| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

PANDEMI Covid-19 dua tahun terakhir berefek pada berbagai macam aktivitas banyak orang. Ekonomi terguncang. Kehidupan sosial terganggu. Pendidikan dihadapkan pada masalah learning loss. Pandemi yang telah merenggut jutaan nyawa itu juga membatasi mobilitas banyak orang. Dunia pariwisata menjadi salah satu sektor yang terimbas langsung atas pembatasan pergerakan orang itu.
Bali, misalnya, bak mati segan hidup tak mau. Pun tujuan-tujuan wisata lainnya di negeri ini segendang sepenarian. Ada banyak hotel dan penginapan-penginapan kecil yang terpaksa tutup. Minimnya tamu yang akan menginap membuat para pengusaha hotel tidak mampu menjalankan usahanya. Sehingga banyak karyawan yang harus dirumahkan sementara bahkan tidak sedikit pula yang berakhir pada pemutusan hubungan kerja (PHK).
Tapi, pertanyaannya sekarang, apakah dengan keadaan itu lantas membuat kita berpangku tangan? Seharusnya tidak. Sekecil apa pun peluang yang ada harus dimanfaatkan untuk berinovasi. Situasi sulit tersebut seharusnya menjadi kesempatan untuk berbenah sembari menunggu Covid-19 mereda. Terlebih-lebih tempat-tempat wisata yang dikelola oleh (baca: milik) pemerintah mestinya harus lebih baik. Sebab ada anggaran yang cukup untuk itu.
Sedihnya, ada tempat-tempat wisata plat merah yang ikut “tidur” ketika pandemi menerpa. Sebutlah Kebun Binatang Medan (Medan Zoo). Bukan justru lebih baik, Medan Zoo malah lebih buruk pascapandemi.
Saya mengunjungi Medan Zoo pada pertengahan 2018. Saya tidak ingin mengatakan bahwa pada saat itu Medan Zoo baik-baik saja. Saya harus akui, jauh dari kata layak. Beberapa koleksi binatangnya nampak kurang terurus. Kurus. Seperti kurang makan. Pun kandangnya, terkesan kumuh dan jorok. Sampah berserak di mana-mana.
Minggu lalu, saya bersama keluarga kembali mengunjungi kebun binatang terbesar di Sumatra Utara itu. Sebenarnya tujuan utama kami bukan ke sana. Tapi karena kami hanya memiliki sedikit waktu, maka akhirnya kami putuskan ke kebun binatang saja. Karena kami berpikir, dua jam saja sudah cukup puas berkeliling melihat-lihat berbagai jenis binatang.
Saya berharap akan melihat kebun binatang yang lebih bersih, lebih tertata, dan satu lagi, ada tambahan koleksi binatang di luar yang pada 2018 kami lihat. Terlebih-lebih setelah Kota Medan dipimpin oleh seorang wali kota yang konon disebut-sebut sebagai pemimpin visioner dan peduli pada kemajuan Kota Medan.
Namun nyatanya, tidak. Setibanya di sana, kami disambut sampah yang berserakan di sekitaran pintu gerbangnya. Kesan tidak terurus telah terlihat dari pintu masuk. Dari apa yang tersaji di pelataran Medan Zoo, saya segera menyimpulkan bahwa kebun bintang ini tidak lebih baik dari apa yang saya lihat 4 tahun lalu. Mungkin Anda berargumen, Don’t judge a book from its cover. Tapi, untuk kali ini saya harus men-judge.
Satu lagi yang saya soroti adalah harga tiket masuknya. Untuk ukuran kebun binatang sekumuh itu, Rp 20.000 per orang sangat mahal menurut saya. Sebagai perbandingan saja, harga tiket masuk ke Kebun Binatang Ragunan, Jakarta, yang merupakan salah satu kebun binatang terbaik di Indonesia dengan lebih dari 200 jenis koleksi binatangnya, tidak lebih dari Rp 10.000 per orang. Di sana, kita dimanjakan dengan penataan kebun binatang yang rapi dan bersih, di samping ratusan jenis binatang yang siap menyambut kehadiran kita.
Melihat tampilan depan Medan Zoo saja saya sebenarnya sudah tidak berniat lagi masuk ke dalam. Karena saya tahu, saya akan kecewa. Namun anak-anak sudah mendesak-desak ingin masuk. Apa boleh buat. Sebagai orang tua, saya turuti saja kemauan mereka. Mungkin saja mereka dapat ilmu dan pengetahuan baru setelah masuk ke dalam.
Masuk ke dalam kebun, rasa geram memenuhi kepala saya. Banyaknya sampah yang berserakan di luar kurang lebih sama dengan di dalam. Susunan paving blok yang menjadi jalan bagi pengunjung sebagian besar telah rusak dan terkelupas. Pun di sebagian tempat, ada jalan yang licin yang mesti membuat setiap pengunjung berhati-hati berjalan di sana.
Beberapa binatang seperti kurang makan. Kurus. Ada beberapa jenis harimau yang terlihat kurang bergairah. Mungkin karena lapar, atau kurang asupan gizi. Tidak hanya harimau, ada pula kuda, kucing emas, kucing akar, gajah, dan beberapa jenis binatang lainnya yang seperti enggan sekali bergerak. Kehadiran kami bahkan bukan sesuatu yang menarik bagi mereka. Kami sudah mencoba “mengganggu” tetapi mereka tetap saja “cuek”.
Bukan hanya beberapa binatang yang seperti tidak terurus. Ada pula beberapa kandang yang sudah kosong. Hanya rerumputan saja yang memenuhi kandang-kandang yang melompong itu. Kalau saya tidak salah hitung, ada sekitar lima belas kandang, dari sangat sedikit kandang, yang sudah tidak berpenghuni.
Satu lagi yang membuat mata saya terganggu adalah warung-warung yang ada di dalam kebun. Sungguh sangat tidak layak. Mirip seperti “rumah kitik-kitik” yang kerap kita lihat di pinggiran jalan-jalan lintas: hanya berlantai tanah, kumuh, dan jorok. Saking tidak menariknya, bahkan ketika terpaksa sekali pun, saya tidak akan mau singgah hanya sekadar duduk melepas rasa lelah apalagi makan di sana.
Kesimpulan saya setelah berkunjung ke sana: Kebun Binatang Medan sangat amburadul. Jika tidak segera diberi perhatian penuh, bukan tidak mungkin lima atau sepuluh tahun ke depan kebun binatang tersebut akan tinggal sejarah.
====
Penulis Tinggal di Humbang Hasundutan.
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto (minimal 700 px dalam format JPEG), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun dimuat di badan email. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]

