| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

Medanbisnisdaily.com – Tebing Tinggi. Wali Kota Tebing Tinggi, H Iman Irdian Saragih, menyatakan komitmennya mendukung pelestarian dan pengembangan kerajinan kain songket yang masih bertahan hingga kini, khususnya yang ditekuni para perajin di Kelurahan Tanjung Marulak, Kecamatan Rambutan.
Iman menegaskan, tidak semua daerah memiliki perajin songket aktif. Karena itu, Pemerintah Kota (Pemko) Tebing Tinggi berupaya menjaga keberlanjutan kerajinan tradisional tersebut sekaligus meningkatkan nilai ekonominya.
Sebagai bentuk dukungan konkret, Pemko Tebing Tinggi menyiapkan satu kios khusus di kawasan pusat kuliner yang berada di halaman Masjid Agung Tebing Tinggi.
“Kios ini nantinya dapat dimanfaatkan untuk mempromosikan kain songket hasil kerajinan warga Tebing Tinggi,” ujar Iman.
Ia berharap keberadaan kios tersebut menjadi sarana pemasaran yang efektif agar produk songket lokal semakin dikenal masyarakat, termasuk wisatawan dari luar daerah.
Sementara itu, Ramlah (66), perajin songket asal Lingkungan III, Kelurahan Tanjung Marulak, mengaku telah menekuni tenun songket sejak usia enam tahun. Ia belajar langsung dari orang tuanya saat masih tinggal di Desa Padang Genting, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara.
Ramlah pindah ke Tebing Tinggi pada 1992 dan mulai menenun secara mandiri sejak 1998. Awalnya, ia banyak membuat motif khas Tapanuli dan Karo. Hingga kini, sebagian besar motif songket yang dihasilkannya tetap mengangkat ciri khas Batu Bara.
“Pernah juga diminta membuat motif khas Tebing Tinggi, seperti tepak sirih dan lemang pada masa wali kota sebelumnya. Saat ini, PKK Tebing Tinggi juga memesan kain songket motif payung, lemang, dan buah pala sebanyak 60 potong,” ungkapnya.
Harga kain songket hasil tenun Ramlah bervariasi, mulai dari Rp 500 ribu hingga Rp 2 juta, tergantung tingkat kerumitan motif. Produk tersebut dapat diolah menjadi kain, busana, rok, peci, tanjak, hingga aksesori.
Untuk menyelesaikan satu lembar kain songket, ia membutuhkan waktu antara tujuh hari hingga satu bulan. Selama ini, pemasaran masih terbatas karena belum memiliki tempat khusus.
“Biasanya hanya menunggu orang datang ke rumah untuk memesan. Semua masih saya kerjakan sendiri,” ujarnya.
Selain keterbatasan pemasaran, bahan baku benang juga masih harus didatangkan dari Kota Medan. Sementara benang emas kristal diperoleh melalui pemesanan daring.
Ramlah berharap Pemko Tebing Tinggi dapat membantu menyediakan ruang pemasaran dan dukungan permodalan agar kerajinan songket yang diwariskan turun-temurun ini dapat terus berkembang.
Menanggapi hal itu, Wali Kota Tebing Tinggi menegaskan Pemko berkomitmen mendukung kemajuan UMKM lokal dengan merencanakan pendirian sentra kerajinan dan home industry sebagai wadah pemasaran produk unggulan daerah.
“UMKM, termasuk kerajinan songket, harus kita dorong agar naik kelas dan memberi dampak ekonomi bagi masyarakat,” pungkasnya.

