. Padahal kita merupakan negara dengan ekonomi terbesar di wilayah ASEAN. Indonesia masih terpaut cukup jauh dari negeri jiran Malaysia yang ada di posisi kedua dengan skor 58,62.
Kondisi ini semakin diuji dengan masa pandemi Covid-19 yang belum tahu kapan akan normal kembali. Sektor pendidikan di Indonesia saat ini mengalami ujian berat. Mau tidak mau, sebagai langkah alternatif, serentak hampir di seluruh penjuru Indonesia dilakukan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ). Padahal sebelum adanya PJJ, penyediaan pendidikan layak khususnya untuk daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) juga masih belum tuntas. Tak jarang, alternatif belajar daring masih menimbulkan polemik. Tidak semua pelajar maupun keluarganya mampu menyediakan teknologi belajar daring, baik itu karena perihal level kecakapan teknologi ataupun perihal biaya.
Belajar secara daring kelihatannya nampak mudah dan sederhana. Tapi untuk bisa mengikuti, peserta didik tentu perlu tambahan biaya dan koneksi internet yang memadai. Bagaimana dengan para pelajar di daerah tertinggal yang koneksi internetnya masih belum memadai. Sekalipun di daerah yang internet merupakan konsumsi wajib, tetap perlu biaya untuk menyediakan kuota internet. Ditambah lagi tidak sedikit anak didik dan keluarganya di rumah yang masih canggung internet.
Ujung dari semua itu, para orang tua mengeluh atas segala keruwetan belajar di masa pandemi Covid-19. Tanpa disadari biaya belajar jadi lebih mahal dibanding kondisi normal. Orang tua atau wali murid tetap mesti membayar biaya sekolah ditambah biaya kuota internet yang tidak bisa dielak. Padahal mayoritas kondisi ekonomi yang dirasakan justru sebaliknya. Terbukti dari pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II 2020 malah minus 5,32% dibanding periode yang sama tahun lalu, yang diprediksi semakin dekat dengan resesi ekonomi.
Pertanyaan selanjutnya, apakah belajar daring efisien? Selain masalah di atas, persoalan efektivitas masih dipertanyakan. Banyak pelajar dan orang tua mengeluh masalah teknis belajar daring, misalnya pihak sekolah atau para guru lebih banyak memberi soal/tugas ketimbang memaparkan materi. Padahal aktivitas belajar-mengajar haruslah diawali dengan penjelasan materi oleh guru, baru kemudian diperkuat dengan memberikan penugasan.
Tentu bukan cuma pelajar yang mengeluh atas masalah teknis pembelajaran daring, melainkan juga orang tua. Ibaratnya, para orang tua yang sekolah lagi. Tidak jarang para orang tua ikut puyeng dengan materi yang diberikan dari sekolah. Tidak sedikit pelajar yang memilih untuk tidak mengerjakan tugas-tugas karena saking banyaknya tugas sekolah. Hal ini perlu jadi bahan evaluasi agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi peserta didik.
Segala macam persoalan belajar daring saat ini mestilah dikaji secara bijak oleh pemerintah, khususnya Kemendikbud. Kebijakan yang diambil pemerintah perihal pembelajaran daring dalam periode yang relatif panjang seperti sekarang ini dirasa masih banyak yang perlu dibenahi. Tampak kebijakan yang dikeluarkan pemerintah seperti hanya coba-coba, kurang matang, kerap berubah-ubah, apa itu karena ada kepentingan lain atau memang kekurang-mampuan. Padahal tantangan pendidikan kita baik jangka pendek maupun jangka panjang akan terus semakin berat.
Sebentar lagi usia kemerdekaan Indonesia mencapai tiga perempat abad. Tahun 2045, genap 100 tahun. Dimana dalam menuju periode tersebut (2020-2045) diproyeksikan Indonesia akan kebanjiran bonus demografi, yaitu sekitar 70% penduduk merupakan usia produktif (15-64 tahun), dan 30% merupakan penduduk yang tidak produktif (di bawah 14 tahun dan di atas 65 tahun).
Pemerintah Indonesia melalui dokumen Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang disusun oleh Menko Perekonomian menargetkan tahun 2025 Indonesia akan jadi negara maju, mandiri, makmur, dan adil dengan pendapatan per kapita sekitar 15 ribu Dollar Amerika dan menjadi kekuatan ekonomi 12 besar dunia. Kemudian pada 2045 mendatang diproyeksikan Indonesia masuk dalam 7 kekuatan ekonomi terbesar di dunia dengan pendapatan per kapita sebesar 47 ribu Dollar Amerika. Untuk mencapai target tersebut, Indonesia harus mampu menyiapkan generasi muda yang unggul. Diperlukan persiapan yang matang dan kerja keras. Paling utama adalah menciptakan sistem pendidikan yang unggul untuk mencetak generasi emas di tahun 2045.
====
Penulis Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Asahan/Ketua Umum KAMMI Komisariat UNA
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto (minimal 700 px dalam format JPEG), data diri singkat/profesi/kegiatan (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Tulisan sebaiknya tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]

