| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

Bagaimana menerjemahkan secara kontekstual tinggi iman, tinggi ilmu dan tinggi pengabdian (Ut Omnes Unum Sint) dalam era revolusi industri 4.0 saat ini? Motto GMKI ini sangatlah mulia dan merupakan sebuah gambaran betapa dalam semua aspek kehidupan manusia, iman, ilmu pengetahuan dan pengabdian adalah kata kunci untuk menciptakan peradaban yang unggul saling membangun serta bermanfaat bagi sesama. GMKI sebagaimana yang kita ketahui sangat banyak berperan dalam menentukan perjalanan bangsa ini. Banyak kader-kader senior GMKI yang tersebar dalam ragam profesi memainkan perannya sebagai instrumen membangun negara ini.
Bagaimana GMKI sebagai salah satu wadah (organisasi) yang kita harapkan bisa jadi pabrik memproduksi kader- kader intelektual Kristen yang mumpuni, menjadi “problem solving” dalam banyak hal, agent of change dalam pembangunan bangsa, inovator handal yang membawa dampak besar, kreator yang mampu melihat tanda-tanda zaman dan lain sebagainya. Apalagi saat ini kita sering menyebut era ini adalah era revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan perubahan sangat besar karena revolusi dasyat teknologi informasi.
Dimana-mana kita bisa melihat fenomena internet of things (Iot) dan kecerdasan buatan (artificial inteligent) sudah mewabah. Tentu butuh adapatasi teknologi agar kita tidak mati terlindas zaman. Revolusi industri yang sangat dasyat ini telah mengubah semua hal. Perubahan yang hebat ini harus kita hadapi karena pola pikir manusia yang terus bergerak dinamis menuju sebuah pola yang tidak bisa kita bayangkan dan pikirkan.
Menyetir Klaus Schwab seperti yang dikutip Jefri Gultom dalam bukunya The Fourth Industrial Revolution membagi dua horizon. Pertama, gejala pokok yang menandai revolusi industri dan mendorong sebuah perubahan adalah fisik, digital, dan biologi. Kedua, tantangan dan peluang untuk menyiasatinya. Sehingga pada bagian pamungkas bukunya dia mengusulkan pentingnya mengembangkan empat kecerdasan yakni 1) kecerdasan kontekstual (contextual intellegence) yakni: soal ‘’pikiran,’’ 2) kecerdasan emosional (emotional intellegence) atau dimensi ‘’hati,’’ 3) kecerdasan inspiratif (inspired intellegence) pada dimensi ‘’jiwa,’’ 4) kecerdasan fisik (physical intellegence) alias ‘’tubuh.’’ Mungkin maksudnya Klaus Schwab adalah tetaplah jadi manusia yang punya tubuh, jiwa, hati dan pikiran (Jefri Gultom Dalam Go Papua).
Dalam konteks GMKI yang sudah berusia 71 tahun bagaimana GMKI yang akan datang? Tentunya jawaban yang kita inginkan sebagai sebuah ekspektasi adalah bahwa GMKI yang akan datang adalah GMKI yang visioner, adaptif, mampu menghadapi tantangan jaman, berbasis pengetahuan, persemaian kader-kader yang punya intelektual tinggi, yang semuanya mendukung pencapaian tujuan negara atas dasar nilai –nilai kasih dan iman kristiani. Kita sangat paham dan mahfum betul bagaimana GMKI mendorong pluralisme dan nasionalisme keindonesiaan yang sangat kita butuhkan saat ini.
BACA JUGA: Memilih Wali Kota Medan yang Layak Kutip
Sebagai sebuah negara bangsa yang kaya dengan budaya, dibentuk dengan latar belakang agama yang berbeda tentu kita punya tanggung jawab dan tugas mulia bagaimana mengelola keberagaman ini agar tetap utuh dalam bingkai NKRI. Konsep NKRI harga mati sudah sering kita dengar dan merupakan konsensus nasional yang sudah jadi patron kebangsaan. Saat ini ancaman kepada konsep NKRI seringkali datang dari segelintir orang yang mencoba untuk mengubah ideologi NKRI dengan berbagai dalil, termasuk kebebasan berekspresi. Tentu kita sebagai warga negara yang punya kecerdasan historis sangat tidak menginginkan ini. Maka, NKRI harga mati dan pluralisme harus dikelola dengan baik dalam bingkai NKRI.
