| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

BENCANA alam berupa banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh dan Sumatera pada 26 November 2025 bukan sekadar peristiwa ekologis. Ia adalah tragedi kemanusiaan yang mengguncang sendi sosial, psikologis, bahkan spiritual masyarakat. Dalam situasi seperti ini, kita diingatkan bahwa bencana tidak hanya meruntuhkan rumah dan infrastruktur, tetapi juga menguji nilai-nilai kemanusiaan.
Selama ini, pendidikan kebencanaan di Indonesia cenderung menitikberatkan aspek teknis: jalur evakuasi, mitigasi struktural, simulasi penyelamatan, dan pemetaan risiko. Semua itu penting, tetapi belum cukup. Dimensi yang kerap terabaikan adalah aspek kemanusiaan—bagaimana membangun empati, solidaritas sosial, ketangguhan batin, serta tanggung jawab moral terhadap sesama.
Dalam perspektif Islam, pendidikan tidak semata bertujuan mencerdaskan akal, tetapi juga membentuk akhlak dan memanusiakan manusia. Di sinilah pendidikan mitigasi kemanusiaan menemukan kebaruannya (novelty): bukan hanya melatih keterampilan bertahan hidup, melainkan membentuk pribadi yang peduli, tangguh, dan bertanggung jawab secara sosial dan spiritual.
Integrasi Iman, Ilmu, dan Aksi Kemanusiaan
Nilai utama pendidikan mitigasi kemanusiaan dalam Islam terletak pada integrasi iman, ilmu, dan aksi. Dalam Islam, ilmu tidak pernah netral nilai. Setiap pengetahuan diarahkan untuk kemaslahatan. Mitigasi bencana bukan sekadar prosedur keselamatan, melainkan amanah moral.
Allah SWT berfirman: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa” (QS. Al-Ma’idah: 2)
Ayat ini menjadi fondasi etik pendidikan mitigasi kemanusiaan. Menolong korban, menguatkan yang lemah, serta menjaga lingkungan hidup adalah perintah spiritual. Pendidikan yang hanya mengajarkan cara menyelamatkan diri, tanpa menanamkan kepedulian menyelamatkan orang lain, adalah pendidikan yang belum utuh.
Berbeda dengan pendekatan sekuler yang kerap memisahkan sains dari moral, Islam memadukan keduanya. Ketika peserta didik mempelajari bencana, mereka tidak hanya memahami sebab geologis dan hidrologis, tetapi juga diajak merenungi tanggung jawab manusia terhadap alam dan sesama.
Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” ((HR Ahmad)
Hadis ini menegaskan bahwa kebermanfaatan sosial adalah inti kemanusiaan. Karena itu, pendidikan mitigasi dalam Islam tidak berhenti pada kesiapsiagaan individual, tetapi menumbuhkan kesadaran kolektif.
Dari Respons Darurat ke Pembentukan Karakter
Kebaruan berikutnya terletak pada pergeseran paradigma dari respons darurat menuju pembentukan karakter jangka panjang. Banyak sistem pendidikan baru membicarakan bencana setelah tragedi terjadi. Sebaliknya, pendidikan mitigasi kemanusiaan dalam Islam menanamkan kesiapsiagaan sejak dini sebagai bagian dari pembentukan akhlak.
Rasulullah SAW bersabda: “Ikatlah untamu, lalu bertawakallah” ((HR Tirmidzi)
Hadis ini menegaskan bahwa tawakal bukan sikap pasrah tanpa usaha. Dalam konteks pendidikan, kesiapsiagaan adalah bagian dari iman, bukan tanda lemahnya keyakinan. Mengantisipasi bencana adalah ibadah, bukan bentuk ketakutan berlebihan.
Pendidikan Islam yang humanistik meluruskan pemahaman fatalistik tentang takdir. Takdir tidak meniadakan ikhtiar; justru ikhtiar adalah bagian dari takdir itu sendiri.
Pendidikan mitigasi kemanusiaan membentuk karakter: peduli pada penderitaan orang lain, siap membantu, tangguh menghadapi kehilangan, serta tidak mudah putus asa. Nilai-nilai inilah yang membedakan pendidikan mitigasi berbasis nilai dengan pendekatan teknokratis semata.
Spiritualitas sebagai Sumber Ketangguhan
Kebaruan lain terletak pada pengakuan terhadap spiritualitas sebagai sumber utama ketangguhan psikososial. Banyak pendekatan modern menekankan aspek psikologis, namun kerap mengabaikan kekuatan spiritual sebagai penyangga manusia saat menghadapi kehilangan.
Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” ((QS. Al-Insyirah: 6)
Ayat ini menjadi fondasi mental bahwa penderitaan bukan akhir segalanya, melainkan bagian dari perjalanan hidup yang bermakna. Pendidikan mitigasi kemanusiaan berbasis Islam membekali peserta didik dengan nilai sabar, tawakal, dan harapan.
Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur. Jika ditimpa kesusahan, ia bersabar” (HR. Muslim)
Pendidikan mitigasi kemanusiaan tidak hanya mengajarkan cara menghindari bahaya, tetapi juga bagaimana bangkit setelah jatuh.
Pendidikan dan Solidaritas Sosial
Nilai kebaruan terakhir adalah penegasan pendidikan sebagai ruang pembentukan solidaritas sosial. Dalam Islam, manusia tidak dipandang sebagai individu terisolasi. Umat adalah satu tubuh.
Rasulullah SAW bersabda: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam cinta dan kepedulian seperti satu tubuh” (HR. Muslim)
BACA JUGA: Sumpah Pemuda dan Pemikiran 3 Tokoh Besar
Bencana tidak bisa dihadapi sendirian. Yang dibutuhkan adalah kerja kolektif dan solidaritas. Pendidikan Islam menempatkan gotong royong sebagai bagian dari ibadah.
Allah SWT berfirman: “Barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan ia telah memelihara kehidupan manusia seluruhnya” ((QS. Al-Ma’idah: 32)
Pendidikan tidak lagi sebatas angka rapor, tetapi tentang nilai kemanusiaan. Sekolah, pesantren, dan madrasah harus menjadi ruang pembelajaran empati dan solidaritas.
Bencana mungkin tidak dapat sepenuhnya dihindari, tetapi kehancuran kemanusiaan bisa dicegah. Di sinilah pendidikan harus hadir—bukan hanya sebagai pemberi pengetahuan, tetapi sebagai penanam nilai.
Wallahu muwaffiq ila aqwamith thariq
====
Penulis Mahasiswa S3 UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Mantan Ketua Ansor Pidie Jaya
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email, disertai dengan lampiran KARTU IDENTITAS (KTP/SIM/DLL), FOTO (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), DATA DIRI SINGKAT (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 5.500-6.500 karakter. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Tidak ada korespondensi terkait layak atau tidaknya tulisan Anda diterbitkan. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com

