| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

SEORANG guru menulis sastra sedang bereksperimen bersama muridnya. “Jika cerpen kalian saya kirim ke koran dengan nama saya sebagai penulisnya, cerpen itu pasti dimuat,” ujar sang guru. Salah seorang dari murid kemudian mengirimkan karyanya kepada guru. “Satu kali ia datang ke dalam mimpiku, dengan paras cantik, seperti orang mati yang berubah menjadi bidadari, dan aku menyapanya, “Hai””, guru itu memberi semacam pengantar untuk cerpen anak didiknya tersebut. Muridnya lalu melanjutkan cerita yang sudah diberi pengantar itu. Kemudian, setelah cerpen itu selesai dirakit, sang guru mengirimkan cerita itu ke koran. Tidak menggunakan nama muridnya, melainkan namanya sendiri. Dan, betul saja, karya itu dimuat.
Kenapa mereka berdua melakukan itu? Semuanya berangkat dari rasa frustrasi sang murid di satu sisi dan rasa berada di ketinggian kasta sang guru di sisi lainnya. Frustrasi karena kelas menulis yang diampu sang guru membuat murid-muridnya terbelah menjadi dua kelompok: murid yang karyanya sudah diterbitkan dan murid yang karyanya tak kunjung diterbitkan. Cerpen yang diberi kata pengantar tersebut berasal dari kelompok terakhir. Muridnya mengulangi perkataan gurunya menggambarkan betapa berlatih menulis itu butuh pengorbanan yang tidak sedikit: “Enam atau tujuh atau tiga belas bulan menyiksa diri dengan urusan teknis adalah waktu yang singkat dibandingkan dua puluh tahun mengerjakan sesuatu dengan kecakapan yang mandek di tempat.” Boleh jadi ini pernyataan sangat jujur betapa berlatih, berlatih, berlatih, dan berlatih menulis bila tidak berakhir dengan pemuatan karya di koran adalah kesia-siaan penderitaan.
Menjelaskan ketinggian kasta sang guru kita mulai dari pernyataan ini: “Teman-teman, hari ini cerpen saya dimuat di Jawa Pos, tetapi saya harus berterus terang bahwa itu bukan cerpen saya.” Ada “saya” di “ketidaksayaan” itu. Dan itu adalah “saya” yang mendikte. Kenapa? Ternyata, itu cara sang guru, bersenang-senang di tengah kesuntukan murid-muridnya berlatih menulis. Bisa dikatakan: sang guru ingin menghibur dan kemudian memberikan harapan kepada murid-muridnya lewat nubuat yang terwujud. Ketinggian kasta itu semakin lengkap dengan ucapan panjang sang guru: “Saya mengedit cerpen itu dan menjadikannya lebih bagus, sebab itu memang urusan editor. … Kita beruntung jika naskah kita ditangani oleh editor yang cakap dalam urusannya, atau yang jauh lebih baik pengetahuannya ketimbang kita. Naskah kita berpeluang menjadi lebih bagus di tangan editor seperti itu".
BACA JUGA: Perlawanan Warga Porsea pada Awal Indorayon Berdiri
AS Laksana, sang guru, dan Afrilia, sang murid, kini sedang disidang pembaca. Sastrawan Indonesia pun berkomentar. Okky Madasari menilai pengakuan AS Laksana tersebut menjijikkan. Aan Mansyur dan Eka Kurniawan menangkap ada kesombongan di eksperimen itu. Untuk sementara, komentar tiga sastrawan itu cukup untuk mewakili betapa lakon tersebut cacat secara moral, pun abai terhadap kejujuran.
Guru Menulis Nasib
“Ini plagiarisme dan pelanggaran etis akademis,” ujar Eko Endarmoko ketika di tahun 2009 Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, menjiplak tesaurus yang ditulisnya tiga tahun sebelumnya. Saat peristiwa itu, tak banyak media massa meliput peristiwa memilukan tersebut, alih-alih kasus video porno mendapat peliputan dahsyat. Amin Sweeny (2011) mengatakan telah terjadi plagiarisme terang-terangan oleh Pusat Bahasa. Namun, bagi Sweeny, penjiplakan murni tersebut membuat harta Eko Endarmoko telah dijarah oleh Pusat Bahasa secara sinis dan ceroboh.
Sinis dan cerobohkah AS Laksana dan Afrilia? Apakah eksprimen di tengah kesuntukan latihan menjadi sastrawan itu sedemikian meletihkan sehingga memplagiasi dianggap kesenangan semata?
Eko Endarmoko berbeda nasib dengan Afrilia. Eko berdiri teguh mempertahankan keutuhan martabat dirinya di hadapan Pusat Bahasa. Hal sebaliknya terjadi kepada Afrilia. Secara terang-terangan Ia tidak mempermasalahkan tindakan gurunya. Ia menilai tak ada yang keliru dengan praktik tersebut. Bahkan, Ia mengatakan gurunya lebih hebat dari Max Perkins, editor tersohor Amerika.
Saya pikir, tidak pada tempatnya kita memberikan pembelaan terhadap praktik plagiarisme terang-terangan ini. Tidak pantas kemudian mendasarkan praktik tersebut kepada dalih “koran-koran di Indonesia lebih mengutamakan nama besar ketimbang kualitas tulisan”. Betapa sulit akal sehat menerima alasan apa pun selain mengakui bahwa yang dilakukan guru dan murid tersebut tidak sedang membuktikan apa-apa selain menggambarkan keangkuhan akut seorang guru yang berumah di menara gading.
AS Laksana sudah membunuh dirinya sendiri sekaligus membunuh muridnya. Pembunuhan yang direncakan. Sang guru sudah menuliskan nasibnya sendiri, demikian juga nasib muridnya. AS Laksana tentu hanya satu kali melakukan hal seperti itu. Satu kali pun sudah lebih dari cukup membuat redaktur koran di mana pun berpikir kelak memberikan ruang bagi dia, dan muridnya itu, menerbitkan karya. Dengan demikian AS Laksana sudah menyediakan panggung bagi dirinya sendiri untuk dikenang sebagai penulis yang menjarah kekayaan dirinya dan muridnya dengan sinis dan angkuh. Lalu, sepuluh tahun dari sekarang, kita akan berujar: Apa kabar AS Laksana?
====
Penulis Peneliti Parameter Nusantara/Dosen Sosiologi Agama IAKN Tarutung, Sumatera Utara.
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto (minimal 700 px dalam format JPEG), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Tulisan sebaiknya tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]