Saat ini ancaman kebangsaan dan tantangan berbangsa bukan hanya dari kaum radikal dan intoleran. Saat ini bangsa kita diperhadapkan pada sebuah zaman yang menuntut kecerdasan maksimal, menuntut keterampilan khusus, menuntut inovasi, bahkan disebut dengan “abad inovasi”. Sebuah abad yang menuntut skil dan keterampilan tentu bukan mudah menghadapinya. Paradigma zaman ini disebut dengan era revolusi industri 4.0. Tanda-tandangnya adalah semua serba online, serba praktis, cepat, terukur dan terhubungan secara global. Bagaimana sebuah kejadian dalam hitungan menit bisa kita akses secara bersamaan. Banyak orang melakukan pekerjaan dari laptop asalkan ada fasilitas internet.
Dimana-mana banyak gerai toko tutup karena pemasaran online. Kantor pos yang biasanya mengantar surat suatu saat bisa saja tutup karena model surat elektronik. Artinya, di era revolusi industri 4.0 pekerjaan tangan secara manual dan proses lambat tergantikan oleh sebuah sarana yang serba cepat dan praktis (online). Masalahnya, bagaimaan GMKI sebagai sebuah wadah mahasiswa kristen dalam menyikapi kemajuan jaman yang tiada bertepi ini?
Masihkan kita terjebak pada romantisme sejarah yang menggadang-gadang bahwa GMKI masa lalu sangat hebat, sangat berjasa, sangat berguna. Okelah, kita setuju bahwa peran GMKI dalam membangun bangsa ini sangat besar dan punya pengaruh yang sudah jadi catatan emas. Membanggakan sejarah semata tidak cukup lagi, tetapi butuh inovasi bagaimana mendesain GMKI agar organisasi ini bisa berbuat lebih banyak, punya kemanfaatan yang sangat terukur, dan mampu menjadi kekuatan penyeimbang dengan sumbangan pemikiran kritis dan konstruktif.
Untuk itu, GMKI harus melakukan beberapa hal, pertama: mendorong GMKI sebagai wadah atau organisasi kaum anak muda yang ramah dengan inovasi dan kreasi berbasis IPTEK. Artinya, melalui GMKI diskusi-diskusi bagaimana membangun inovasi dan mempersiapkan kader yang ramah teknologi harus dilakukan dengan terukur. Program kerja dan Renstra kedepan harus mampu melihat peluang dan tanda-tanda zaman yang berkembang. Untuk itu, grand desain GMKI adalah desain yang mempersiapkan intelektual muda kristen berbasis pada kemajuan IPTEK secara organisasi.
Kedua, medorong GMKI agar lebih progresif memberikan pemikiran kritis tentang inovasi dan kreasi masa depan yang lebih ramah pada kemajuan teknologi informasi. Saatnya para senior membantu kaderisasi GMKI yang inovatif dan kreatif agar kedepan mereka akan jadi generasi yang fokus pada pengembangan inovasi dan kreasi. Ketiga, mengedepankan platform dikusi kebangsaan yang fokus pada inovasi dan kreasi agar ada “solusi” yang dihasilkan. Dalam hal inilah GMKI harus mampu melahirkan kader yang inovatif dan kreatif melalui visi dan misi organisasi yang ramah dengan era revolusi industri 4.0.
Penutup
Kaum intelektual kristen yang nasionalis dan religius adalah solusi sebagai basis ketahanan dalam membangun bangsa ini. Kedepan, GMKI harus menjadi salah satu organisasi yang mampu melahirkan para inovator dan kreator handal di era reolusi Industri 4.0 berkarakter Pancasila, berjiwa nasionalis dan oikumenis, dan takut akan Tuhan. Harapan itu sangat realistis karena potensi dan sumber daya untuk itu sangat mendukung. Itulah sebuah refleksi khusus bagi GMKI di usianya yang ke-71 yang mengusung motto tinggi iman, tinggi ilmu dan tinggi pengabdian (Ut Omnes Unum Sint). Salam UOUS. Semoga!!!
====
Penulis adalah kader GMKI dan Pernah Korwil I Pengurus Pusat GMKI 2000-2002.
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto (minimal 700 px dalam format JPEG), data diri singkat/profesi/kegiatan (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Gunakan kalimat-kalimat yang singkat (3-5 kalimat setiap paragraf). Judul artikel dibuat menjadi subjek email. Tulisan TIDAK DIKIRIM DALAM BENTUK LAMPIRAN EMAIL, namun langsung dimuat di BADAN EMAIL. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]

