| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

FENOMENA pengibaran bendera One Piece atau Jolly Roger menjadi sorotan menjelang HUT ke-80 Kemerdekaan RI. Narasi publik pun terbelah: ada yang melihatnya sebagai bentuk lelucon budaya pop, sementara yang lain menyebutnya penghinaan terhadap simbol negara.
Tapi yang lebih menarik bukan sekadar respons emosionalnya, melainkan bagaimana kejadian itu membuka celah untuk merenungkan kembali: apa sebenarnya yang kita bayangkan saat kita melihat bendera merah putih? Mengapa sehelai kain bisa begitu sakral?
Pertanyaan itu membawa kita pada satu nama penting dalam kajian identitas dan nasionalisme: Benedict Anderson. Lewat bukunya yang monumental, Imagined Communities atau Komunitas Terbayang.
Anderson menawarkan satu tesis penting: bangsa bukan sesuatu yang objektif dan abadi, melainkan dibayangkan oleh orang-orang yang percaya mereka bagian dari satu komunitas politis yang sama.
Di tengah arus globalisasi dan dominasi budaya populer, apakah nasionalisme masih hidup dalam imajinasi kita? Atau, seperti bendera bajak laut yang berkibar di tempat bendera nasional, sudahkah imajinasi kolektif kita digantikan oleh simbol-simbol baru?
Membayangkan Bangsa
Dalam Komunitas Terbayang, Anderson menyatakan bahwa bangsa adalah “sebuah komunitas politis yang dibayangkan sebagai inheren terbatas dan berdaulat”.
Imajinasi ini dibentuk oleh berbagai elemen sejarah dan budaya, mulai dari kapitalisme cetak (novel, koran), bahasa nasional, sistem pendidikan, hingga pengalaman kolektif seperti perang dan revolusi.
Manusia membayangkan diri mereka sebagai bagian dari komunitas bernama “bangsa”, meski tidak pernah saling bertatap muka.
Bendera nasional, lagu kebangsaan, dan hari kemerdekaan adalah perangkat simbolik yang membangun rasa kebersamaan dalam komunitas yang dibayangkan itu.
Mereka tidak hanya benda fisik, tetapi media afektif yang mengikat manusia dalam pengalaman kolektif. Ketika Bendera Merah Putih dikibarkan, yang tergugah bukan hanya mata, tapi juga rasa-rasa menjadi Indonesia.
Namun, seperti yang ditunjukkan oleh peristiwa bendera One Piece, simbol juga dapat ditantang. Ia tidak sakral dengan sendirinya, melainkan karena kita meyakininya sebagai representasi identitas dan sejarah.
Ketika seseorang menggantinya dengan simbol lain, walau tanpa niat subversif, yang terganggu bukan hanya aturan protokol, tapi juga jalinan imajinatif yang selama ini menyatukan bangsa.
Dari Nasionalisme ke Budaya Pop
Fenomena bendera One Piece bukan sekadar soal pelanggaran. Ia menjadi cermin dari bagaimana identitas kultural anak muda hari ini mengalami pergeseran.
Kita hidup di era transnasional, di mana budaya populer Jepang, Korea, dan Barat menempati ruang penting dalam kesadaran kolektif generasi muda.
Mereka hafal nama karakter anime, mengikuti kisah epik dalam serial, dan menjadikan nilai-nilai dari narasi fiktif sebagai sumber inspirasi hidup.
Apa yang membuat bendera One Piece begitu menarik? Karena ia adalah lambang dari petualangan, persahabatan, kebebasan, dan pemberontakan terhadap ketidakadilan.
Luffy dan krunya bukan sekadar tokoh kartun, tetapi personifikasi dari cita-cita akan dunia yang lebih bebas dan adil. Maka tak heran jika para penggemarnya merasa terhubung secara emosional dengan simbol itu, bahkan lebih daripada simbol resmi negara.
Inilah titik pertemuan antara imajinasi Anderson dan realitas hari ini. Jika bangsa adalah komunitas yang dibayangkan, maka komunitas penggemar One Piece pun adalah komunitas yang dibayangkan.
Mereka tidak saling mengenal, tetapi merasa satu karena cerita yang sama. Bendera bajak laut menjadi simbol kohesi seperti halnya bendera nasional, meski dengan ruang lingkup dan intensitas berbeda.
Yang membedakan adalah kekuasaan. Negara memiliki institusi yang menopang simbol-simbolnya: sekolah, militer, media massa, dan sistem hukum.
Budaya pop, meski tak resmi, memiliki institusi sendiri: fandom, media sosial, even komunitas, dan industri hiburan. Kedua bentuk komunitas ini bersaing dalam membentuk identitas dan loyalitas.
Nasionalisme yang Terkikis?
