| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

SEBAGAI negara bangsa, meminjam istilah Ben Anderson, Indonesia adalah sebuah proyek peradaban dalam proses menjadi. Sebuah visi pendidikan diperlukan untuk ’membayangkan’ manusia Indonesia seperti apa yang diinginkan kelak.
Tentu saja yang dimaksud bukan penyeragaman, tetapi kesepakatan terkait alur pemikiran dan pemahaman yang memberikan ruang bagi mekarnya kreativitas dan keberagaman, toleransi, serta tanggung jawab yang dimiliki anak didik. Begitu pula solidaritas terhadap mereka yang lemah, miskin dan yang termarjinalkan.
Ada kesepakatan, bahwa pendidikan sebaiknya berorientasi pada nilai-nilai. Pendidikan tidak boleh terbatas pada sekadar transfer pengetahuan dan keahlian fungsional. Tapi, tak kalah penting adalah pengembangan jati diri dan kemampuan mengkritisi serta menularkan nilai dasar bersama, seperti halnya kejujuran, keadilan, kerja keras, kesederhanaan, disiplin dan kebersamaan.
Kondisi saat ini sebagai akibat pandemi Covid-19 telah memaksa para siswa dan warga sekolah untuk belajar dan bekerja di rumah. Beradaptasi dengan pola pembelajaran jarak jauh atau daring. Perlu untuk ditekankan, bahwa kondisi demikian tidak bisa menjamin anak didik akan mendapatkan cara belajar yang optimal jika dibandingkan saat belajar di kelas dengan pembelajaran model tatap muka. Anak bermalasan saat belajar, bantuan orang tua tidak maksimal mendampingi putra-putrinya, begitu juga guru-gurunya yang sekedar memberikan tugas saja. Nilai-nilai edukasi yang diharapakan bisa tercapai dalam kondisi seperti ini masih diragukan.
BACA JUGA: Refleksi Hari Guru 2020: Memuliakan Guru
Bila tujuan pendidikan adalah memerdekakan manusia, perlu disadarkan bahwa pribadi yang merdeka dan bukan yang laissez faire, tetapi yang mampu mempertanggungjawabkan kemerdekaannya. Selain itu, meski sistem pendidikan sebaiknya terkait dengan dunia praktis, itu bukan berarti melulu berbicara tentang ’materialisasi’ pendidikan yang mengedepankan konsep ’siap pakai’ bagi dunia lapangan. Akan tetapi hal-hal mendasar yang menyangkut dengan karakter dan penanaman nilai-nilai luhur sebagai amanah pendidikan adalah sebuah keniscayaan.
Saya hanya hendak berbagi pengalaman dari pembelajaran jarak jauh yang mendadak. Kondisi demikian bukan hanya kaget secara psikologis, namun bisa memutar otak untuk berupaya dengan kreatif agar proses pembelajaran tetap dilaksanakan. Proses kreatif ini tidak datang begitu saja, melainkan memerlukan adaptif dengan semua perangkat teknologi yang dibutuhkan.
Bagi guru, tidak setiap guru bisa dengan mudah memahami dan menggunakan perangkat serta aplikasi yang digunakan saat daring. Misalnya seperti zoom, google meet, microsoft teams, edmodo, google class room atau streaming youtube. Kondisi demikian harus bisa dimaklumi. Kemudian juga kondisi para siswa, tidak semua mempunyai handphone atau laptop sebagai sarana pendukung kegiatan pembelajaran jarak jauh. Belum lagi untuk memikirkan kuota sebagai tambahan biaya. Bahkan sinyal dan jaringan yang mungkin dapat menjadi kendala.
Siapa yang disalahkan jika ada sejumlah masalah seperti di atas? Bahkan lebih miris terjadi beberapa siswa di daerah terpencil tidak bisa belajar sama sekali? Ada yang gantung diri akibat tidak mampu untuk membeli handphone untuk daring? Siapa yang salah? Dan siapa yang bertanggungjawab atas semua itu?
Setelah hampir setahun pelaksanaan pembelajaran jarak jauh berjalan di sekolah, banyak kalangan mulai mengeluh dengan proses model pembelajaran tersebut. Mulai dari siswa, orangtua, maupun pihak guru sendiri. Pembelajaran jarak jauh yang mendadak merupakan hal yang baru bagi siswa, orangtua, guru maupun pihak sekolah. Sehingga dalam hal ini tidak ada satu pihak pun yang mempunyai bekal cukup untuk menjalani proses ini.
Berdasarkan catatan survei KPAI, pembelajaran jarak jauh fase pertama berjalan tidak efektif, hampir 77,8% para siswa mengeluhkan kesulitan belajar dari rumah. Di antara keluhannya, 37,1% siswa mengeluhkan waktu pengerjaan terlalu sempit sehingga memicu kelelahan bahkan stress. Kemudian 42% orang tua tidak mampu membelikan kuota internet dan 15,6% siswa ksulitan melaksanakan daring karena tidak mempunyai peralatan daring. Selain itu, pembelajaran jarak jauh telah menunjukkan adanya kesenjangan dalam akses digital di kalangan peserta didik. Sudah tentu gap ini semakin melebar andai diukur dari faktor ekonomi dan letak demografi.
