| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

SEBELUM memulai pembahasan ini, mari kita definisikan dulu mengenai apa itu rindu. Biasanya, rindu merupakan suatu keadaan di mana kita menginginkan terulangnya momen berharga, penting dan berkesan. Ada sukacita yang dikenang.
Nostalgia masa lalu ini bagaikan realita yang sangat diingini untuk hadir kembali. Tak ayal, biasanya rasa rindu sangat didambakan. Bagaikan bayang-bayang yang ingin di tarik menuju realita.
Namun apa daya, biasanya orang yang merindu ini akan menatap rembulan. Di kesunyian malam dia termenung. Mungkin dia akan meneteskan air mata, berharap rasa rindunya terbalaskan dengan pemuasan dahaga yang ingin dipenuhi cerita-cerita indah masa lalu.
Saya cukup yakin bahwa topik mengenai rasa rindu ini cukup relevan bagi mayoritas masyarakat. Mungkin ada yang merindukan orang tua, kekasih hati, saudara/saudari yang telah lama pergi, kebangkitan nasional hingga merindukan kehadiran Pencipta.
Sebagai suatu bangsa, saya sangat yakin bahwa rakyat Indonesia sendiri merindukan sesuatu yang hilang dari negerinya sendiri.
Mereka merindukan pemimpin yang mampu menjadikan Indonesia swasembada pangan. Pemimpin yang mampu menjadikan maritim Indonesia di hargai dunia.
Merindukan Indonesia sebagai inisiator perdamaian dunia. Merindukan agar Indonesia penguasa perdagangan di kawasan Asia. Merindukan pemimpin dengan intelektualitas dan kejujuran yang setinggi langit. Ahh paling tidak itu semua bukan angan-angan parcendol.
BACA JUGA: Hidup yang Menggembirakan
Lihat Hayam Wuruk, Gajah Mada, Balaputradewa, Soekarno, Hatta, Habibie, Yamin, Soepomo dan nama-nama besar lainnya.
Pemimpin-pemimpin Indonesia di nusantara dulu secara kolektif berpengaruh. Saya menduga, budaya politik dan dinamika suatu zaman membentuk pemimpin-pemimpin bermutu.
Budaya intelektual akan menghasilkan pemimpin intelek. Saya teringat dengan Soekarno. Konon dia belajar pidato di kamarnya di Surabaya setelah cukup sering mendengar ceramah dan orasi HOS Tjokroaminoto.
Menulis seperti wartawan, berbicara seperti orator pesan yang dikumandangkan, Tjokroaminoto sekaligus banyak mempengaruhi Soekarno. Budaya intelektual pendiri bangsa itu membuat politisi sejamannya penuh dengan pegetahuan-pengetahun mutakhir.
Saya khawatir, jangan sampai budaya-budaya ketidakadilan, kebohongan dan manipultif berdiaspora di zaman ini. Maka, sama seperti sebelumnya, budaya politik tertentu akan menghasilkan aktor-aktor yang berkelakuan sama pula.
Tentu dapat dikatakan bahwa rakyat Indonesia sangat merindukan masa lalu itu. Masa perjuangan dan kebangkitan itu. Masa dimana keringat dan darah perjuangan dikorbankan dengan rela demi para penerus bangsa. Anak-anak bangsa masa kini.
Sejujurnya, saya tidak ingin terlalu berrefleksi mengenai keadaan bangsa ini. Saya hanya ingin para pembaca memaknai arti rindu sebagai momen indah yang ada untuk dikenang, digaungkan, diingat dan dirayakan kembali.
Orang yang mampu menghayati rasa rindu dengan benar, dia akan mengucapkan rasa syukur. Menyadari bahwa dirinya adalah pewaris ide-ide besar. Pewaris kisah-kisah agung.
Mimpinya tidak pupus, melainkan dengan segala cara dan upaya, rasa rindu itu dimultiplikasikan lewat perayaan-perayaan Indah. Lewat kebaikan-kebaikan indah yang dihadirkan kepada banyak orang kini dan saat ini.
Di dalam konteks interpersonal (relasi), sampaikan pula lah rasa rindu itu. Mungkin kepada orang yang kita kasihi, orang tua, saudara-saudari, anak, teman atau keluarga.
Itu adalah cara yang baik untuk mendamaikan hati. Kemudian, merayakan rasa rindu dengan perayaan-perayaan yang telah diulas sebelumnya.
Lalu, jika seandainya rasa rindu itu tidak lagi bisa disampaikan maka berceritalah kepada orang lain. Berceritalah kepada Tuhan. Berceritalah kepada dunia.
Ceritanya tentu saja mengenai hal-hal remeh namun berkesan. Remeh namun mengharukan. Mungkin juga hal-hal besar dan heroik.
Menggoncang peradaban karena adanya kasih, kerjakeras dan kesungguhan. Dunia pun akan menerima cerita itu dengan sukacita. Lantaran mengetahui bahwa dunia ini tidak seburuk yang dibayangkan. Tidak sepahit cerita orang. Karena, masih ada hal-hal baik yang kita rindukan.
Tetaplah merindu. Tetaplah bercerita dan tetaplah berbuat baik karena rasa rindu itu.
====
Penulis penikmat kajian sosial, politik, filsafat dan agama. Sedang bekerja di Jakarta
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 5.500-6.500 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com

