| Login • Lupa Password | Daftar segera dan nikmati pemasangan iklan baris secara gratis! |

FAKTUALISASI hari ini menunjukkan menggeliatnya tuntutan dalam menghadapi tantangan sekaligus peluang besar untuk dapat menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika ekonomi global yang kompleks. Terjadinya fluktuasi nilai tukar, ketidakpastian geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga perubahan pola investasi global menuntut negara untuk terus mencari sumber-sumber devisa baru yang berkelanjutan.
Selama beberapa dekade, devisa Indonesia sangat bergantung pada ekspor komoditas primer seperti minyak sawit, batu bara, gas alam, dan berbagai produk pertambangan.
Ketergantungan terhadap komoditas sering kali membuat penerimaan devisa nasional rentan terhadap fluktuasi harga global. Pengalaman krisis ekonomi Asia tahun 1997–1998 menunjukkan bagaimana tekanan terhadap nilai tukar dapat dengan cepat memengaruhi stabilitas ekonomi nasional ketika struktur ekonomi belum memiliki diversifikasi sumber devisa yang kuat (Hill, 2000). Dalam situasi ini, pengembangan sektor jasa keuangan syariah menjadi salah satu alternatif strategis untuk memperluas basis penerimaan devisa.
Pada Juni 2026, Indonesia menghadapi tekanan nilai tukar yang cukup serius. Rupiah sempat menyentuh kisaran Rp18.000 hingga Rp18.190 per dolar Amerika Serikat, mendorong Bank Indonesia mengambil langkah luar biasa melalui kenaikan suku bunga acuan guna menjaga stabilitas pasar keuangan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan devisa dan ketahanan eksternal ekonomi Indonesia kembali menjadi isu strategis nasional.
Dalam konteks ini, sumber devisa nasional tidak lagi bergantung pada ekspor komoditas semata. Indonesia sejatinya juga memerlukan diversifikasi sumber devisa yang lebih berkelanjutan, inklusif, dan berbasis ekonomi domestik.
Devisa dan Kerentanan Ekonomi Indonesia
Secara historis, struktur devisa Indonesia sangat dipengaruhi oleh ekspor sumber daya alam seperti minyak, gas, batu bara, kelapa sawit, dan mineral. Ketika harga komoditas global melemah atau terjadi gejolak pasar internasional, penerimaan devisa ikut terpengaruh.
Douglas North menjelaskan bahwa ketahanan ekonomi suatu negara dipengaruhi oleh kemampuan institusinya dalam menciptakan mekanisme yang mampu mengurangi ketidakpastian ekonomi (North, 1990).
Pelemahan rupiah pada Juni 2026 memperlihatkan ketergantungan terhadap aliran modal jangka pendek dan ekspor komoditas masih menjadi tantangan besar.
Arus keluar modal asing, tekanan geopolitik global, serta meningkatnya kebutuhan dolar menyebabkan nilai tukar mengalami tekanan berkepanjangan. Karena itu, Indonesia memerlukan strategi baru yang mampu menciptakan sumber devisa yang lebih stabil dan berkelanjutan.
Data menunjukkan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan tulang punggung ekonomi Indonesia. Akan tetapi, kontribusi UMKM terhadap ekspor nasional masih relatif lebih rendah dibandingkan negara-negara maju di Asia Timur.
Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan akses pembiayaan, jaringan perdagangan internasional, dan layanan transaksi lintas negara.
Melalui produk pembiayaan syariah yang lebih adaptif terhadap karakteristik usaha kecil, BSI memiliki peluang untuk memperkuat kapasitas ekspor UMKM sehingga menghasilkan sumber devisa baru yang lebih beragam.
Selain sektor perdagangan, potensi devisa juga dapat diperoleh melalui pengembangan industri haji dan umrah. Setiap tahun jutaan warga Indonesia melakukan perjalanan ke Arab Saudi untuk menunaikan ibadah haji dan umrah.
Aktivitas ekonomi yang menyertai perjalanan tersebut sangat besar, mulai dari tabungan haji, layanan pembayaran internasional, remitansi, hingga investasi syariah.
Sebagai lembaga yang memiliki basis nasabah Muslim terbesar di Indonesia, BSI memiliki posisi strategis untuk mengintegrasikan ekosistem ekonomi haji dan umrah yang lebih efisien.
Dalam perspektif ekonomi sejarah, hubungan lembaga keuangan dan perdagangan internasional telah berlangsung sejak berabad-abad lalu.
Sejarawan ekonomi Fernand Braudel (1982) dalam tulisannya *Civilization and Capitalism: The Wheels of Commerce* menjelaskan bahwa perkembangan pusat-pusat perdagangan dunia selalu diikuti kemunculan institusi keuangan yang mampu mendukung mobilitas modal dan transaksi lintas wilayah (Braudel, 1982, hlm. 231–245).
Kota-kota perdagangan global seperti Venesia, Amsterdam, dan London berkembang menjadi pusat ekonomi dunia karena berhasil mengintegrasikan perdagangan dengan inovasi keuangan.
Secara sederhana, ada kebutuhan fundamental dalam setiap zaman untuk melakukan transformasi besar dalam mendukung integrasi jalur kepentingan bisnis dan ekonomi secara luas dan komprehensif.
BSI sebagai Poros Kepercayaan
BSI sebagai bank syariah terbesar Indonesia memiliki posisi penting dalam membangun konektivitas ekonomi Indonesia dengan dunia Islam global yang mencakup kawasan Timur Tengah, Asia Selatan, Afrika Utara, hingga negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).
