| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

ERA digital yang terus berkembang pesat, membuat tataran kehidupan ikut bertransformasi secara signifikan. Transformasi ini memberi dan memperkenalkan berbagai tantangan dan peluang baru dalam dunia bisnis, mengubah cara manusia dalam berkomunikasi dan berinteraksi dalam menjalankan bisnis. Perubahan ini mempengaruhi berbagai strategi dan inovasi
Hal ini membuat pelaku bisnis harus berinteraksi dengan para pelanggannya melalui cara yang berbeda. Pelaku bisnis mau tidak mau harus mengintegrasikan teknologi yang kekinian agar dapat bersaing. Dan pada akhirnya perkembangan ini menciptakan sebuah strategi negosiasi baru.
Dalam dunia bisnis, negosiasi merupakan inti keberlangsungan bisnis di berbagai jenjang usaha mulai dari UMKM hingga usaha besar. Berdasarkan data dari Kominfo.go.id yang dipublikasikan tahun 2022, jumlah pelaku UMKM yang sudah go online berjumlah 21 juta. Hal ini membuat sistem negosiasi berbasis digital tidak dapat dihindarkan.
Kebutuhan akan fleksibilitas dan responsivitas menjadi salah satu faktor dalam strategi negosiasi karena melibatkan keterampilan komunikasi interpersonal untuk mencapai kesepakatan yang adil bagi semua pihak yang terlibat.
Hal ini pun melibatkan prosestawar-menawar dan pertukaran nilai antara pihak-pihak yang terlibat dalam upaya untuk mencapai tujuan bersama (Melinda, 2024:135)
Kelihaian dalam bernegosiasi tentunya tidak hanya bertujuan untuk mencapai keuntungan finansial semata bagi perusahaan melainkan juga membangun hubungan yang berkelanjutan antara pelaku bisnis dengan pelanggan. Hubungan ini bertujuan untuk memperpanjang siklus hidup suatu produk yang dikeluarkan perusahaan.
Mindset Kompetitif
Salah satu aspek kunci dalam negosiasi adalah keterampilan komunikasi yang efektif. Kemampuan untuk menyampaikan gagasan secara jelas, mendengarkan dengan empati, dan merespons dengan bijaksana merupakan faktor penentu keberhasilan untuk mencapai kesepakatan.
Komunikasi yang efektif memungkinkan pihak-pihak yang terlibat untuk saling memahami kebutuhan dan kepentingan masing-masing, sehingga dapat mencapai kesepakatan yang berkelanjutan.
Namun pada kenyataannya, tidak semua bisa mengamplikasikan komunikasi yang efektif dalam kehidupan sehari-hari bahkan dalam dunia bisnis sekalipun.
Robbin, SP (2002:17) menjelaskan bahwa komunikasi yang efektif seringkali sulit dicapai meskipun berada dalam kondisi terbaik. Ketidakmampuan dalam mengomunikasikan bisnis terutama dalam menarik pelanggan menjadi salah satu hambatan terbesar dalam melakukan negosiasi.
Selain itu, keberadaan mindset kompetitif untuk mengalahkan lawan negosiasi juga menjadi hambatan. Kesannya seperti pertarungan, di mana yang manawar lebih banyak akan keluar sebagai pemenang. Akibatnya adalah proses negosiasi tidak akan berjalan sesuai harapan, melainkan akan pupus dan tidak akan menghasilkan apapun.
Perkembangan digital yang semakin komplek, semakin memperumit individu dalam menerapkan komunikasi yang efektif. Di mana setiap individu tidak lagi berkomunikasi secara face to face melainkan sudah berkomunikasi melalui jaringan yang disebut sebagai komunikasi virtual.
Teknologi telah memungkinkan kita untuk melakukan negosiasi melalui berbagai platform seperti email atau aplikasi pesan instan.
Namun, komunikasi virtual juga memperkenalkan tantangan baru, seperti kurangnya ekspresi non-verbal dan kesulitan dalam membaca emosi. Maka kemampuan untuk mengatasi hambatan ini dan menyampaikan pesan dengan jelas dan persuasif melalui media digital menjadi kunci untuk mencapai kesepakatan yang sukses dalam melakukan negosiasi secara digital.
Win to Win Solution
Di era digital, berbagai alat dan platform digital tersedia untuk mendukung proses negosiasi. Mulai dari perangkat lunak manajemen hubungan pelanggan (CRM) hingga platform kolaborasi online, perusahaan memiliki banyak pilihan untuk memilih alat yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Fleksibilitas dalam menggunakan teknologi dan kemampuan untuk mengintegrasikan berbagai alat ini dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam proses negosiasi.
Salah satu kekuatan utama dari era digital adalah kemampuan untuk mengumpulkan, menyimpan, dan menganalisis data dengan skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Dalam konteks negosiasi bisnis, analisis data dapat memberikan wawasan yang berharga tentang perilaku pelanggan, tren pasar, dan strategi pesaing. Dengan memanfaatkan analisis data dengan bijak, perusahaan dapat membuat keputusan yang lebih cerdas dan merencanakan strategi negosiasi yang lebih terarah.
Di tengah semua kemudahan yang ditawarkan di era digital, menjaga etika dan integritas tetap menjadi prioritas utama dalam negosiasi bisnis.
Dalam komunikasi virtual yang seringkali impersonal, risiko untuk terlibat dalam praktik-praktik yang tidak etis atau tidak jujur dapat meningkat. Oleh karena itu, penting bagi perusahaan dan individu untuk tetap memegang teguh nilai-nilai integritas dalam setiap interaksi bisnis.
Pasar digital tidak selamanya statis, bahkan akan sering berubah seiring munculnya berbagai tren yang muncul dan hilang dalam waktu yang singkat. Menghadapi ini tentunya perusahaan perlu memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan pasar dan meresponnya dengan strategi negosiasi yang sesuai.
Mindset negosiasi ialah tentang win win solution, bukan dalam arti bahwa perusahaan kita harus menang. Negosiasi itu bukan soal menang atau kalah, melainkan seimbang. Seperti layaknya timbangan yang berada di garis horizontal. Seimbang di sini tentunya sesuai dengan harapan kita tapi bukan merugikan lawan negosiasi.
Negosiasi bisnis di era digital juga menuntut adaptasi dan inovasi. Dengan memahami perubahan dalam berkomunikasi, mengakses informasi, menggunakan teknologi, dan menerapkan etika dalam negosiasi, perusahaan dapat memanfaatkan era digital untuk mencapai kesuksesan bisnis yang berkelanjutan.
Kemampuan untuk beradaptasi dengan cepat, menggunakan alat dan data dengan bijak, dan tetap menjaga integritas dalam setiap interaksi menjadi kunci untuk berhasilnya negosiasi di era digital.
====
Penulis mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) jurusan Manajemen Universitas Katolik Santo Thomas Medan.
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain, disertai dengan lampiran identitas (KTP/SIM), foto (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]