Dan yang pernah saya dapatkan saat kegiatan pengumpulan tugas secara daring, menemukan siswa yang tidak jujur dalam mengumpulkan tugas. Hal ini dilakukan oleh siswa yang dengan sengaja menukar nama temannya dengan diganti menjadi namanya sendiri. Dari sini saya mulai berpikir, sejauh itukah para siswa membohongi gurunya serta mengesampingkan nilai-nilai kejujuran? Dalam hal ini saya merasa pembelejaran daring terdapat kekurangan dalam hal proses mendidik siswa. Pembelajaran daring telah gagal dalam transfer nilai-nilai kepada siswa.
Adalah tidak sehat untuk mempersoalkan posisi benar dan salah dalam hal ini. Fakta yang telah terjadi adalah sebuah akibat dari kekeliruan yang panjang dalam proses pembelajaran selama ini, bukan akibat dari kondisi pandemi Covid-19 saja. Juga adalah kenyataan bahwa semua itu merupakan indikasi kegagalan pendidikan yang seharusnya berperanan menghasilkan manusia yang tidak hanya rasional, tapi juga yang berbudi luhur.
Diperlukan sistem pendidikan yang memberikan ruang bagi anak didik untuk merdeka dalam belajar dan berkreasi secara fair. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah karakter yang senantiasa harus menjadi bagian penting pada setiap proses pembelajaran berlangsung. Kejadian tersebut tentu kembali kepada guru bagaimana memperbaiki sikap dan mental karakter siswa yang tidak baik, curang atau berbohong. Siswa diberikan pemahaman dan penjelasan agar tidak untuk mengulangi lagi.
Tidak ada pilihan lain bagi bangsa ini, selain mengambil hikmah masa pandemi ini untuk merancang pendidikan bangsa yang lebih baik pasca pandemi. Spirit pendidikan pasca pandemi ini bisa diwujudkan paling tidak dalam tiga hal. Pertama, perlu pemberdayaan ruang kreatifitas. Upaya-upaya pemerintah untuk mendorong pembelajaran jarak jauh, penguasaan teknologi menjadi barang vital untuk menjembataninya. Namun, para siswa perlu dipandang sebagai partner pendidikan dan subyek pedagogis yang perlu diutamakan. Bersama guru, mereka meretas relasi kerekanan yang saling memberi dan menerima. Dan terpenting, akal, nurani, dan tangannya (head, heart, hand), diberdayakan secara utuh. Di sana, diharapkan agar dalam kondisi berbeda mereka mampu menjadi pelaku. Itulah yang dikehendaki dalam kemerdekaan pendidikan ini. Kehadiran teknologi hanya merupakan pelengkap pembelajaran semata.
Pendidikan juga perlu menanamkan sikap kritis pada anak didiknya. Melalui model pendidikan seperti itu, terlahir manusia-manusia kritis yang mampu melihat aneka tantangan dari zamannya. Spirit pembahruan pendidikan pasca pandemi, kata Asep P.B. (2006), akan menumbuhkan kuriositas intelektual, kematangan emosional, dan kejernihan spiritual anak didik. Mereka akan mampu melakukan transformasi diri menjadi orang-orang yang terbebaskan, lantaran institusi pendidikan dan lingkungan memberikan ruang dan iklim yang kondusif.
Kedua, kita butuh pijakan filosofis pendidikan yang kuat untuk take off dari krisis selama pandemi. Ia menjadi kekuatan internal yang menjadi pedoman dan penuntun arah dalam berbagai kebijakan yang tidak tergoyahkan. Kenyataan menunjukan, perubahan yang kerap terjadi pada level kurikulum, lebih menjadi ekspresi imitatif terhadap negara lain ketimbang buah refleksi dengan pijakan falsafah bangsa yang kuat. Kita bagai bunglon yang begitu rajin mengubah warna, tetapi tidak pernah menukik ke kedalaman batin untuk menjadikannya titik awal perubahan.
Dan yang ketiga, butuh kehendak politik. Rambu-rambu yang terumus dalam kurikulum amat baik karena mengikuti pemikiran pedagogis-edukatif mutakhir. Hanya saja, rancangan itu tidak disertai komitmen. Pemerintah masih setengah hati dalam perubahan hingga ada kesan masih ada neokolonialisme. Diperlukan eksistensi pendidikan yang memiliki spirit merdeka belajar. Artinya, pendidikan dipercaya punya pengaruh yang positif dan sekaligus menghasilkan kualitas hidup masyarakat yang lebih baik. Dalam perspektif ini, pendidikan bisa dilihat sebagai sebuah institusi untuk menginternalisasikan dan mensosialisasikan berpikir kritis, prinsip kemandirian, dan nilai hak asasi manusia harus bisa dijalankan.
Sebagian dari butir-buitr harapan itu masih menjadi mimpi yang dalam waktu dekat sulit untuk dijangkau. Masih butuh waktu. Akan tetapi apakah anak didik atau guru selalu menjadi korban? Kita tidak sedang mencari siapa yang salah, tetapi sedang mencari jalan keluar. Masihkah ada jejak yang tinggal untuk membangun pendidikan pasca pandemi di negeri ini?
====
Penulis Guru SMA Negeri 1 (Plus) Matauli Pandan, Tapanuli Tengah.
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto (minimal 700 px dalam format JPEG), data diri singkat/profesi/kegiatan (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Gunakan kalimat-kalimat yang singkat (3-5 kalimat setiap paragraf). Judul artikel dibuat menjadi subjek email. Tulisan TIDAK DIKIRIM DALAM BENTUK LAMPIRAN EMAIL, namun langsung dimuat di BADAN EMAIL. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]

