| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

KETIMPANGAN pendapatan yang tinggi menjadi faktor utama yang menghambat pengentasan kemiskinan di Indonesia. Pandemi COVID-19 memperparah situasi, terutama bagi masyarakat yang bergantung pada sektor informal. Perubahan iklim juga turut berkontribusi dengan terjadinya bencana alam yang merusak hasil pertanian dan infrastruktur.
Meskipun mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir, kemiskinan di Indonesia masih menjadi tantangan serius yang memerlukan perhatian dan tindakan lebih lanjut.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis 01 Juli 2024, persentase penduduk miskin pada Maret 2024 sebesar 9,03 persen menurun 0,33 persen poin terhadap Maret 2023 dan menurun 0,54 persen poin terhadap September 2022.
Dan jumlah penduduk miskin pada Maret 2024 sebesar 25,22 juta orang, menurun 0,68 juta orang terhadap Maret 2023 dan menurun 1,14 juta orang terhadap September 2022.
Sementara itu, krisis pangan juga menjadi perhatian serius di Indonesia. Badan Pangan Dunia (FAO) memperingatkan bahwa Indonesia perlu waspada terhadap ancaman krisis pangan global di masa depan. Kenaikan harga beras pada tahun 2023 menjadi salah satu indikatornya.
Berdasarkan data Global Hunger Index (GHI) yang dipublikasikan di katadata.co.id tanggal 13 September 2023, indeks kelaparan masyarakat Indonesia merupakan yang tertinggi ke-3 di Asia Tenggara pada 2022.
Indonesia mendapatkan skor indeks sebesar 17,9 poin, termasuk dalam level sedang atau moderat. Skor ini menempatkan Indonesia di peringkat ke-77 dari 121 negara dan berada di atas rata-rata global sebesar 18,2 poin.
Koperasi, sebagai salah satu pilar ekonomi kerakyatan yang memiliki potensi besar dalam mengatasi kemiskinan serta menjaga ketahanan pangan di Indonesia. Dengan menggali lebih dalam dan memanfaatkan potensi koperasi sebagai alat yang efektif untuk mencapai kesejahteraan bersama.
BACA JUGA: Artificial Intelligence dan Era Baru Dunia Bisnis
Hambatan Koperasi
Saat ini koperasi menghadapi berbagai hambatan yang kompleks. Salah satunya adalah anggotanya yang umumnya berasal dari kalangan ekonomi lemah, membuat koperasi sulit untuk mengakumulasi modal yang cukup untuk pengembangan usaha.
Selain itu, fluktuasi harga pasar, perubahan iklim, dan bencana alam seringkali mengancam produksi pertanian anggota, sehingga sulit bagi koperasi untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga produk.
Hambatan lain yang sering dihadapi koperasi adalah dalam hal permodalan. Banyak koperasi yang mengalami kesulitan dalam mengakses sumber-sumber pendanaan yang memadai.
Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk keterbatasan jaminan yang dapat diberikan oleh koperasi, serta kurangnya kepercayaan dari sumber lain, seperti perbankan, pemerintah, atau lembaga keuangan lainnya terhadap kemampuan koperasi dalam mengelola pinjaman. (Nur Amalina, Media Indonesia, 2024).
Dalam konteks ketahanan pangan, koperasi mengalami hambatan dalam mengorganisir produksi, pengolahan, dan pemasaran produk pertanian anggota secara efektif.
Hal ini mengakibatkan harga jual produk pertanian yang rendah, sehingga tidak memberikan keuntungan yang signifikan bagi anggota. Maka membutuhkan sumber daya manusia yang kompeten untuk mengelola usaha yang semakin kompleks
Lebih lanjut, keterbatasan infrastruktur terutama di daerah pedesaan dan terpencil. Infrastruktur yang kurang memadai dapat menghambat koperasi dalam menjalankan operasionalnya.
Tidak hanya mempersulit distribusi produk koperasi ke pasar, tetapi juga menghambat akses anggota koperasi terhadap layanan dan sumber daya yang diperlukan untuk meningkatkan produksi dan efisiensi.
BACA JUGA: Negosiasi Bisnis Era Digital
Mendorong Inovasi
Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan perubahan iklim yang semakin memperburuk kondisi pangan, inovasi dalam pengelolaan koperasi menjadi solusi yang efektif.
Dengan menerapkan ide-ide baru dan kreatif, koperasi dapat meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan kualitas produk atau layanan yang dihasilkan.
Seperti penggunaan teknologi adalah langkah yang tidak bisa ditawar lagi. Dengan memanfaatkan teknologi digital koperasi dapat memperluas jangkauan pemasaran, meningkatkan efisiensi operasional, dan memperbaiki transparansi keuangan. Seperti Platform e-commerce dan aplikasi keuangan adalah contoh inovasi teknologi yang bisa diadopsi.
Juga diversifikasi produk atau jasa menjadi kunci untuk mengurangi risiko dan meningkatkan daya saing koperasi. Dengan menawarkan produk dan jasa baru yang relevan dengan kebutuhan pasar saat ini, seperti produk organik, jasa konsultasi pertanian, atau energi terbarukan.
Serta membangun kemitraan dengan sektor swasta, pemerintah, dan lembaga pendidikan akan membuka akses terhadap sumber daya, pengetahuan, dan jaringan yang lebih luas.
Dengan kolaborasi yang erat, koperasi dapat mengembangkan kapasitasnya dan memberikan manfaat yang lebih besar kepada anggotanya.
Untuk mendorong keberlanjutan inovasi koperasi, tentunya pemerintah perlu menciptakan lingkungan yang kondusif bagi koperasi dengan memberikan dukungan, kebijakan, akses permodalan, dan kemudahan berusaha.
BACA JUGA: Pesatnya Layanan FinTech, Ancaman atau Anugerah?
Melalui koperasi, kemiskinan dan ketahanan pangan dapat diatasi dan berdampak signifikan bagi masyarakat. Pertama, ketersediaan pangan yang cukup dan berkualitas akan meningkatkan gizi masyarakat dan menurunkan angka stunting. Kedua, peningkatan pendapatan anggota koperasi akan meningkatkan taraf hidup masyarakat dan mengurangi ketimpangan sosial. Ketiga, koperasi dapat menjadi penggerak pembangunan ekonomi di tingkat lokal.
Serta memberikan kontribusi yang besar bagi perekonomian daerah. Seperti peningkatan produksi pertanian yang akan meningkatkan pendapatan daerah dari sektor pertanian.
Pengembangan UMKM yang berbasis koperasi akan menciptakan lapangan kerja baru guna mengurangi tingkat pengangguran dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah. Dan menjadi sumber devisa daerah melalui ekspor produk-produk pertanian dan olahannya.
Dengan demikian, peran koperasi tidak hanya meningkatkan kesejahteraan anggotanya tetapi juga akan berkontribusi pada pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di tingkat daerah.
====
Penulis Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Prodi Manajemen Universitas Katolik Santo Thomas Medan
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]

