| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

OMPUI, Ephorus HKBP, Pdt Dr Victor Tinambunan ternyata tidak mengenal secara langsung siapa pemilik PT TPL (Toba Pupl Lestrari). Selevel dengan ephorus saja tidak kenal, apalagi saya. Arti tidak kenal di sini tidak lagi sebatas tidak tahu siapa namanya. Kalau sebatas nama, itu biodata. Jadi, ada pesan yang jauh lebih dalam di sana.
Barangkali, karena merasa berjarak, yang empunya TPL tak perlu merasa mengenalkan diri, apalagi mengenal masyarakat di kawasan Danau Toba.
Sesuatu yang ironis sebenarnya. Ia mendapatkan keuntungan besar, tetapi baginya kawasan Danau Toba barangkali sebatas ladang uang untuk bisnis.
Karena itu, ia tak peduli pada keluhan, bahkan tanah adat di kawasan Danau Toba. Ia barangkali tak perlu mengenal apa filosofi Tanah Adat.
Bagi yang empunya TPL, tanah adat atau bukan, tak ada bedanya. Tanah, ya, tanah. Bisa menumbuhkan pepohonan untuk dipanen, itulah tanah terbaik.
Dalam hal ini, barangkali jikalau tanah adat itu tidak bisa diusahakan, maka sesubur-suburnya tanah itu tak penting baginya. Itulah bagi orang yang tak menghikmati filosofi tanah adat.
BACA JUGA: Suara Kenabian Tokoh Agama dari Danau Toba
Intinya, tanah adat harus diusahai dan bila perlu dikuasai. Maka, kita melihat beberapa orang dijemput paksa oleh polisi.
Kita melihat Bapak Sorbatua. Ia ditangkap. Kita tidak tahu siapa yang benar. Namun, kebenaran punya ukuran subjektif.
Bagi penghikmat tanah adat, Sorbatua benar. Bagaimana pun, bahkan sebelum negara ini ada, mereka sudah mengusahakan hutan dan ladang. Jadi, mereka merasa memiliki bahwa tanah itu empunya mereka.
Bagi empunya TPL, legalitas yang perlu. Kendati legalitas itu tanpa legasi, bagi mereka selama sudah punya izin dari negara, segalanya sudah sah.
Termasuk sah untuk menangkap siapa pengganggu. Terjadilah bentrok di antara mereka. Tetapi, bentrok itu belum melibatkan komunikasi Empunya TPL dengan yang empunya adat.
Terjadi ketegangan. Satu merasa sudah memiliki sejak negara belum hadir, satu yang lain merasa sah dan legal setelah mendapatkan surat izin. Apakah semua masyarakat setuju pada penutupan TPL? Tentu saja tidak. Toh, masih ada yang menggantungkan hidupnya pada perusahaan mahabesar TPL.
Maka, muncullah gerakan dari pekerja di TPL. Mereka bahkan menggunakan perumpamaan di kitab suci. Intinya, ada degradasi moral pada Ompui Ephorus HKBP. Muncul pula selentingan: di Jawa perusahaan dilarang ormas, di Tapanuli perusahaan dilarang pendeta. Bagi mereka itu miris dan barangkali memalukan.
Pendeta ya pendeta. Jangan bicara yang lain. Tapi, apakah pendeta cukup berbicara ayat kitab suci? Tentu saja tidak. Tokoh Agama harus hadir ketika terjadi kerusakan moral, termasuk ekologi. Lagipula, manusia diciptakan untuk merawat ekologi. Lalu kini, di Tapanuli, bencana ekologi hampir menjadi siklus berulang.
Masihkah relevan berbicara ayat demi ayat saja? Pendapat dan argumentasi bisa panjang. Namun, saya memang agak memaklumi dan bahkan memahami perjuangan Ephorus HKBP.
Empunya TPL tak mau tahu tentang tanah adat. Tak perlu kenal. Uang adalah uang. Dan, uang telah melenakan. Kita pun terlena. Mungkin akan muncul buzzer.
Begitulah dari dulu kita bertikai. Ada politik devide et impera. Percayalah, di tengah bencana ekologi yang muncul berulang, pasti ada yang berusaha menilai bahwa itu tak berkaitan dengan TPL.
Hanya memang, apakah sudah tepat menutup TPL? Bagaimana dengan orang yang menggantungkan hidup di sana?
====
Penulis Pegiat Literasi dan Pembina Sanggar Maduma Doloksanggul, Tim Ahli Cagar Budaya Humbang Hasundutan, Guru Bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Doloksanggul
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com