Kita tak bisa menafikan bahwa nasionalisme Indonesia hari ini menghadapi tantangan serius. Bukan hanya dari globalisasi dan teknologi, tetapi juga dari dalam: korupsi, ketimpangan sosial, politik identitas, dan ketidakpercayaan publik terhadap institusi negara.
Dalam situasi seperti itu, nasionalisme kehilangan daya magisnya. Ia bukan lagi ide yang hidup, tetapi ritual yang kosong.
Di sisi lain, budaya populer menawarkan bentuk keterlibatan yang lebih emosional, partisipatif, dan menyenangkan. Anak muda merasa menjadi bagian dari sesuatu yang besar tanpa harus ikut upacara.
Mereka menjadi warga dari dunia imajinatif yang penuh nilai dan harapan. Ketika Luffy menantang sistem dunia yang korup, itu berbicara lebih dalam daripada pidato kenegaraan yang penuh formalitas.
Namun, itu tidak berarti nasionalisme harus kalah. Justru, seperti yang ditunjukkan Anderson, nasionalisme lahir bukan dari paksaan, melainkan dari kreativitas dan imajinasi.
Ia bukan proyek konservatif, tapi progresif—usaha kolektif untuk membayangkan masa depan bersama. Maka tugas kita bukan melawan budaya pop, tetapi membangun nasionalisme yang baru: yang mampu bersaing di level imajinasi, simbol, dan cerita.
BACA JUGA: Amnesti Prabowo: Antara Rekonsiliasi Nasional dan Impunitas Politik
Merawat Imajinasi Kolektif
Pengibaran bendera One Piece harus dibaca sebagai sinyal, bukan ancaman. Ia menandakan bahwa imajinasi kolektif bangsa mulai bergeser.
Kita tidak bisa menegur anak muda hanya dengan aturan, tanpa memberi mereka narasi yang lebih kuat. Nasionalisme tidak bisa hidup dari doktrin dan hukuman, ia hanya bisa tumbuh dari rasa memiliki dan keterlibatan.
Pemerintah, pendidik, dan budayawan harus bertanya: bagaimana membuat simbol kebangsaan relevan kembali? Bagaimana menjadikan bendera merah putih bukan sekadar ritual, tapi juga representasi dari perjuangan, mimpi, dan harapan anak muda?
Bagaimana membangun narasi Indonesia yang mampu menyaingi kekuatan storytelling dari One Piece atau Marvel?
Kita bisa belajar dari cara One Piece membangun identitas: dengan cerita yang konsisten, karakter yang kuat, dan nilai-nilai universal.
Bayangkan jika semangat persatuan dan keadilan dalam kisah itu diadaptasi dalam narasi kebangsaan kita. Bayangkan jika kemerdekaan bukan hanya soal masa lalu, tapi juga perjuangan hari ini melawan kemiskinan, intoleransi, dan kerusakan lingkungan.
Anderson telah mengingatkan bahwa nasionalisme adalah proyek budaya. Maka, masa depan nasionalisme Indonesia ada di tangan para seniman, penulis, pembuat film, pendidik, dan jurnalis—mereka yang mampu menyalakan imajinasi publik tentang apa artinya menjadi Indonesia.
Menjadi Indonesia di Era One Piece
Kita hidup di era di mana batas antara realitas dan fiksi makin kabur. Di mana anak-anak muda bisa lebih merasa menjadi bagian dari “kru bajak laut Straw Hat” ketimbang “anak bangsa”.
Ini bukan bencana, melainkan tantangan. Nasionalisme bukan tentang melawan pengaruh luar, tetapi tentang menegaskan siapa kita dan apa yang kita perjuangkan dalam dunia yang terus berubah.
Komunitas Terbayang mengajak kita untuk memahami bangsa bukan sebagai entitas tetap, tetapi sebagai proyek bersama yang terus dibangun, dipertanyakan, dan dibayangkan ulang.
Kita harus berani bertanya: apakah kita masih membayangkan Indonesia? Atau sudahkah kita menyerahkan imajinasi kita pada dunia fiksi?
Bendera merah putih akan tetap berkibar, tapi maknanya hanya akan hidup jika kita terus mengisinya dengan cerita, nilai, dan harapan.
Kita bisa belajar dari One Piece bukan untuk menggantikan nasionalisme, tetapi untuk mengingatkan bahwa kekuatan bangsa terletak pada kemampuannya membangun mimpi bersama.
Dan selama kita masih bisa membayangkan Indonesia sebagai rumah yang adil, setara, dan merdeka—maka selama itu pula, kita adalah komunitas yang masih hidup.
====
Penulis Alumni Ilmu Politik USU
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email, disertai dengan lampiran KARTU IDENTITAS (KTP/SIM/DLL), FOTO (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), DATA DIRI SINGKAT (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 5.500-6.500 karakter. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Tidak ada korespondensi terkait layak atau tidaknya tulisan Anda diterbitkan. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com

