| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

Memahami partai politik tidak segampang membalik telapak tangan. Butuh penelusuran yang konprehensip, rinci dan detail untuk mengurai visi misi partai. Tidak semua partai politik konsisten dalam menjalankan ideologinya. Sebagian partai politik hanya mengukuhkan partainya lolos pada perhelatan kompetisi elektoral.
Partai politik adalah institusi untuk menyatukan rakyat dalam rangka menjalankan kekuasaan negara. Hampir seluruh partai politik kekuataannya ada pada rekrutmen massa loyal, terukur dan terarah guna merekrut anggota sebanyak-banyaknya. Yang membedakannya adalah misi akhir perekrutan anggota.
Pendirian partai politik terbagi kepada tiga kelompok. Pertama, berdiri karena memperkuat basis massa sebuah negara untuk membubarkan/mengalahkan rezim tertentu. Kedua, berdiri karena ingin menguasai negara dan pemerintahan yang sedang berkuasa. Sedangkan ketiga, partai politik berdiri karena ingin memenangi elekoral sekaligus menguatkan ideologi partainya setelah berkuasa.
Tiga model pendirian partai politik yang disebutkan di atas, secara geo-politik berkembang di sejumlah negara tanpa terkecuali di Indonesia. Partai politik yang berusaha menggunakan maksud-maksud politik yang sah untuk mengejar misi partainya, acapkali mendapatkan dukungan dari rakyat. Partai politik sengaja ditampilkan untuk melawan sebuah rezim, kader-kadernya disebar di lapangan untuk melakukan propaganda politik terhadap rezim yang ada. Rezim yang berkuasa dianggap tak mampu menjalankan pemerinahan, setiap kebijakan yang dikeluarkan tetap salah. Rakyat menilai pemerintahan yang sedang berkuasan dikampanye sebagai pemerintahan yang gagal.
Kemudian muncullah partai politik yang mengedepankan term-term kerakyatan, seakan kepentingannya membela rakyat bahkan justru mengusung ideologi tertentu. Namun setelah berkuasa term kerakyatan dan ideologi itu tidak berjalan optimal. Begitulah salah satu cara partai politik merebut simpati rakyat untuk menguasai sebuah negara. Biasanya, partai politik seperti itu menampilkan figur yang kuat dan memiliki gaya kepemimpinan yang peduli dengan rakyat. Di balik kendaraan politiknya melalui partai partai itu sosok figur dipilih rakyat.
Alan Ware (1987) dalam bukunya “Political Parties and Party System” mengungkap di Negara-negara komtemporer, politik selalu berkaitan dengan politik tanpa partai. Partai secara legal tidak dibentuk, tetapi diawali dengan organisasi, setelah organisasi berkembang dan memiliki massa yang cukup barulah ideologi dikuatkan. Bagi Alan Ware, ada dua bentuk negara yang tidak memiliki partai. Pertama, masyarakat tradisional di kawasan Teluk Persia yang masih dipimpin oleh keluarga. Bahkan negaranya juga belum sepenuhnya merdeka. Kedua, rezim yang melarang partai atau aktivitas partai. Artinya, rezim seperti ini hanya dikuasai militer, perkembangan partai politik dibatasi yang kelompok militernya lebih dominan dalam menguasai Negara.
Partai Ideologi
Ada dua pendekatan mengapa partai politik memiliki ideologi. Pertama karena ada kompetisi antar partai politik di sebuah negara. Partai politik satu dengan yang lainnya, secara politik harus berbeda misi, sehingga memiliki perbedaan, ia harus tampil berbeda. Atas dasar itulah, pemilih mengambil sikap memilih partai politik yang tepat menjadi pilihannya. Kedua, membedakan ciri khas dari gerakan partainya. Banyak partai politik berbasis ideologi, dan tidak memiliki kelebihan politiknya. Ciri khas ideologi inilah sebagai penyokong sekaligus memperkuat bargaining posisition partai politik itu.
BACA JUGA: Jokowi End Game
Ideologi partai politik yang konsisten seperti ini, biasanya tidak mudah ditinggalkan kader dan pendukungnya. Partai politik ini misalnya, jika dikaitkan dengan model partai politik di Indonesia berada di PDIP, PKS, PAN, PKB, PPP, Partai Golkar, Demokrat dan Gerindra. Tetapi jika ditelusuri lebih detail, dari sekian banyak partai politik dan menyatakan dirinya partai beriodeologi, hanya dua partai yang tampak konsisten di permukaan, yakni PDIP dan PKS. Meski massa pemilih dua partai politik ini keluar masuk dan berganti setiap pemilu berlangsung, tetapi PDIP dan PKS adalah partai politik yang disegani ketika berada di pemerintahan.
Paling tidak dalam implementasi wakilnya di parlemen dan pemerintahan, PDIP sangat konsisten dengan sebutan partai nasionalis. Ini membuktikan bahwa PDIP benar-benar masih dipilih kelompok nasionalis. Hampir semua kelompok nasional bahkan di luar muslim memilih PDIP. Pemilih di luar Muslim, mayoritas masih meyakini bahwa pilihan politiknya mereka jatuhnya kepada PDIP. Setidaknya, pemilih PDIP persentasenya di atas rata-rata partai politik yang mengendors ideologi nasionalis.
Selanjutnya PKS. Partai ini justru mengukuhkan dirinya sebagai partai politik yang konsisten dengan misi dakwahnya. PKS pernah menyatakan dirinya sebagai partai politik terbuka, tetapi hal itu hanya tampilan depan saja. Substansinya, PKS dalam menjalankan misi partainya tetap konsisten mengusung ideologi Islam dan membela kepentingan pilitiknya terhadap kepentingan pemilih Islam.
Jika partai politik ingin mendapatkan hati di pemilihnya, maka tempatkanlah posisi ideologi menjadi prioritas utama dalam pengembangan dan rekturmen anggota. Banyak partai politik gulung tikar di Indonesia akibat tidak mampu mempertahankan ideologinya. Akhirnya partai politik itu bubar karena tidak mendapatkan suara dari pemilihnya. Pemilih meninggalkan partai politik tersebut karena konsistensi yang kabur alias tidak jelas.
====
Penulis Dosen Komunikasi Politik UINSU dan Dosen Pascasarjana UMSU Medan.
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto (minimal 700 px dalam format JPEG), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Tulisan sebaiknya tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]