Salah satu peluang terbesar BSI dalam menghasilkan devisa berasal dari pengembangan industri halal global. Berdasarkan laporan *State of the Global Islamic Economy*, nilai ekonomi halal dunia telah mencapai triliunan dolar Amerika Serikat setiap tahunnya.
Konsumsi masyarakat muslim global mencakup sektor makanan halal, farmasi, kosmetik, fesyen muslim, pariwisata halal, hingga jasa keuangan syariah. Indonesia sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia memiliki potensi besar untuk menjadi pusat ekonomi halal global.
Namun, potensi ini tidak akan berkembang optimal tanpa dukungan lembaga keuangan yang menyediakan pembiayaan, transaksi lintas negara, serta integrasi pasar internasional.
Di sinilah peran BSI menjadi penting. Melalui berbagai instrumen syariah, BSI dapat membantu pelaku usaha halal Indonesia menembus pasar global sehingga meningkatkan ekspor dan pada akhirnya memperbesar penerimaan devisa negara.
Perspektif ekonomi pembangunan juga menunjukkan bahwa sektor keuangan memiliki fungsi strategis dalam proses transformasi struktural.
Joseph E Stiglitz dalam tulisannya *Globalization and Its Discontents* (2002) menjelaskan bahwa sistem keuangan yang inklusif dan efisien mampu mempercepat alokasi modal menuju sektor-sektor produktif yang memiliki daya saing internasional (Stiglitz, 2002, hlm. 54–59).
Dalam konteks Indonesia, peran bank syariah seperti BSI sesungguhnya dapat menjadi katalis pembiayaan bagi UMKM ekspor berbasis halal yang selama ini masih menghadapi berbagai keterbatasan akses pembiayaan.
Pelajaran sejarah tersebut relevan bagi Indonesia saat ini. Jika Indonesia ingin menjadi pusat ekonomi syariah dunia, maka keberadaan BSI harus diposisikan sebagai infrastruktur ekonomi strategis yang menghubungkan pasar domestik dengan jaringan ekonomi Islam global.
Dengan kata lain, transformasi sumber devisa nasional tidak hanya bergantung pada ekspor barang, tetapi juga pada ekspor jasa keuangan dan layanan ekonomi berbasis syariah.
Peluang berikutnya adalah pengembangan investasi internasional berbasis syariah. Kawasan Timur Tengah memiliki dana investasi yang sangat besar melalui berbagai *sovereign wealth fund* dan lembaga investasi syariah. Indonesia membutuhkan institusi yang mampu menjadi mitra strategis dalam menghubungkan kebutuhan investasi global dengan proyek pembangunan nasional.
BSI dapat memainkan peran sebagai fasilitator investasi, penyedia layanan transaksi syariah, sekaligus penghubung investor internasional dan sektor-sektor produktif domestik.
Pelemahan rupiah pada Juni 2026 juga menunjukkan pentingnya diversifikasi sumber investasi asing. Selama ini Indonesia sangat bergantung pada investasi dari negara-negara Barat dan Asia Timur.
Padahal kawasan Timur Tengah memiliki likuiditas investasi yang sangat besar melalui *sovereign wealth fund* dan berbagai lembaga investasi syariah. Sebagai bank syariah terbesar di Indonesia, BSI memiliki posisi unik untuk menjadi jembatan investasi antara Indonesia dan negara-negara Teluk.
Dana investasi yang masuk melalui instrumen syariah dapat digunakan untuk pembangunan infrastruktur, hilirisasi industri, energi terbarukan, kawasan industri halal, dan ekonomi digital. Masuknya investasi semacam ini akan memperkuat neraca modal Indonesia sekaligus meningkatkan cadangan devisa.
Transformasi ekonomi global saat ini bergerak menuju ekonomi digital. Dalam kerangka ini, BSI tidak cukup hanya menjadi bank konvensional yang berlabel syariah. BSI harus berevolusi menjadi platform ekonomi syariah digital.
Pelemahan rupiah pada Juni 2026 seharusnya tidak hanya dipahami sebagai ancaman. Dalam perspektif sejarah ekonomi, krisis sering kali menjadi momentum transformasi kelembagaan.
BACA JUGA: Pelemahan Rupiah dalam Perspektif Sejarah Ekonomi Indonesia
Pengalaman Korea Selatan pascakrisis Asia 1997 menunjukkan bahwa tekanan eksternal justru mendorong lahirnya reformasi ekonomi yang menghasilkan daya saing baru.
Indonesia memiliki peluang serupa. Ketika devisa dari komoditas menghadapi volatilitas tinggi, maka keberadaan sumber devisa berbasis ekonomi syariah akan menjadi alternatif yang lebih berkelanjutan. Hal semacam ini jelas mendukung kestabilan jangka panjang ketahanan ekonomi Indonesia.
==
Penulis Analis, Konsultan dan Kandidat Doktor Universitas Indonesia, Anggota Pengurus Cabang Muhammadiyah Yogyakarta
====
medanbisnisdaily.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan hendaknya ORISINAL, belum pernah dimuat dan TIDAK DIKIRIM ke media lain. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email, disertai dengan lampiran KARTU IDENTITAS (KTP/SIM/DLL), FOTO (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), DATA DIRI SINGKAT (dicantumkan di akhir tulisan), nama akun FB dan No HP/WA. Panjang tulisan 5.500-6.500 karakter. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan Anda ke: [email protected]. Tidak ada korespondensi terkait layak atau tidaknya tulisan Anda diterbitkan. Silahkan bergabung di Halaman FB MedanBisnis Daily atau grup FB medanbisnisdaily.com untuk mengetahui artikel-artikel yang ditayangkan atau kunjungi website: medanbisnisdaily.com

