| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

MASA Covid-19 belum berakhir. Mendikbud masih setengah hati untuk membuka sekolah secara luas dengan tatap muka, dengan pertimbangan alasan kasus Covid-19 terkonfirmasi terus melonjak. Walhasil, dunia pendidikan semakin mencemaskan.
Ada setumpuk harapan yang disandarkan kepada dunia pendidikan bila musim pandemi usai. Para orang tua kerap berharap, mampukah pendidikan mencetak generasi yang berkarakter kuat setelah masa pandemi terlewati?
Atau pendidikan yang mampu menghasilkan sumber daya berintegritas tinggi di negeri ini? Sebuah keinginan yang boleh jadi terdengar berlebihan, mengingat pendidikan saat ini menjadi tumpuan solusi dari sekian banyak persoalan sumber daya manusia dan problem kemasyarakatan setelah hampir setahun bangsa ini menghadapi krisis pandemi Covid-19.
Bila bercermin secara jujur pada realitas sosial hari ini tentang produk atau lulusan sekolah, kita merasa prihatin. Pendidikan seolah menjadi sesuatu yang utopis untuk diharapkan sebagai penggerak kemajuan bangsa. Demikian itu terjadi terkait dengan penekanan yang berlebihan pada pola pengajaran di sekolah, dan bukan pada pendidikan itu sendiri.
Akibatnya, lahirkan anak didik bermental fasis-feodalis, di mana bila di kelas anak didik cenderung ‘nurut’ dan ‘santun’ serta mengamini apa yang diinstruksikan guru, tapi di luar tembok kelas dapat bersikap beringas bahkan anarkis.
Selama ini banyak yang beranggapan sekolah adalah tempat yang aman dari kekerasan. Faktanya, tidak ada satu pun sekolah di Indonesia yang bebas dari bullying. Yang memprihatinkan, kecenderungan bullying (baik itu verbal, psikologis, atau fisik) semakin deras dari waktu ke waktu. Kekerasan menjadi komoditas tersendiri yang bisa dijual di tengah masyarakt yang ‘sakit’.
Pendidikan pada hakikatnya adalah perubahan perilaku. Mengikuti kerangka berpikir seperti itu, sudah selayaknya proses pendidikan sanggup mengubah sikap dan membangun perilaku sesuai harapan.
Kita akui pendidikan di negeri ini mengalami kemajuan. Sarana dan prasarana sekolah terus mengalami perbaikan. Serta prestasi pelajar kita diberbagai ajang kompetisi international juga membanggakan.
Mereka memberi bukti nyata bahwa sebenarnya sumber daya manusia kita mampu berjaya. Kita bukan bangsa kuli atau inlander bodoh sebagaimana stempel yang ditempelkan kepada kita selama ratusan tahun oleh penjajah.
Namun, banyak pihak berandai-andai, kalau saja setiap kepandaian dibarengi kepribadian yang mulia tentu akan lebih indah. Andai peningkatan kepintaran diiringi dengan kematangan mental tentu akan melegakan dada semua orangtua. Sayangnya kini, harapan tersebut sebatas pengandaian semata.
BACA JUGA: Refleksi Pembelajaran Jarak Jauh
Sebagaimana yang telah ditekankan Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara, bahwa pendidikan merupakan daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti, pikiran, dan tubuh anak. Namun, mengapa kini dunia pendidikan kita terkesan abai dengan hal-hal demikian?
Harus diakui bahwa profesi guru belum mendapatkan tempat di mata sebagian masyarakat. Dalam masyarakat pseudomodern seperti sekarang ini, penghormatan terhadap sesama lebih didasarkan pada perolehan kuantitas kasat mata seperti mobil mengkilap, rumah megah, dan pakaian mentereng, ketimbang kualitas abstrak seperti kecerdasan, integritas, dan pengabdian seseorang.
Sebagai kaum termarjinalkan, guru jauh dari simbol-simbol duniawi tersebut. Pudarnya martabat guru diperparah lagi oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kurang dapat diakses oleh para guru. Perkembangan iptek, dan inovasi-inovasi model pembelajaran, hampir tidak menyentuh kinerja guru.
Akhirnya praktik di kelas menjadi "ritual" usang yang tak tersentuh pembaruan selama bertahun-tahun. Pendidikan telah tercekat makna hanya pada persekolahan bukan pada pembelajaran. Walaupun dengan situasi pandemi yang memaksa para guru untuk adaptif dengan teknologi yang dikarenakan pembelajaran jarak jauh, namun kondisi demikian belum menyentuh pada keseluruhan guru untuk melek teknologi.
Guru Pembaharu
Kehadiran sosok guru yang membawa perubahan di tengah krisis seperti ini sangat dibutuhkan. Sosok guru yang mengedepankan pada orientasi nilai tentang keberadaan dirinya sebagai pendidik dan pengajar. Guru yang bermartabat dan terhormat, benar-benar menjadi panutan, berwibawa, dan disegani. Guru yang mampu mentrasendensikan pembelajaran di kelas, sebagai sesuatu yang lebih dari sekedar transfer informasi dan penjejalan pengetahuan.
Guru yang lebih mengedepankan unsur kasih sayang, kepedulian, keteladanan, kerendahan hati dan keikhlasan serta karakter-karakter unggul lain di dalamnya. Ada passion yang tak berbatas apa pun. Sebuah hasrat yang menggelora untuk melihat para peserta didik bertumbuh, dan ada kerinduan agar mereka bermetamorfosa dan menyempurna menjadi insan-insan yang mampu memberdaya dan mengaktualisasikan dirinya. Itulah sesungguhnya hal yang dimiliki oleh para guru yang akan melegenda.
Di tangan guru yang demikian tidak hanya sekedar mampu menghantarkan siswa hebat dan super dalam hal kepintaran, namun dapat mengisi jiwa-jiwa anak didik dengan kepribadian dan akhlak yang budiman. Inilah sebagai karya sang guru yang akan membawa bangsa ini menuju pembaruan dan transformasi pendidikan.
====
Penulis Guru SMA Negeri 1 (Plus) Matauli Pandan, Tapanuli Tengah.
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto (minimal 700 px dalam format JPEG), data diri singkat/profesi/kegiatan (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Gunakan kalimat-kalimat yang singkat (3-5 kalimat setiap paragraf). Judul artikel dibuat menjadi subjek email. Tulisan TIDAK DIKIRIM DALAM BENTUK LAMPIRAN EMAIL, namun langsung dimuat di BADAN EMAIL. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]

