| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

FOOD vlogger William Anderson alias Codeblu menjadi viral setelah mengulas makanan yang diduga berjamur, yang kemudian memicu tuduhan pemerasan terhadapnya.
Codeblu dituduh meminta uang untuk menghapus konten ulasan negatif, yang mengakibatkan sorotan dari Kementerian Perdagangan dan DPR terkait dampak negatif konten review makanan terhadap pelaku usaha.
Influencer di era digital memiliki kekuatan luar biasa dalam membentuk opini publik dan mempengaruhi perilaku konsumen. Namun, kekuatan ini juga membawa tanggung jawab etika yang besar, menjadikannya pedang bermata dua.
Di satu sisi, influencer dapat menjadi agen perubahan positif dengan menyebarkan informasi yang bermanfaat dan inspiratif. Di sisi lain, mereka juga bisa menyebarkan informasi yang salah atau berbahaya, yang dapat merugikan pengikut mereka.
Salah satu aspek penting dari etika influencer adalah transparansi. Pengikut berhak mengetahui apakah konten yang mereka lihat adalah iklan berbayar atau rekomendasi organik.
Ketidakjelasan dalam hal ini dapat merusak kepercayaan dan kredibilitas influencer. Misalnya, jika seorang influencer yang dikenal dengan gaya hidup sehat tiba-tiba mempromosikan produk tidak sehat, hal tersebut dapat mengganggu integritas mereka dan menyebabkan keraguan di kalangan pengikut.
Selain itu, influencer harus mempertimbangkan dampak sosial dari konten yang mereka buat. Konten yang tidak sensitif terhadap isu-isu SARA atau yang mempromosikan standar kecantikan tidak realistis dapat memperburuk masalah sosial yang ada.
Oleh karena itu, penting bagi influencer untuk memiliki kesadaran akan nilai-nilai budaya dan etika dalam setiap interaksi dan konten yang mereka sajikan
Dalam konteks ini, etika influencer bukan hanya tentang mematuhi aturan, tetapi juga tentang membangun hubungan saling percaya dengan pengikut.
Mereka harus bertindak sebagai teladan dan menunjukkan tanggung jawab sosial dalam setiap tindakan mereka. Dengan demikian, meskipun influencer memiliki potensi untuk memberikan dampak positif, mereka juga harus waspada terhadap konsekuensi dari setiap langkah yang diambil, agar tidak terjebak dalam sisi gelap dari pengaruh yang mereka miliki.
Penting untuk memahami etika dalam menciptakan dan membagikan konten. Konten yang merugikan orang lain, meskipun dilakukan dalam konteks kritik, harus disampaikan dengan itikad baik dan berdasarkan fakta.
Edukasi tentang etika digital perlu ditingkatkan untuk mencegah tindakan yang dapat merugikan pihak lain
Generasi muda harus kritis terhadap informasi yang diterima dari influencer. Selalu periksa kebenaran dan sumber informasi sebelum mempercayainya atau menyebarkannya. Ini membantu mencegah penyebaran berita palsu atau informasi yang menyesatkan.
Sebagai generasi muda, jadilah contoh positif di media sosial dengan menyebarkan konten yang mendidik dan menginspirasi. Tunjukkan bahwa media sosial dapat digunakan untuk hal-hal baik dan bermanfaat bagi masyarakat.
====
Penulis Mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Katolik Santo Thomas Medan
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, merupakan pendapat pribadi/tunggal) penulis, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto penulis (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 6.000-7.000 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email dengan nama subjek: OPINI. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]

