| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

SEORANG pendeta memprotes penebangan pohon di Parlilitan, Humbang Hasundutan. Namanya Victor Tinambunan. Ia kebetulan baru menjadi Ephorus HKBP. Dalam hal jabatan, ia menjadi setara dengan Nommensen, ephorus pertama HKBP.
Pdt Dr Victor Tinambunan sepertinya getol memperjuangkan keasrian lingkungan. Tak lama ini, ia juga menyuarakan supaya TPL mulai berefleksi. Tokoh agama memang harusnya begitu. Ia tak lagi cocok sebatas menghafal dan mengkhatam ayat demi ayat. Saatnya ia berbicara di mimbar kehidupan.
Apakah artinya kesenian bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir bila terpisah dari masalah kehidupan. Demikian pekikan WS Rendra dalam puisinya berjudul "Sajak Sebatang Lisong".
Senada dengan begitu, kita juga bisa berteriak: apa gunanya berjubah jika kenabiannya terpisah dari kehidupan. Tuhan menciptakan kehidupan bukan untuk berujung jadi kematian.
Ia ciptakan bumi dengan segala isinya. Pepohonan rindang dan sungai yang jernih. Setelah segalanya lengkap, Tuhan memberi napas kepada tanah liat. Ia menjadi manusia.
Tugas manusia sangat heroik: merawat alam. Itulah visi ekologi penciptaan. Lantas, seorang anak muda melakukan protes. Ia mengaku ahli geologi. Ia berpikir sangat pragmatis. Mengambil kayu untuk kelak dibuat jadi lahan pertanian. Pola pikirnya teramat polos dan sederhana. Tak ada yang salah mengubah hutan menjadi ladang. Toh, itu sudah dilakukan.
Bahkan, itu permulaan sejarah manusia menuju kemakmuran. Semula ia berpindah. Persis seperti binatang. Di buku sejarah anak sekolahan itu disebut nomaden. Lalu, ia punya kecerdasan baru. Ia sudah bisa mengambil biji, mencangkul tanah, dan menanam biji itu.
Mereka tak lagi nomaden. Mereka sudah mulai menetap. Terciptalah arus kebudayaan. Hutan berubah jadi ladang.
Tetapi, belakangan ini, hutan menjadi industri. Hutan dibabat bukan untuk jadi lahan pertanian. Cenderung, hutan dibabat untuk diusahakan oleh para konglomerat. Hutan tak kunjung jadi lahan pertanian.
Seorang geologist itu tak bisa menelaah persoalan kompleks. Ia bahkan tak bisa membaca situasi. Bagi ia sesederhana bahwa ketika hutan diambil pohonnnya, maka otomatis peruntukannya hanya untuk pertanian warga.
Ia tampakmya tidak mengerti ekauliptus dan pohon homogen adalah milik persero, bukan komunal.
Lantas, ia menyebut "kau" pada Ephorus tersebut di saat orang menyebutnya sebagai Ompui. Ia juga mengaku mengkritik Victor Tinambunan sebagai pribadi meski judul berita sangat jelas tersurat dan bukan tersirat.
Begini judul berita itu, yaitu Ephorus HKBP: BPHL harus Tanggung Jawab jika Terjadi Bencana di Parlilitan dan Tarabintang.
Saya tak mengenal pemuda itu. Hanya saja bagi sebagian orang, ia adalah aktivis. Akan tetapi, saya belum mengenal aktivis dengan pola pikir yang teramat sederhana.
BACA JUGA: Marpadot tu Hamajuon
Bagi dia, kata "kau" itu bukan berarti tidak sopan. Namun, saya mengerti, apa gunanya mengajarkan kesopanan pada orang yang tidak mengerti etika?
Saya jemaat Katolik. Tetapi, saya merasa tidak enak hati seorang Ephorus menyuarakan kebenaran dan kenabian dirisak oleh anak belia.
Semestinya, generasi muda harus protes ketika pemimpin agamanya anteng-anteng pada saat ketidaklaziman sedang terjadi.
Tokoh agama berbeda dengan tokoh masyarakat. Tokoh masyarakat bisa hanya tokoh adat, ormas, atau bahkan figur publik yang berubah jadi buzer.
Tokoh agama berbeda. Mereka mendedikasikan hidupnya untuk kebenaran dan kehidupan. Sebab, mereka tahu, Tuhan menciptakan alam semesta bukan untuk dimonopoli, apalagi dirusak. Mengambil hasil hutan bukan kejahatan. Itu adalah anugerah.
Saya misalkan sangat terberkati ketika hasil hutan jadi rumah yang estetik. Akan tetapi, ketika puluhan truk setiap hari berseliweran di jalan mengangkut hasil hutan, apakah itu masih sesederhana mengubah hutan jadi ladang?
Mengapa kita gagal mencerna ketika tiap tahunnya sekitar Danau Toba mulai dihinggapi banjir dan bencana? Tidak perlu harus menjadi geologist atau ahli bencana untuk mengetahui itu. Sudah terpampang nyata bahwa kerusakan hutan berdampak pada kerusakan lingkungan.
Namun, begitulah manusia. Ia terkadang bisa menjadi bodoh. Dan, kepintaran manusia terkadang terletak pada kecerdikannya menggunakan kebodohannya.
Toh, bagi mereka yang penting adalah popularitas dan uang. Kata Sophocles pada suatu masa: uang adalah hasil kebudayaan terburuk.
Agaknya Sophocles benar. Sebab, di depan uang, kita menjadi bodoh. Kita pura-pura tak tahu bahwa setelah penebangan tak ada penanaman, kecuali sebatas produksi demi produksi.
Begitulah kehidupan. Terkadang kita belajar mendapatkan ijazah bukan untuk menjadi pintar. Tetapi, untuk dapat menciptakan narasi seolah kesalahan adalah kebenaran hakiki.
Begitulah ketika kepintaran berubah menjadi kerakusan. Ia termotivasi menjadi pintar dengan satu tujuan: menipu orang lain. Maka lihatlah hasilnya, lebih banyak orang berpendidikan yang jahat daripada orang yang tidak sekolah bukan?
Nah, di situasi inilah para pendekar agama dibutuhkan. Mereka harus hadir menjadi lampu yang bersinar. Sesekali mungkin harus menjadi pedang. Karena pedang di tangan orang baik tujuannya adalah baik.
Itu seumpama pisau di tangan koki akan menghasilkan makanan yang bergizi.Tetapi, pisau di tangan pembunuh akan berujung jadi kematian.
Singkatnya, ditunggu suara kenabian para lintas tokoh agama untuk melihat dan memperbaiki kesemrawutan ini. Sebab, apalah gunanya menjadi pewarta Kabar Langit jika kehidupan umat semakin dihimpit. Apalah gunanya menjadi urusan Tuhan jika jemaat masih dipandang sebatas cuan. Bukankah begitu?
====
Penulis Pembina Sanggar Maduma, Guru Bahasa Indonesia SMA Negeri 1 Doloksanggul, Tim Ahli Cagar Budaya Humbang Hasundutan
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, merupakan pendapat pribadi/tunggal) penulis, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto penulis (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 6.000-7.000 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email dengan nama subjek: OPINI. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]

